KOMPAS.com-Sebuah laporan baru menemukan bahwa hampir 90 persen wilayah yang ditetapkan oleh UNESCO saat ini sedang mengalami tekanan lingkungan yang sangat berat.
Laporan People and Nature dari UNESCO tersebut menyoroti meningkatnya tekanan dari aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim yang semakin parah di seluruh wilayah yang sangat penting bagi dunia ini.
Melansir Down to Earth, Selasa (21/4/2026) perubahan iklim telah menjadi penyebab utama kerentanan alam, di mana 98 persen lokasi UNESCO mengalami setidaknya satu kondisi iklim ekstrem sejak tahun 2000, seperti panas ekstrem, mencairnya gletser, meningkatnya kadar asam laut, dan bencana alam yang lebih sering terjadi.
Ancaman di situs UNESCO
Para penulis mencatat bahwa panas ekstrem adalah ancaman yang paling luas, diikuti oleh curah hujan yang sangat tinggi, naiknya permukaan air laut, dan pemutihan terumbu karang.
Baca juga: Restorasi Situs Warisan Dunia di Burkina Faso Terancam Perubahan Iklim
Tekanan lainnya mencakup kerusakan habitat, kekeringan, kebakaran hutan, polusi, masuknya spesies asing, krisis air, hingga tanah longsor.
Laporan tersebut menemukan bahwa kebakaran hutan kini telah menjadi penyebab utama rusaknya hutan di situs Warisan Dunia. Penyebab berikutnya adalah penebangan kayu, pembukaan lahan untuk pertanian permanen, serta pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, dan proyek energi.
Sejak tahun 2000, lebih dari 300.000 km persegi tutupan pohon telah hilang. Selain itu, spesies asing yang merusak ekosistem asli telah tercatat ditemukan di lebih dari 80 persen wilayah yang ditetapkan UNESCO.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa dengan meningkatnya risiko dan gangguan manusia, lebih dari seperempat wilayah UNESCO bisa mencapai titik kritis pada tahun 2050, yang beberapa di antaranya mungkin tidak akan pernah bisa pulih kembali.
Lebih lanjut, salah satu risiko yang paling mengkhawatirkan adalah potensi hancurnya ekosistem seperti terumbu karang tropis. Di sana, pemutihan karang bisa terjadi setiap tahun, yang akhirnya menyebabkan hilangnya fungsi terumbu karang tersebut secara keseluruhan.
Lebih dari 300 situs Warisan Dunia sudah menghadapi krisis air yang berkepanjangan, yang mengancam ekosistem air tawar. Menurunnya jumlah cadangan karbon di hutan juga bisa mengubah beberapa wilayah yang seharusnya menyerap karbon menjadi malah melepaskan karbon ke atmosfer.
Peran situs UNESCO
Meskipun tekanannya semakin berat, wilayah UNESCO tetap menjadi benteng penting untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati. Laporan tersebut mencatat bahwa kerusakan habitat di dalam area ini hanya setengah dari tingkat kerusakan yang terjadi di wilayah sekitarnya selama 50 tahun terakhir.
“Meskipun populasi hewan liar di seluruh dunia telah menurun sekitar 73 persen
sejak tahun 1970, jumlah populasi di dalam wilayah UNESCO tetap stabil,” tulis laporan tersebut.
Wilayah-wilayah ini menjadi rumah bagi lebih dari 60 persen spesies yang tercatat di dunia, di mana sekitar 40 persen di antaranya hanya bisa ditemukan di tempat tersebut. Secara keseluruhan, wilayah ini mencakup seperlima dari area keanekaragaman hayati terpenting di bumi.
Tempat-tempat ini juga melindungi hampir sepertiga dari sisa populasi hewan ikonik seperti gajah, harimau, dan panda, serta spesies yang sangat terancam punah seperti lumba-lumba vaquita, badak Jawa, dan iguana merah muda.
Baca juga: KKP Siapkan 17 Lokasi Karbon Biru, dari Pesisir Jawa hingga Situs Warisan Dunia
Selain menjaga keanekaragaman hayati, wilayah UNESCO berperan penting dalam menjaga stabilitas iklim dengan menyerap hampir 700 juta ton karbon dioksida setiap tahunnya.
Wilayah-wilayah ini menyimpan sekitar 240 gigaton karbon di dalam tanah dan sedimen. Hutan di sana berfungsi sebagai penyerap karbon utama di daratan, sementara ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun berfungsi menangkap "karbon biru".
Wilayah-wilayah tersebut juga menyokong kehidupan hampir 900 juta orang atau sekitar 10 persen dari penduduk dunia, serta menyumbang hampir 10 persen terhadap ekonomi global (PDB). Lebih dari separuh lokasi ini merupakan tujuan wisata utama yang menarik hampir 1,5 miliar pengunjung setiap tahunnya.
Tempat-tempat ini juga menjadi fondasi bagi sistem pertanian dan pangan dengan menyediakan air bersih, energi, dan bahan baku. Sebagai contoh, Cagar Biosfer Arganeraie di Maroko menggunakan sistem hutan tani (agroforestry) untuk mendukung produksi pangan dan lahan penggembalaan hewan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya