Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan

Kompas.com, 30 April 2026, 16:55 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Para peneliti mengungkapkan laju kerusakan hutan tropis melambat pada tahun 2025 setelah mencatat rekor kerusakan tahun sebelumnya.

Meski begitu, kerusakannya masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan, yakni setara dengan 11 lapangan sepak bola per menit.

Melansir Phys, Rabu (29/4/2026) dunia kehilangan 4,3 juta hektare hutan hujan tropis primer tahun lalu, turun 36% dibandingkan tahun 2024, menurut peneliti dari World Resources Institute (WRI) dan University of Maryland.

"Penurunan sebesar ini dalam satu tahun sangat menggembirakan. Ini menunjukkan hasil nyata dari tindakan tegas pemerintah," kata Elizabeth Goldman, direktur pendamping Global Forest Watch di WRI.

"Namun, sebagian dari penurunan ini juga mencerminkan masa tenang setelah tahun lalu terjadi kebakaran yang sangat ekstrem," tambah Goldman.

Baca juga: Tanah Kaya Nitrogen Bikin Hutan Tropis Pulih Lebih Cepat

Waspada El Nino

Para peneliti juga memperingatkan bahwa kebakaran hutan yang dipicu oleh perubahan iklim telah menjadi "normal baru yang berbahaya". Hal ini mengancam kemajuan yang telah dicapai pemerintah dalam memberantas deforestasi.

Fenomena cuaca El Niño yang membawa suhu panas diperkirakan akan kembali pada pertengahan tahun ini. Hal ini dapat mendorong suhu global semakin tinggi, serta meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan hebat.

Lebih lanjut, meskipun ada kemajuan tahun lalu, angka kehilangan hutan global masih 70 persen lebih tinggi dari tingkat yang dibutuhkan untuk mencapai target tahun 2030, yaitu menghentikan dan memulihkan kerusakan hutan.

"Satu tahun yang baik adalah hal yang bagus, tetapi Anda butuh 'tahun yang baik' selamanya jika ingin melestarikan hutan hujan tropis," kata Matthew Hansen, direktur GLAD Lab di University of Maryland.

Sebagian besar penurunan angka kerusakan hutan tahun lalu terjadi karena penurunan tajam di Brasil, negara pemilik hutan hujan terbesar di dunia.

Kehilangan hutan di Brasil (tidak termasuk akibat kebakaran) turun 41 persen lebih rendah dibandingkan tahun 2024, ini merupakan angka terendah yang pernah tercatat.

"Penurunan di Brasil ini berkaitan dengan kebijakan lingkungan dan penegakan hukum yang lebih kuat sejak Presiden Lula menjabat pada tahun 2023," kata Elizabeth Goldman.

Lula meluncurkan kembali rencana aksi anti-deforestasi dan meningkatkan hukuman bagi pelaku kejahatan lingkungan.

Namun, hutan-hutan di negara tersebut masih terancam oleh sektor pertanian, yang tetap menjadi penyebab utama hilangnya hutan untuk membuka lahan perkebunan kedelai dan peternakan sapi.

Baca juga: 1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun

Perlu dukungan kebijakan pemerintah

Beberapa negara bagian di Amazon bahkan telah mengesahkan undang-undang yang melemahkan perlindungan lingkungan, menurut para peneliti.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin 'Burnout'
Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin "Burnout"
LSM/Figur
Kekerasan Daring terhadap Jurnalis Perempuan Meningkat akibat AI
Kekerasan Daring terhadap Jurnalis Perempuan Meningkat akibat AI
LSM/Figur
Tiga Bayi Harimau Benggala Lahir di Taman Safari Prigen
Tiga Bayi Harimau Benggala Lahir di Taman Safari Prigen
Pemerintah
Konferensi Santa Marta: 60 Negara Bahas Peralihan Energi Fosil ke Energi Terbarukan
Konferensi Santa Marta: 60 Negara Bahas Peralihan Energi Fosil ke Energi Terbarukan
Pemerintah
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Pemerintah
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1,225 GW
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1,225 GW
BUMN
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Pemerintah
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Pemerintah
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau