JAKARTA, KOMPAS.com - Para pekerja di berbagai negara memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei. Hari Buruh bertujuan memperingati perjuangan dan pencapaian bersejarah para pekerja serta gerakan buruh.
Di India, Afrika Selatan, Cina, Jerman, Prancis, Spanyol, Portugal, dan Yunani, May Day ditetapkan menjadi hari libur nasional.
Sementara di Amerika Serikat dan Kanada, peringatan serupa dirayakan pada Senin pertama September. Mengutip Britannica, Jumat (1/5/2026), Hari Buruh Internasional bermula di Amerika Serikat, ketika para pekerja menuntut pengurangan jam kerja yang kala itu mencapai 14 hingga 20 jam per hari.
Baca juga: Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Mereka meminta jam kerja yang lebih pendek seiring dengan tuntutan kenaikan upah. Lonjakan industri di abad ke-19 membuat pekerja di AS membentuk serikat untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih manusiawi.
Lalu, pada 1837 Presiden AS Martin Van Buren memutuskan pengurangan jam kerja menjadi 10 jam. Namun aturan ini tidak berlaku secara umum, sehingga perjuangan terus berlanjut selama beberapa dekade.
Di tahun 1850-an, pekerja di AS menuntut maksimal delapan jam kerja per hari. Hal ini diikuti para pekerja di negara lain dengan tuntutan yang sama.
National Labor Union (NLU) pun terbentuk pada 1860-an, dengan tujuan menyatukan pekerja lintas sektor dengan pertemuan pertamanya menetapkan resolusi jam kerja maksimal delapan jam di seluruh negara bagian.
Baca juga: Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pada tahun yang sama, Kongres Jenewa dari First International mendukung tuntutan jam kerja delapan jam.
Federasi Serikat Buruh di Amerika Serikat dan Kanada menetapkan mulai 1 Mei 1886, durasi bekerja berkurang menjadi delapan jam. Para buruh lantas menyerukan mogok kerja massal pada tanggal tersebut.
Kala itu, sebanyak 500.000 pekerja terlibat dalam lebih dari 1.500 aksi. Gerakan tersebut meluas ke kota-kota besar di Amerika Serikat, terutama di Chicago.
Di AS, 1 Mei dipilih secara khusus untuk menghormati para pekerja dalam peristiwa Haymarket yang mengorbankan nyawa mereka demi mengurangi jam kerja.
Di Eropa, 1 Mei awalnya berkaitan dengan festival tradisional musim semi, tetapi kemudian maknanya bergeser menjadi simbol gerakan buruh. Sedangkan Hari Buruh di Jerman merupakan hari libur resmi.
Pada tahun yang sama, Kongres Buruh Internasional di Paris, Perancis, menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Mengutip laman resmi Universitas Brawijaya, sejak saat itu May Day menjadi momen penting bagi para pekerja di seluruh dunia untuk menyuarakan hak-hak mereka termasuk di Indonesia.
Peringatan May Day di Indonesia mengalami perubahan setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI pada 1965. Pemerintah Orde Baru melarang kegiatan buruh yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Alhasil, di Indonesia May Day berganti nama menjadi Hari Buruh Nasional yang diperingati setiap 1 Mei.
Pada tahun ini, tema Hari Buruh Internasional 2026 adalah Memastikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tengah Perubahan Iklim. Tema itu menyoroti tantangan baru yang dihadapi pekerja akibat cuaca ekstrem, gelombang panas, serta perubahan lingkungan.
Lainnya, menekankan tanggung jawab pemerintah dan perusahaan untuk menyesuaikan standar keselamatan kerja guna melindungi kesejahteraan fisik ataupun mental karyawan seiring meningkatnya suhu dan transisi hijau industri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya