JAKARTA, KOMPAS.com - Transisi energi di sektor industri dan kendaraan konvensional menjadi listrik (electric vehicle) dapat memangkas 40 persen PM2.5 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pada 2030.
Environmental Economist The World Bank, Marissa Malahayati menyebutkan, dalam skenario yang lebih ambisius cara ini bisa mengurangi 63 persen polutan tersebut.
"Namun tentu membutuhkan investasi, skenario realistis sekitar 1,25 miliar dollar AS dengan setengahnya dari sektor publik. Skenario ambisius sekitar 5 miliar dollar AS terutama dari sektor swasta," kata Marissa dalam diskusi Corporate Responsibilty for Cleaner Air and Sustainable Growth yang digelar Bicara Udara dan HHP Law Firm, Jakarta Selatan, rabu (22/4/2026).
Baca juga: Sektor Perbankan Dinilai Lalai Tangani Polusi Metana
Dia mencontohkan, pemerintah Beijing, China, menginvestasikan 500 juta dollar AS (Rp 8 triliun) dalam lima tahun dan berhasil menurunkan 39 persen PM.25. Hal itu didorong pengelolaan terpadu, data yang kuat, dan pemodelan sistem yang baik.
Investasi itu bukan tanpa hasil, melainkan menghasilkan setidaknya 12 manfaat dari setiap 1 dollar AS (sekitar Rp 16.500) yang dikeluarkan. Menurut Marissa, udara yang bersih dapat meningkatkan produktivitas pekerja hingga mencegah kematian dini.
World Bank mencatat, industri dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara masih menjadi pekerjaan besar di kawasan Jabodetabek. Belum lagi polusi yang diperparah angin dan kemarau panjang.
"Kami percaya teknologi dan solusi sudah ada, tantangan utamanya adalah kerja sama antar institusi, sektor, dan wilayah. Jakarta tidak bisa sendiri dibutuhkan koordinasi regional dan standar bersama," ucap dia.
Baca juga: Parlemen Eropa Perketat Standar Perlindungan Air dari Polusi Limbah dan Pestisida
Di sektor transportasi, bahan bakar bersih berstandar Euro 4 terutama untuk kendaraan berat sangat direkomendasikan. Marissa menilai bahwa kendala utama penerapan Euro 4 hingga 100 persen di dalam negeri karena adanya perbedaan standar bahan bakar minyak (BBM).
"Standarnya, kita belum pakai Euro kita kan sekarang ini pakai RON ya sistemnya. Sedangkan, kalau di luar negeri sudah pakai Euro 4, Euro 5 bahkan di India rekan saya bilang sudah sampai Euro 6, itu sebenarnya masalahnya," jelas Marissa.
Di samping itu, regulasi yang ada setiap institusi terkait masih belum sejalan. Permasalahan lainnya, potensi krisis energi global yang membuat pemerintah dilema antara meningkatkan kualitas bahan bakar dengan menjaga ketahanan energi nasional.
Sektor ketiga penurunan polusi ialah limbah, meski kontribusinya tak terlalu signifikan.
Sementara itu, Co-Founder Bicara Udara, Ratna Kartadjoemena mengungkapkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sembilan dari 10 orang di dunia menghirup udara yang mengandung polutan tinggi, menyebabkan tujuh juta kematian dini setiap tahunnya.
"Banyak riset yang sudah dilakukan, misalnya di New York dan Shanghai, yang menunjukkan bahwa dampak polusi udara langsung memengaruhi kemampuan kognitif kita," tutur Ratna.
Paparan polusi dapat berisiko terhadap perkembangan janin, kelahiran prematur, asma, menyebabkan perlambatan perkembangan paru pada anak, hingga memicu kanker paru-paru, dan gagal jantung pada lansia.
"Jika kualitas udara bisa membaik sesuai standar WHO, harapan hidup warga Jabodetabek dapat meningkat hingga tiga tahun," sebut dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya