Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup

Kompas.com, 4 Mei 2026, 21:35 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Hilangnya keanekaragaman hayati beriringan dengan krisis iklim dan konflik geopolitik akan mengganggu sistem pangan, yang berisiko menimbulkan dampak buruk bagi sistem keuangan maupun masyarakat secara keseluruhan.

Konflik geopolitik di Timur Tengah semakin mengancam gangguan rantai pasokan pupuk yang melintasi Selat Hormuz. Ada risiko nyata terjadinya guncangan harga pangan lebih lanjut bersamaan dengan kenaikan tajam biaya energi, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan biaya hidup.

‎Laporan terbaru dari Anglia Ruskin University (ARU) dan Institute and Faculty of Actuaries (IFoA) menggarisbawahi tekanan kronis, seperti degradasi tanah dan kelangkaan air, telah menyebabkan penurunan hasil panen, serta mendorong kenaikan harga dan mengurangi ketersediaan pangan.

Baca juga: Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati

‎Guncangan akut, termasuk gangguan perdagangan, peristiwa cuaca ekstrem, serta keruntuhan ekologis, menambah tekanan lebih lanjut yang menyebabkan harga pangan semakin tinggi dan fluktuatif.

Dalam jangka panjang, ketahanan pangan akan terancam karena berbagai ekosistem kunci mendekati titik kritis yang tidak dapat dipulihkan. Deforestasi berskala besar, terutama di hutan hujan Amazon, mengancam pola curah hujan dan siklus karbon global yang sangat penting untuk hasil panen stabil.

‎Penurunan jumlah serangga penyerbuk , yang menopang sekitar tiga perempat produksi tanaman global, bisa menurunkan hasil panen dan meningkatkan harga pangan. Tekanan pada ekosistem laut akibat penangkapan berlebihan, polusi, dan krisis iklim mendorong sistem laut melewati ambang batas kritis, yang berdampak pada penurunan drastis populasi ikan.

Intervensi Mendesak

‎Laporan tersebut memperingatkan perlunya para pembuat kebijakan, regulator, dan mereka yang bekerja di sektor keuangan melakukan intervensi mendesak melalui beberapa tindakan untuk mengintegrasikan alam ke dalam pengambilan keputusan melindungi sistem pangan.

‎Pertama, investasi mendesak dalam langkah mendukung penggunaan lahan berkelanjutan, melindungi penyerbuk, dan memperkuat ketahanan rantai pasokan. Pencegahan lebih murah ketimbang respons krisis dan mengurangi kemungkinan guncangan akut, seperti gagal panen dan inflasi harga pangan dua digit yang berulang.

‎Kedua, para pembuat kebijakan dan regulator mengakui alam sebagai fondasi penting masyarakat maupun ekonomi, dengan menggunakan skenario iklim-alam terintegrasi untuk memahami keterkaitan antara keanekaragaman hayati dan iklim.

‎Ketiga, para aktuaris dan sektor keuangan menyadari bahwa kerapuhan sistem pangan merupakan risiko keuangan sistemik, dengan dampak yang jauh lebih besar daripada kontribusi PDB dari sektor pertanian.

‎Berdasarkan penilaian keamanan nasional terbaru tentang ekosistem global dari Pemerintah Inggris, potensi keruntuhan alam telah menjadi kemungkinan yang realistis. 

‎"Ekonomi kita saat ini dirancang untuk menghasilkan efisiensi, keuntungan, dan dengan demikian sistem tepat waktu yang mendorong ancaman ini dan memberikan sedikit atau bahkan tidak ada ketahanan terhadapnya," ujar penulis utama dan Direktur Global Sustainability Institute di Anglia Ruskin University (ARU), Aled Jones, dilansir dari Phys.

Baca juga: Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati

‎Untuk mengatasi berbagai risiko yang muncul, kata dia, dibutuhkan kebijakan dan arahan baru yang radikal. Laporan ini menyoroti risiko-risiko utama dari pangan hingga pandemi disertai serangkaian rekomendasi, termasuk perlunya beralih dari menunggu ke mengukur dan mengkuantifikasi semuanya sebelum mengambil tindakan mendesak yang dibutuhkan.

‎Konflik geopolitik di Timur Tengah memicu risiko yang jauh lebih besar terhadap ketahanan pangan global dibandingkan tahun 2022, ketika kombinasi krisis energi Ukraina dan peristiwa cuaca ekstrem berdampak pada panen dan menaikkan harga. 

‎"Sekarang iklimnya lebih hangat, dan Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 30 persen pupuk global. Jika pupuk ini tidak diaplikasikan selama musim tanam utama, maka tidak dapat diganti di kemudian hari," tutur Jones.

‎Dampak kenaikan harga energi memperparah kekurangan pangan global, yang berpotensi menyebabkan tingginya inflasi struktural. Semua ini menghantam sistem pangan yang sudah tertekan akibat hilangnya keanekaragaman hayati, dampak krisis iklim, serta masyarakat yang sudah berjuang menghadapi tekanan biaya hidup.

‎"Kita harus memasukkan keanekaragaman hayati dan krisis iklim ke dalam pengambilan keputusan keuangan, untuk menyelaraskan portofolio keuangan kita dengan batasan planet. Inilah cara kita mengarahkan masyarakat kembali ke dalam batas ekologis yang aman dan mengamankan Solvabilitas Planet jangka panjang," ucap penulis utama laporan Solvabilitas Planet 2025 dari Institute and Faculty of Actuaries, Sandy Trust.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau