KOMPAS.com - Anjar, seorang ibu hamil dengan risiko kekurangan energi kronis (KEK) sudah pernah sekali memperoleh arisan telur yang dikocok ketika kegiatan posyandu. Ia membawa pulang satu kilo telur dari salah satu program penurunan stunting di Kabupaten Ngawi.
"Kalau di rumah anak-anak suka ditelur dadar. Kalau yang digodok itu biasanya si bungsu enggak mau," ujar Anjar, Kamis (16/4/2026).
Selain mendapatkan dukungan dana dari pemerintah desa, program penanganan stunting — termasuk arisan telur — juga dibantu kader pembangunan manusia (KPM) dan tim penggerak pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (TP-PPK). Mereka melakukan pendampingan melalui pendekatan 'jemput bola', yang bahkan membawa timbangan dan mengukur badan di rumah-rumah warga.
Baca juga: Manfaatkan Pangan Lokal, Sup Matahari Jadi Menu Favorit Atasi Stunting di Ngawi
Ketua TP-PPK, Dwi mengungkapkan bahwa arisan telur menjadi insiatif desa untuk pencegahan stunting sejak tahun 2025. Telur dipilih sebagai sumber protein hewani dengan harga paling terjangkau dan mudah diolah.
"Kan digaungkan Dinkes (Dinas Kesehatan) minimal makan satu protein hewani. Kami berinisiatif untuk bagaimana kalau di posyandu diadakan arisan telur," tutur Dwi.
Seorang KPM, Eli mengatakan, desa mengenalkan terlebih dahulu makanan yang perlu dikonsumsi untuk seorang ibu hamil, seperti telur, daging ayam, daun kelor, sampai bayam. Desa juga menyosialisasikan makanan yang sebaiknya dihindari, terutama seblak bagi ibu muda dalam kondisi hamil.
Proses edukasi dibingkai dengan berbagai kegiatan yang disiapkan untuk menarik minat warga agar mau datang ke posyandu. Di sana, setidaknya ada kegiatan yang mendorong kegiatan fisik motorik dan demo masak dengan menu bervariasi.
"Kami adakan tanya jawab (seputar penanganan stunting) yang diberi doorprize, itu tidak seberapa, tapi kan bisa menarik ibu-ibu lain, supaya semangat hadir ke posyandu.
Namun, edukasi pentingnya telur terkadang terkendala kepercayaan masyarakat setempat yang berbalut sikap overprotektif kakek-neneknya.
Baca juga: Sosok Kartini dari Gunung Lewotobi, Oca Berjuang Lawan Stunting dengan Honor Rp300.000
"Biasanya Mbah (kakek-nenek) itu (melarang) 'ojo dikei ngono maem (jangan diberi makan) itu seperti telur, memang sangat sulit kami memperkenalkan pertama kali. Jangan diberi telur nanti bisulen (bisul) dan timbilen (bintitan)," ucap Eli.
TP-PPK dan KPM tergabung dalam tim percepatan penurunan stunting (TPPS) di tingkat desa, yang dibentuk pemerintah. Program PASTI melakukan intervensi dengan mengadvokasi orang-orang yang tergabung dalam TPPS supaya lebih baik dalam menjalankan tugas dan fungsi mereka.
Program Manager PASTI Wahana Visi Indonesia (WVI), Hotmianida Panjaitan mengatakan, intervensi terhadap TPPS dimulai dari memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang stunting. Program PASTI juga mengajarkan kepada TPPS bagaimana mengumpulkan dana untuk penanganan stunting dari program pemerintah dan CSR perusahaan.
"Jadi, kami lebih kepada memberi kail ya, terus pendampingan. Setelah melakukan kegiatan baru, bikin inovasi, mereka kadang enggak tahu mau ngapain lagi. Banyak program, tapi jalan atau enggak?, nah sebenarnya kami membantu di situ," ucapnya.
Program PASTI bertujuan menguatkan tata kelola TPPS sebagai garda depan penanganan stunting di desa dengan berbagai cara sederhana. Di antaranya, dengan mengajarkan pentingnya memantau kinerja dan mengumpulkan notulensi pada setiap evaluasi pelaksanaan kegiatan penanganan stunting. Itu termasuk di dalam memastikan keberhasilan program arisan telur.
"Enggak perlu bikin program muluk-muluk, bikin program enggak perlu dana besar. Arisan telur dan memastikan tetangga kanan kiri yang dapat 20 telur dari arisan bisa memakannya tiap hari, atau satu minggu sudah habis," ujar Hotmianida.
Baca juga: Cegah Stunting, IPB Beri Penyuluhan ke Masyarakat di Cirebon
Program PASTI juga melatih relawan PGD untuk memahami standar membantu penanganan stunting dan berdasarkan hasil evaluasi pada 2025, kegiatan ini berhasil meningkatkan berat badan 85 persen anak yang ikut atau sudah normal.
Diketahui, Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) merupakan program kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk. Program percepatan pencegahan stunting dan perbaikan status gizi di Indonesia hingga Januari 2027 ini diimplementasikan oleh WVI dan didukung Yayasan Cipta.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya