KOMPAS.com - Tempat pemrosesan akhir (TPA) Bantergebang, Bekasi, menempati posisi kedua sebagai lokasi sektor limbah dengan kontributor emisi gas rumah kaca (GRK) metana terbesar di dunia.
Berdasarkan laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum University of California Los Angeles (UCLA) Bantargebang dimasukkan dalam daftar 25 TPA yang menghasilkan emisi metana tertinggi secara global.
Bantargebang menguarkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam, hanya kalah dengan TPA Campo de Mayo, Buenos Aires Province, Argentina, dengan emisi metana 7,6 ton per jam.
Baca juga: Saat 22 Alat Berat di TPA Burangkeng Lumpuh Imbas BBM Naik, Ratusan Truk Sampah Antre
"Meskipun banyak tempat pembuangan akhir hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam, tempat-tempat dalam daftar "25 teratas" kami mengeluarkan jauh lebih banyak – berkisar antara 3,6 hingga sekitar 7,6 ton (metrik ton) metana per jam," demikian keterangan dari laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025; Landfills yang dirilis pada Senin (20/4/2026) itu.
Data emisi metana publik Carbon Mapper berasal dari instrumen berbasis ruang angkasa, yaitu satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Dengan memanfaatkan data satelit, riset dalam laporan ini menyusun daftar 25 TPA penyumbang metana terbesar merujuk pada tingkat emisi terdeteksi dan terukur yang terlihat selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.
Laporan menyertakan kolom berjudul operator yang berpotensi bertanggung jawab untuk memperjelas siapa kontributor di baliknya. Misalnya, lokasi TPA di Bekasi, Jawa Barat, dengan pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta sebagai operator yang berpotensi bertanggung jawab. Informasi ini tidak diperoleh langsung dari Carbon Mapper, melainkan melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh tim kami di Emmett Institute.
Daftar TPA penghasil gas metana terbesar dapat berubah, tergantung data dan rentang waktu pengamatan. Jika diperpanjang rentang pengamatan dari Januari 2025-7 April 2026, TPA di Silivri, Turki dan Abidjan, Pantai Gading, masuk dalam daftar 25 TPA tertas, dengan tingkat emisi masing-masing 8,4 ton/jam dan 4,6 ton per jam.
Namun, laporan yang sama sebelumnya, melalui pengamatan selama periode 1 Januari 2025-31 Oktober 2025, menunjukkan perubahan data dan TPA Bantargebang tetap berada di urutan kedua, dengan TPA Aljir di Aljazair meraih posisi puncak.
Baca juga: KLH: Beban Sampah Bantargebang 8.000 Ton, Jakarta Wajib Transformasi
"Untuk menggambarkan betapa pentingnya sumber-sumber ini, dan peluang besar apa yang mereka tawarkan untuk pengurangan jangka pendek, pertimbangkan bahwa selama setahun, tempat pembuangan sampah yang mengeluarkan 5 ton metana per jam (berada di tengah-tengah daftar 25 teratas kami) akan berkontribusi terhadap pemanasan global hampir sama dengan satu juta SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara besar (500 megawatt)," demikian keterangan dalam laporan itu.
Diketahui, daya tampung fisik TPA Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional dan penumpukan sampah perlu dikurangi secara signifikan. Beban harian TPA Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.
Pemprov Jakarta berupaya mengurangi beban TPST Bantargebang dengan mencegah sebanyak mungkin sampah berakhir di sana.
Baca juga: Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Secara administratif, operasional tersisa hingga 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama antara Pemprov Jakarta dengan pemerintah kota (Pemkot) Bekasi. Karena lahan TPA Bantargebang berada di wilayah Kota Bekasi, Pemprov Jakarta harus merogoh anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk menghibahkan dana kepada Pemkot sebesar Rp 365 miliar setiap tahunnya.
Jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mengalami kenaikan secara signifikan selama periode tahun 2014-2024. Namun, sempat terjadi penurunan pada selama periode 2020-2021 dan tahun 2023, sebelum akhirnya kenaikan jumlah sampah yang masuk TPST Bantargebang melesat kembali.
5.653 ton per hari pada 2014
6.429 ton per hari pada 2015
6.562 ton per hari pada 2016
6.894 ton per hari pada 2017
7.452 ton per hari pada 2018
7.702 ton per hari pada 2019
7.424 ton per hari pada 2020
7.233 ton per hari pada 2021
7.544 ton per hari pada 2022
7.359 ton per hari pada 2023
7.734 ton per hari pada 2024
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya