Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketertelusuran akan Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Laporan ESG

Kompas.com, 7 April 2026, 16:12 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem ketertelusuran (traceability) diperkirakan akan menjadi elemen utama dalam laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) di masa depan, seiring penerapan regulasi Uni Eropa terkait produk bebas deforestasi atau *European Union Deforestation Regulation* (EUDR).

Regulasi tersebut menuntut komoditas ekspor, termasuk kelapa sawit, untuk dapat dibuktikan tidak berasal dari praktik deforestasi.

Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang mengandalkan sertifikasi, EUDR kini lebih menekankan pembuktian berbasis data, terutama melalui geolokasi.

CEO PT Agri Tekno Karya (HARA), Firnando Sirait, mengatakan perubahan ini menunjukkan bahwa sertifikat dan dokumen tidak lagi cukup untuk menjamin keberlanjutan suatu produk di pasar global.

“Mereka meminta unit terkecil dari informasi, yaitu geolocation. Sertifikat saja tidak lagi dianggap cukup tanpa bukti yang bisa diverifikasi,” ujar Firnando dalam diskusi komunitas ESG, Senin (6/4/2026).

Menurut dia, EUDR mendorong perubahan mendasar dalam pelaporan ESG, dari yang sebelumnya berbasis klaim menjadi berbasis bukti yang dapat ditelusuri dan diverifikasi.

Selama ini, banyak laporan ESG dinilai terlihat baik di atas kertas, tetapi tidak didukung data yang memadai untuk memastikan kebenarannya.

Tantangan Infrastruktur dan Data

Meski demikian, pengembangan sistem ketertelusuran di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait fragmentasi data dalam rantai pasok komoditas.

Kondisi ini menyebabkan inefisiensi serta ketidakselarasan insentif antar pelaku usaha, terutama pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Firnando menilai, persoalan tersebut tidak sepenuhnya bersifat teknis, melainkan juga terkait pemahaman ekosistem yang belum menyadari pentingnya ketertelusuran bagi keberlanjutan bisnis.

Ia mengingatkan, tanpa kepastian data dan legalitas lahan, petani berisiko kehilangan akses pasar dalam beberapa tahun ke depan.

“Kalau tidak bisa membuktikan asal-usul lahan, ke depan produk tersebut berpotensi tidak bisa lagi dijual,” ujarnya.

Soroti Lemahnya Verifikasi Produk

Selain itu, lemahnya sistem verifikasi dinilai menjadi salah satu faktor rendahnya kepercayaan terhadap komoditas ekspor Indonesia di pasar global.

Banyak produk dinilai belum memiliki data yang lengkap terkait asal-usul, waktu produksi, hingga catatan audit yang dapat diverifikasi secara independen.

Dalam konteks ESG, ketertelusuran juga tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup aspek sosial dan tata kelola, seperti identitas petani, kepemilikan lahan, transparansi transaksi, hingga sistem pengelolaan data.

Dengan demikian, penerapan EUDR dinilai tidak hanya berdampak pada perdagangan, tetapi juga mendorong perbaikan sistem pelaporan ESG serta tata kelola rantai pasok komoditas secara menyeluruh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
LSM/Figur
Pembiayaan Berkelanjutan DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun di 2025
Pembiayaan Berkelanjutan DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun di 2025
Swasta
Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis
Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis
Pemerintah
RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas
RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 477,87 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 477,87 Juta Dollar AS
BUMN
AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Pemerintah
Privy Soroti Pentingnya Digital Trust bagi Masa Depan Ekonomi Digital
Privy Soroti Pentingnya Digital Trust bagi Masa Depan Ekonomi Digital
Swasta
Bumi Makin Kritis, Pemimpin Asia Desak Tindakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup
Bumi Makin Kritis, Pemimpin Asia Desak Tindakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumut, IESR Desak Evaluasi Ketahanan Transmisi Nasional
Pemadaman Listrik Berulang di Sumut, IESR Desak Evaluasi Ketahanan Transmisi Nasional
Swasta
Lebih dari 2 Miliar Orang Hadapi Panas Ekstrem Tanpa Pendingin Ruangan
Lebih dari 2 Miliar Orang Hadapi Panas Ekstrem Tanpa Pendingin Ruangan
LSM/Figur
Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon
Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon
Pemerintah
Korsel Ubah Bekas Wadah Bekas Mi Instan jadi Bahan Baku Petrokimia
Korsel Ubah Bekas Wadah Bekas Mi Instan jadi Bahan Baku Petrokimia
Pemerintah
Mei 2026, Perusahaan Teknologi PHK Karyawannya Imbas Perkembangan AI
Mei 2026, Perusahaan Teknologi PHK Karyawannya Imbas Perkembangan AI
Swasta
KKP Gandeng Konservasi Indonesia untuk Perkuat Pendanaan Inovatif
KKP Gandeng Konservasi Indonesia untuk Perkuat Pendanaan Inovatif
Pemerintah
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau