Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Perparah Risiko Longsor, AI Bantu Minimalisir Korban

Kompas.com, 24 April 2026, 13:05 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim memperparah risiko bencana longsor, dengan curah hujan tinggi dalam waktu lama membuat tanah jenuh air dan melemahkan lereng hingga tidak lagi mampu menahan beban.

Namun, kemajuan teknologi terbaru dapat membantu dalam meminimalisir risiko longsor dengan memberikan informasi bagi perencanan penanggulangan bencana.

Dalam merespons potensi bencana, dibutuhkan gambaran lebih jelas secara nasional tentang potensi titik rawan longsor yang dipicu curah hujan saat ini dan dekade mendatang. Dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligent / AI), para ilmuwan sekarang sudah bisa mengurai dinamika dan kompleksitas yang berkontribusi dalam tanah longsor.

Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI

AI membantu para ilmuwan memperjelas gambaran dengan menganalisis lokasi terjadinya tanah longsor di masa lalu beserta kondisi lingkungan yang mendasari peningkatan kerentanannya. Apalagi, kumpulan data yang dibutuhkan saat ini sudah tersedia secara luas berkat pertumbuhan pesat citra satelit dan berbagai produk turunannya.

Bahkan, teknologi ini mempermudah pemetaan topografi, tutupan dan penggunaan lahan secara luas, serta kerusakan pasca kejadian longsor, dengan mengukur kondisi lingkungan yang mendasarinya.

Kemudian, algoritma pembelajaran mesin pada AI mempelajari hubungan antara berbagai kumpulan data tersebut. Hasilnya akan dimanfaatkan para ilmuwan untuk membangun model dalam mengantisipasi tanah longsor yang dipicu curah hujan.

Pengembangan model melalui kombinasi dengan prakiraan curah hujan menghasilkan peta bahaya tanah longsor sesuai permintaan, atau digunakan untuk menilai kerentanan suatu wilayah di bawah berbagai skenario iklim.

"Penelitian saya saat ini menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut untuk mengkaji bagaimana curah hujan ekstrem berinteraksi dengan lereng-lereng di Selandia Baru saat ini, dan bagaimana hubungan tersebut dapat berubah di bawah krisis iklim," ujar Senior Research Fellow, Antarctic Research Centre, Te Herenga Waka — Victoria University of Wellington, Oliver Wigmore, dilansir dari The Conversation, Jumat (24/4/2026).

Temuan awal dari penelitian ini mengungkapkan, wilayah rentan tanah longsor di Selandia Baru akan meluas seiring peningkatan curah hujan dalam skenario iklim dengan emisi gas rumah kaca (GRK) yang lebih tinggi.

Prediksi tanah longsor

Krisis iklim menyebabkan tanah longsor akan semakin sering terjadi dan kemampuan memprediksi potensi bencana hidrometeorologi ini dapat mencegahnya merenggut lebih banyak nyawa setiap tahunnya.

Perkembangan AI telah memungkinkan untuk memprediksi kapan dan di mana tanah longsor akan terjadi, yang sebelumnya dianggap sangatlah sulit. AI dapat membantu para ahli geologi mengidentifikasi ribuan lereng di seluruh dunia yang berisiko tinggi longsor.

Baca juga: Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat

Kendati tampak seperti bencana mendadak yang mustahil diprediksi, data citra satelit dapat mengungkap tanda-tanda tidak 'terbaca' sebelumnya tentang pergerakan tanah. Dengan bantuan AI, data citra satelit tersebut bisa menyingkap pertanda dari pergerakan tanah dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan tahun sebelum terjadi longsor.

"Menganalisisnya (kumpulan data besar citra satelit) secara manual akan 'di luar kemampuan manusia'. Untungnya, bentuk-bentuk AI yang sudah mapan seperti pembelajaran mesin dapat melakukan pekerjaan ini," tutur seorang ahli matematika di Universitas Melbourne, Antoinette Tordesillas, dilansir dari BBC.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau