Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun

Kompas.com, 27 April 2026, 10:47 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pencapaian pembangunan manusia selama bertahun-tahun di Asia-Pasifik kini terancam melambat akibat dampak eskalasi militer di Timur Tengah yang merembet ke ekonomi dan rumah tangga.

Analisis awal dari UNDP mengamati bagaimana gejolak melalui pasar energi, perdagangan, dan tenaga kerja mulai menekan pendapatan, konsumsi, lapangan kerja, dan perlindungan sosial di seluruh kawasan.

Melansir Eco Business, Minggu (26/4/2026) laporan tersebut menyebut rumah tangga berpenghasilan rendah, pekerja informal, migran, dan usaha kecil adalah kelompok yang paling berisiko, dengan kaum perempuan sebagai kelompok yang paling rentan di antara mereka.

Laporan ini menggabungkan penilaian dampak dan kebutuhan dari 36 negara, didukung oleh simulasi ekonomi. Laporan ini juga memberikan gambaran untuk seluruh kawasan serta menunjukkan bagaimana berbagai negara merespons tekanan-tekanan tersebut.

Baca juga: Laporan ING: Asia Pasifik Dominasi Tren Keuangan Berkelanjutan

Tekanan di wilayah Asia Pasifik

Kenaikan biaya bahan bakar dan biaya angkut barang adalah tekanan yang paling terasa saat ini. Dengan lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia, kawasan ini pun mengalami dampak cepat berupa kenaikan harga transportasi, listrik, makanan, hingga pupuk.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa 8,8 juta orang berisiko jatuh miskin.

Sementara itu kerugian ekonomi diperkirakan akan mencapai antara 97miliar dolar AS (sekitar Rp1.673 triliun) hingga 299 miliar dolar AS (sekitar Rp5.158 triliun).

Angka ini setara dengan 0,3 hingga 0,8 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan Asia-Pasifik.

Dampak paling parah dirasakan di Asia Selatan karena mereka lebih rentan terhadap gejolak harga dan memiliki cadangan dana kebijakan yang terbatas. Sementara itu, wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami kemunduran yang relatif lebih kecil.

Pemerintah di berbagai negara di kawasan Asia Pasifik sendiri telah bergerak cepat untuk meredam dampak ekonomi melalui penstabilan harga BBM, pemberian subsidi tepat sasaran, pembatasan transportasi, serta langkah-langkah penyesuaian seperti mencari sumber energi baru dan meningkatkan penghematan energi.

Di beberapa negara, langkah yang diambil mencakup kampanye hemat energi nasional hingga perubahan sementara aturan kerja pegawai negeri untuk mengurangi penggunaan bahan bakar dan menghemat anggaran negara.

Baca juga: Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB

“Dampak perang ini terhadap wilayah Asia-Pasifik sudah mulai terlihat. Efek kenaikan harga barang menjalar ke masyarakat jauh lebih cepat daripada proses pembuatan aturan atau bantuan pemerintah," ungkap Kanni Wignaraja, perwakilan senior PBB dari UNDP.

Ia menambahkan, meskipun sempat ada gencatan senjata, gejolak pasar global yang berkepanjangan memaksa pemerintah membuat pilihan sulit. Antara menjaga harga tetap stabil, membantu warga miskin, atau mempertahankan layanan publik dan investasi.

Di sisi lain, ada peluang besar bagi negara-negara untuk memperkuat ketahanan jangka panjang melalui perlindungan sosial yang fleksibel, memperkuat rantai pasokan lokal, serta melakukan diversifikasi sumber energi dan pangan.

Laporan ini merupakan bagian dari rangkaian analisis ekonomi-sosial yang dibuat oleh UNDP untuk membantu para pembuat kebijakan memahami dampak konflik saat ini terhadap kualitas hidup masyarakat. Tujuannya adalah mencari solusi pembangunan sebagai pertahanan utama.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon 'Aku Net-Zero Hero'
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon "Aku Net-Zero Hero"
BUMN
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
LSM/Figur
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Pemerintah
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Pemerintah
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Pemerintah
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Pemerintah
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Swasta
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
LSM/Figur
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak
Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak
Pemerintah
Kenapa Sungai di Jakarta Jadi Tempat Sempurna bagi Perkembangan Ikan Sapu-Sapu?
Kenapa Sungai di Jakarta Jadi Tempat Sempurna bagi Perkembangan Ikan Sapu-Sapu?
LSM/Figur
Pakar IPB: Kerugian Tahunan Invasi Ikan Sapu-Sapu di RI Capai Rp 2,72 Triliun
Pakar IPB: Kerugian Tahunan Invasi Ikan Sapu-Sapu di RI Capai Rp 2,72 Triliun
LSM/Figur
Studi: Lebih dari 600.000 Burung Laut Mati Akibat Gelombang Panas
Studi: Lebih dari 600.000 Burung Laut Mati Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Peringatan PBB: Panas Ekstrem Picu Krisis Pangan Global
Peringatan PBB: Panas Ekstrem Picu Krisis Pangan Global
Pemerintah
Tak Pakai Tebu, Pertamina Akan Kembangkan Bioetanol dari Sorgum
Tak Pakai Tebu, Pertamina Akan Kembangkan Bioetanol dari Sorgum
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau