Tempat-tempat ini juga melindungi hampir sepertiga dari sisa populasi hewan ikonik seperti gajah, harimau, dan panda, serta spesies yang sangat terancam punah seperti lumba-lumba vaquita, badak Jawa, dan iguana merah muda.
Baca juga: KKP Siapkan 17 Lokasi Karbon Biru, dari Pesisir Jawa hingga Situs Warisan Dunia
Selain menjaga keanekaragaman hayati, wilayah UNESCO berperan penting dalam menjaga stabilitas iklim dengan menyerap hampir 700 juta ton karbon dioksida setiap tahunnya.
Wilayah-wilayah ini menyimpan sekitar 240 gigaton karbon di dalam tanah dan sedimen. Hutan di sana berfungsi sebagai penyerap karbon utama di daratan, sementara ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun berfungsi menangkap "karbon biru".
Wilayah-wilayah tersebut juga menyokong kehidupan hampir 900 juta orang atau sekitar 10 persen dari penduduk dunia, serta menyumbang hampir 10 persen terhadap ekonomi global (PDB). Lebih dari separuh lokasi ini merupakan tujuan wisata utama yang menarik hampir 1,5 miliar pengunjung setiap tahunnya.
Tempat-tempat ini juga menjadi fondasi bagi sistem pertanian dan pangan dengan menyediakan air bersih, energi, dan bahan baku. Sebagai contoh, Cagar Biosfer Arganeraie di Maroko menggunakan sistem hutan tani (agroforestry) untuk mendukung produksi pangan dan lahan penggembalaan hewan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya