Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño

Kompas.com, 7 Mei 2026, 20:15 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Stok beras dunia diperkirakan akan berkurang tahun ini karena petani di Asia mengurangi luas lahan tanam mereka.

Hal ini terjadi karena kelangkaan pupuk dan kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran. Selain itu, pola cuaca El Niño juga diperkirakan akan semakin membatasi hasil panen beras dunia.

Beras adalah kebutuhan pokok yang sangat penting bagi ketahanan pangan global. Gangguan kecil saja bisa memicu kenaikan harga yang besar, sehingga memberatkan biaya belanja rumah tangga, terutama bagi masyarakat di Asia dan Afrika.

Kekhawatiran ini berbanding terbalik dengan ramalan organisasi pangan PBB (FAO) pada April lalu, yang sempat memperkirakan produksi beras akan naik 2 persen dan mencapai rekor tertinggi pada periode 2025/26.

Baca juga: Suhu Ekstrem Bikin Padi Sulit Tumbuh, RI-Malaysia Paling Terdampak

Dampak peran Iran

Melansir Independent, Kamis (30/4/2026 ) dampak perang Iran sudah mulai dirasakan oleh para petani di negara pengekspor besar seperti Thailand dan Vietnam, serta negara yang banyak membeli beras seperti Filipina dan Indonesia.

Menurut para petani dan pedagang, konflik ini mengganggu pengiriman bahan bakar dan pupuk melalui Selat Hormuz, yaitu jalur laut sangat penting yang menghubungkan wilayah tersebut ke pasar internasional.

Petani kecil di Asia Tenggara juga semakin tertekan karena cuaca panas dan kering akibat El Niño akan melanda pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Maximo Torero, ekonom utama dari organisasi pangan PBB (FAO), para petani di beberapa negara sudah mulai menanam padi, namun mereka mengurangi penggunaan pupuk karena harganya yang mahal. Akibatnya, stok beras dunia diprediksi akan menipis pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.

Kejadian ini mengingatkan pada tahun 2008, saat pembatasan ekspor membuat harga beras melonjak dua kali lipat hingga mencapai 1.000 dolar AS per ton dan memicu kekacauan di banyak negara.

Belum lama ini, pada 2022 hingga 2023, stok yang menipis yang diperparah oleh larangan ekspor dari India juga sempat membuat harga naik dan orang-orang panik membeli beras.

Penurunan produksi beras

Kurangnya pupuk dan cuaca kering sendiri sudah mulai mengurangi hasil panen di Asia Tenggara, namun panen besar berikutnya kemungkinan besar akan mengalami penurunan yang lebih parah.

India, Thailand, dan Filipina biasanya mulai menanam tanaman utama mereka pada bulan Juni dan Juli, sedangkan Vietnam dan Indonesia saat ini sedang menanam untuk musim kedua. Kebanyakan produsen di Asia memang menanam padi dua sampai tiga kali dalam setahun.

Filipina, sebagai negara pembeli beras terbesar di dunia, juga menghadapi masalah yang sama. Arze Glipo, direktur dari yayasan pembangunan desa setempat, mengatakan bahwa banyak petani yang memilih untuk tidak menanam padi atau mengurangi penggunaan pupuk karena harganya yang mahal. Hal ini sudah pasti akan membuat jumlah hasil panen menurun.

Hasil panen beras di Filipina diperkirakan bisa turun hingga 6 juta ton dari biasanya yang mencapai 19 hingga 20 juta ton. Menurut Glipo, kondisi ini sangat berbahaya bagi Filipina karena mencari beras impor pun sedang sulit akibat banyaknya negara yang membatasi ekspor mereka. Hal ini membuat Filipina akan sangat kesulitan untuk menutupi kekurangan stok beras di dalam negerinya.

Baca juga: Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia

Di Indonesia, stok pupuk sebenarnya tidak menjadi masalah, namun cuaca El Niño diperkirakan akan mengurangi hasil panen. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan luas lahan panen beras untuk periode Maret hingga Mei akan menyusut sebesar 10,6 persen menjadi 3,85 juta hektar. Akibatnya, jumlah produksi gabah diprediksi turun sebesar 11,12 persen menjadi 20,68 juta ton.

Kendati demikian kekhawatiran terhadap stok beras ini sebenarnya masih bisa diatasi karena hasil panen yang melimpah selama beberapa tahun terakhir.

Menurut data Departemen Pertanian AS, India sebagai pengekspor beras terbesar dunia saat ini memegang rekor stok sebanyak 42 juta ton atau sekitar seperlima dari total cadangan dunia. Itu bisa membantu menutupi jika ada penurunan produksi global.

Namun, menurut Torero, harga beras kemungkinan akan tetap naik meskipun masalah di Selat Hormuz segera selesai. Jika jalur laut tersebut bisa segera dibuka kembali dalam dua hingga tiga minggu ke depan, krisis besar bisa dihindari, tetapi jika tidak, situasinya akan menjadi sangat serius.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
BUMN
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Pemerintah
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
Pemerintah
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
LSM/Figur
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
LSM/Figur
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
Pemerintah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
LSM/Figur
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Pemerintah
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
LSM/Figur
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
LSM/Figur
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Pemerintah
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau