KOMPAS.com - Cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim memperparah risiko bencana longsor, dengan curah hujan tinggi dalam waktu lama membuat tanah jenuh air dan melemahkan lereng hingga tidak lagi mampu menahan beban.
Namun, kemajuan teknologi terbaru dapat membantu dalam meminimalisir risiko longsor dengan memberikan informasi bagi perencanan penanggulangan bencana.
Dalam merespons potensi bencana, dibutuhkan gambaran lebih jelas secara nasional tentang potensi titik rawan longsor yang dipicu curah hujan saat ini dan dekade mendatang. Dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligent / AI), para ilmuwan sekarang sudah bisa mengurai dinamika dan kompleksitas yang berkontribusi dalam tanah longsor.
Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
AI membantu para ilmuwan memperjelas gambaran dengan menganalisis lokasi terjadinya tanah longsor di masa lalu beserta kondisi lingkungan yang mendasari peningkatan kerentanannya. Apalagi, kumpulan data yang dibutuhkan saat ini sudah tersedia secara luas berkat pertumbuhan pesat citra satelit dan berbagai produk turunannya.
Bahkan, teknologi ini mempermudah pemetaan topografi, tutupan dan penggunaan lahan secara luas, serta kerusakan pasca kejadian longsor, dengan mengukur kondisi lingkungan yang mendasarinya.
Kemudian, algoritma pembelajaran mesin pada AI mempelajari hubungan antara berbagai kumpulan data tersebut. Hasilnya akan dimanfaatkan para ilmuwan untuk membangun model dalam mengantisipasi tanah longsor yang dipicu curah hujan.
Pengembangan model melalui kombinasi dengan prakiraan curah hujan menghasilkan peta bahaya tanah longsor sesuai permintaan, atau digunakan untuk menilai kerentanan suatu wilayah di bawah berbagai skenario iklim.
"Penelitian saya saat ini menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut untuk mengkaji bagaimana curah hujan ekstrem berinteraksi dengan lereng-lereng di Selandia Baru saat ini, dan bagaimana hubungan tersebut dapat berubah di bawah krisis iklim," ujar Senior Research Fellow, Antarctic Research Centre, Te Herenga Waka — Victoria University of Wellington, Oliver Wigmore, dilansir dari The Conversation, Jumat (24/4/2026).
Temuan awal dari penelitian ini mengungkapkan, wilayah rentan tanah longsor di Selandia Baru akan meluas seiring peningkatan curah hujan dalam skenario iklim dengan emisi gas rumah kaca (GRK) yang lebih tinggi.
Krisis iklim menyebabkan tanah longsor akan semakin sering terjadi dan kemampuan memprediksi potensi bencana hidrometeorologi ini dapat mencegahnya merenggut lebih banyak nyawa setiap tahunnya.
Perkembangan AI telah memungkinkan untuk memprediksi kapan dan di mana tanah longsor akan terjadi, yang sebelumnya dianggap sangatlah sulit. AI dapat membantu para ahli geologi mengidentifikasi ribuan lereng di seluruh dunia yang berisiko tinggi longsor.
Baca juga: Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Kendati tampak seperti bencana mendadak yang mustahil diprediksi, data citra satelit dapat mengungkap tanda-tanda tidak 'terbaca' sebelumnya tentang pergerakan tanah. Dengan bantuan AI, data citra satelit tersebut bisa menyingkap pertanda dari pergerakan tanah dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan tahun sebelum terjadi longsor.
"Menganalisisnya (kumpulan data besar citra satelit) secara manual akan 'di luar kemampuan manusia'. Untungnya, bentuk-bentuk AI yang sudah mapan seperti pembelajaran mesin dapat melakukan pekerjaan ini," tutur seorang ahli matematika di Universitas Melbourne, Antoinette Tordesillas, dilansir dari BBC.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya