Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dan fluktuasi adalah masalah besar bagi sistem yang bergantung pada kepastian.
Pertanian, misalnya, masih sangat bergantung pada kalender musim.
Ketika musim hujan datang lebih awal, tetapi tidak merata, petani menghadapi risiko gagal tanam. Ketika hujan berhenti tiba-tiba atau turun dengan intensitas ekstrem, hasil panen ikut terancam.
Baca juga: Matematika Bisnis Koperasi Desa Merah Putih: Bertahan atau Sekadar Papan Nama?
Di perkotaan, persoalannya tidak kalah serius. Sistem drainase dirancang berdasarkan data historis, bukan realitas baru. Akibatnya, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat langsung memicu banjir, bahkan di luar musim hujan.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita masih merespons semua ini dengan cara lama. Kita memperbaiki drainase setelah banjir terjadi. Kita menyalurkan bantuan setelah gagal panen. Kita menyusun kebijakan berdasarkan rata-rata, bukan ketidakpastian.
Padahal, masalah utama kita hari ini bukan lagi sekadar perubahan iklim. Masalah kita adalah hilangnya kepastian iklim.
Selama puluhan tahun, kita hidup dalam sistem yang relatif stabil. Musim datang dan pergi dengan pola yang bisa diprediksi. Kini, pola itu mulai runtuh.
Yang tersisa bukanlah kekacauan total, melainkan sistem yang tampak normal di atas kertas, tetapi semakin tidak pasti dalam kenyataan.
Ini adalah bentuk krisis yang lebih halus, tetapi justru lebih berbahaya.
Ketika angka-angka masih terlihat “aman”, urgensi sering kali diabaikan. Ketika istilah “normal” masih digunakan, publik merasa tidak ada yang berubah. Padahal, di balik itu, risiko justru meningkat.
Kita membutuhkan cara pandang baru. Adaptasi terhadap perubahan iklim tidak lagi cukup jika hanya berbasis tren masa lalu. Kita harus mulai merancang sistem yang siap menghadapi berbagai kemungkinan, bukan hanya satu skenario.
Pertanian harus menjadi lebih fleksibel. Infrastruktur harus memiliki margin ketahanan yang lebih besar. Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi keputusan cepat di tingkat lokal, bukan sekadar laporan teknis.
Lebih penting lagi, kita harus berhenti berlindung di balik istilah “normal”. Karena jika kondisi hari ini masih disebut normal, maka yang sedang berubah bukan hanya iklim—tetapi juga definisi kita tentang normalitas itu sendiri.
Dan di titik itulah krisis sebenarnya dimulai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya