Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak

Kompas.com, 25 April 2026, 20:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Sebuah laporan baru menemukan bahwa hampir 90 persen wilayah yang ditetapkan oleh UNESCO saat ini sedang mengalami tekanan lingkungan yang sangat berat.

Laporan People and Nature dari UNESCO tersebut menyoroti meningkatnya tekanan dari aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim yang semakin parah di seluruh wilayah yang sangat penting bagi dunia ini.

Melansir Down to Earth, Selasa (21/4/2026) perubahan iklim telah menjadi penyebab utama kerentanan alam, di mana 98 persen lokasi UNESCO mengalami setidaknya satu kondisi iklim ekstrem sejak tahun 2000, seperti panas ekstrem, mencairnya gletser, meningkatnya kadar asam laut, dan bencana alam yang lebih sering terjadi.

Ancaman di situs UNESCO

Para penulis mencatat bahwa panas ekstrem adalah ancaman yang paling luas, diikuti oleh curah hujan yang sangat tinggi, naiknya permukaan air laut, dan pemutihan terumbu karang.

Baca juga: Restorasi Situs Warisan Dunia di Burkina Faso Terancam Perubahan Iklim

Tekanan lainnya mencakup kerusakan habitat, kekeringan, kebakaran hutan, polusi, masuknya spesies asing, krisis air, hingga tanah longsor.

Laporan tersebut menemukan bahwa kebakaran hutan kini telah menjadi penyebab utama rusaknya hutan di situs Warisan Dunia. Penyebab berikutnya adalah penebangan kayu, pembukaan lahan untuk pertanian permanen, serta pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, dan proyek energi.

Sejak tahun 2000, lebih dari 300.000 km persegi tutupan pohon telah hilang. Selain itu, spesies asing yang merusak ekosistem asli telah tercatat ditemukan di lebih dari 80 persen wilayah yang ditetapkan UNESCO.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa dengan meningkatnya risiko dan gangguan manusia, lebih dari seperempat wilayah UNESCO bisa mencapai titik kritis pada tahun 2050, yang beberapa di antaranya mungkin tidak akan pernah bisa pulih kembali.

Lebih lanjut, salah satu risiko yang paling mengkhawatirkan adalah potensi hancurnya ekosistem seperti terumbu karang tropis. Di sana, pemutihan karang bisa terjadi setiap tahun, yang akhirnya menyebabkan hilangnya fungsi terumbu karang tersebut secara keseluruhan.

Lebih dari 300 situs Warisan Dunia sudah menghadapi krisis air yang berkepanjangan, yang mengancam ekosistem air tawar. Menurunnya jumlah cadangan karbon di hutan juga bisa mengubah beberapa wilayah yang seharusnya menyerap karbon menjadi malah melepaskan karbon ke atmosfer.

Peran situs UNESCO

Meskipun tekanannya semakin berat, wilayah UNESCO tetap menjadi benteng penting untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati. Laporan tersebut mencatat bahwa kerusakan habitat di dalam area ini hanya setengah dari tingkat kerusakan yang terjadi di wilayah sekitarnya selama 50 tahun terakhir.

“Meskipun populasi hewan liar di seluruh dunia telah menurun sekitar 73 persen
sejak tahun 1970, jumlah populasi di dalam wilayah UNESCO tetap stabil,” tulis laporan tersebut.

Wilayah-wilayah ini menjadi rumah bagi lebih dari 60 persen spesies yang tercatat di dunia, di mana sekitar 40 persen di antaranya hanya bisa ditemukan di tempat tersebut. Secara keseluruhan, wilayah ini mencakup seperlima dari area keanekaragaman hayati terpenting di bumi.

Tempat-tempat ini juga melindungi hampir sepertiga dari sisa populasi hewan ikonik seperti gajah, harimau, dan panda, serta spesies yang sangat terancam punah seperti lumba-lumba vaquita, badak Jawa, dan iguana merah muda.

Baca juga: KKP Siapkan 17 Lokasi Karbon Biru, dari Pesisir Jawa hingga Situs Warisan Dunia

Selain menjaga keanekaragaman hayati, wilayah UNESCO berperan penting dalam menjaga stabilitas iklim dengan menyerap hampir 700 juta ton karbon dioksida setiap tahunnya.

Wilayah-wilayah ini menyimpan sekitar 240 gigaton karbon di dalam tanah dan sedimen. Hutan di sana berfungsi sebagai penyerap karbon utama di daratan, sementara ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun berfungsi menangkap "karbon biru".

Wilayah-wilayah tersebut juga menyokong kehidupan hampir 900 juta orang atau sekitar 10 persen dari penduduk dunia, serta menyumbang hampir 10 persen terhadap ekonomi global (PDB). Lebih dari separuh lokasi ini merupakan tujuan wisata utama yang menarik hampir 1,5 miliar pengunjung setiap tahunnya.

Tempat-tempat ini juga menjadi fondasi bagi sistem pertanian dan pangan dengan menyediakan air bersih, energi, dan bahan baku. Sebagai contoh, Cagar Biosfer Arganeraie di Maroko menggunakan sistem hutan tani (agroforestry) untuk mendukung produksi pangan dan lahan penggembalaan hewan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau