Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia

Kompas.com, 27 April 2026, 11:50 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tempat pemrosesan akhir (TPA) Bantergebang, Bekasi, menempati posisi kedua sebagai lokasi sektor limbah dengan kontributor emisi gas rumah kaca (GRK) metana terbesar di dunia.

Berdasarkan laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum University of California Los Angeles (UCLA) Bantargebang dimasukkan dalam daftar 25 TPA yang menghasilkan emisi metana tertinggi secara global.

Bantargebang menguarkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam, hanya kalah dengan TPA Campo de Mayo, Buenos Aires Province, Argentina, dengan emisi metana 7,6 ton per jam.

Baca juga: Saat 22 Alat Berat di TPA Burangkeng Lumpuh Imbas BBM Naik, Ratusan Truk Sampah Antre

"Meskipun banyak tempat pembuangan akhir hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam, tempat-tempat dalam daftar "25 teratas" kami mengeluarkan jauh lebih banyak – berkisar antara 3,6 hingga sekitar 7,6 ton (metrik ton) metana per jam," demikian keterangan dari laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025; Landfills yang dirilis pada Senin (20/4/2026) itu.

Data emisi metana publik Carbon Mapper berasal dari instrumen berbasis ruang angkasa, yaitu satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Dengan memanfaatkan data satelit, riset dalam laporan ini menyusun daftar 25 TPA penyumbang metana terbesar merujuk pada tingkat emisi terdeteksi dan terukur yang terlihat selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.

Laporan menyertakan kolom berjudul operator yang berpotensi bertanggung jawab untuk memperjelas siapa kontributor di baliknya. Misalnya, lokasi TPA di Bekasi, Jawa Barat, dengan pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta sebagai operator yang berpotensi bertanggung jawab. Informasi ini tidak diperoleh langsung dari Carbon Mapper, melainkan melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh tim kami di Emmett Institute.

Daftar TPA penghasil gas metana terbesar dapat berubah, tergantung data dan rentang waktu pengamatan. Jika diperpanjang rentang pengamatan dari Januari 2025-7 April 2026, TPA di Silivri, Turki dan Abidjan, Pantai Gading, masuk dalam daftar 25 TPA tertas, dengan tingkat emisi masing-masing 8,4 ton/jam dan 4,6 ton per jam.

Namun, laporan yang sama sebelumnya, melalui pengamatan selama periode 1 Januari 2025-31 Oktober 2025, menunjukkan perubahan data dan TPA Bantargebang tetap berada di urutan kedua, dengan TPA Aljir di Aljazair meraih posisi puncak.

Baca juga: KLH: Beban Sampah Bantargebang 8.000 Ton, Jakarta Wajib Transformasi

"Untuk menggambarkan betapa pentingnya sumber-sumber ini, dan peluang besar apa yang mereka tawarkan untuk pengurangan jangka pendek, pertimbangkan bahwa selama setahun, tempat pembuangan sampah yang mengeluarkan 5 ton metana per jam (berada di tengah-tengah daftar 25 teratas kami) akan berkontribusi terhadap pemanasan global hampir sama dengan satu juta SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara besar (500 megawatt)," demikian keterangan dalam laporan itu.

Lampaui Kapasitas

Diketahui, daya tampung fisik TPA Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional dan penumpukan sampah perlu dikurangi secara signifikan. Beban harian TPA Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.

Pemprov Jakarta berupaya mengurangi beban TPST Bantargebang dengan mencegah sebanyak mungkin sampah berakhir di sana.

Baca juga: Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021

Secara administratif, operasional tersisa hingga 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama antara Pemprov Jakarta dengan pemerintah kota (Pemkot) Bekasi. Karena lahan TPA Bantargebang berada di wilayah Kota Bekasi, Pemprov Jakarta harus merogoh anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk menghibahkan dana kepada Pemkot sebesar Rp 365 miliar setiap tahunnya.

Jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mengalami kenaikan secara signifikan selama periode tahun 2014-2024. Namun, sempat terjadi penurunan pada selama periode 2020-2021 dan tahun 2023, sebelum akhirnya kenaikan jumlah sampah yang masuk TPST Bantargebang melesat kembali.

5.653 ton per hari pada 2014
6.429 ton per hari pada 2015
6.562 ton per hari pada 2016
6.894 ton per hari pada 2017
7.452 ton per hari pada 2018
7.702 ton per hari pada 2019
7.424 ton per hari pada 2020
7.233 ton per hari pada 2021
7.544 ton per hari pada 2022
7.359 ton per hari pada 2023
7.734 ton per hari pada 2024

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau