Editor
KOMPAS.com - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Indonesia Tourism Development Corporation/ITDC) mengolah produksi sampah organik sebanyak 22,9 ton per hari menjadi kompos yang digunakan kembali untuk pemupukan taman kawasan setempat.
“Sampah organik itu salah satunya berasal dari taman berupa daun dan ranting yang kami cacah dan kami jadikan kompos,” kata Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas Anak Agung Istri Ratna Dewi, dikutip dari Antara Kamis (7/6/2026).
Sampah organik itu diproduksi menjadi kompos di kawasan pengolahan sampah yang ada di area Lagoon Nusa Dua, yang juga menjadi lokasi mengolah limbah cair dari perhotelan.
Baca juga: 2 Minggu TPA Suwung Tolak Sampah Organik, Sampah Liar Berserakan di Bali
Untuk mengurangi produksi sampah, beberapa perhotelan juga melakukan pengolahan secara mandiri untuk sampah organik berupa sisa makanan misalnya dengan memanfaatkan magot.
Ia menjelaskan total produksi sampah di kawasan wisata seluas total 350 hektare itu mencapai 32,3 ton per hari, sebanyak 70 persen atau 22,9 ton di antaranya adalah sampah organik
Sisanya, sebanyak 4,1 ton adalah sampah anorganik atau 13,5 persen di antaranya berasal dari kantin, perkantoran, sampah di Pulau Nusa Dharma dan Pulau Peninsula serta fasilitas lain di kawasan premium itu.
Sampah anorganik itu kemudian dikumpulkan dan disortir di area Lagoon yang menjadi tempat pengelolaan sampah (TPS) kemudian hasil sortiran itu dikelola oleh Tempat Pengolahan Sampah berbasis pengurangan timbulan sampah, pemanfaatan kembali dan daur ulang (TPS3R).
Baca juga: Satgas Naturalisasi Ciliwung: Buang Sampah Organik ke Sungai Picu Ledakan Ikan Sapu-sapu
Kemudian sampah dari laut dikumpulkan mencapai hampir 1.945 kilogram per hari dan sampah lainnya mencapai 1.850 kilogram per hari dan sampah residu mencapai 1.343 kilogram per hari atau 3,8 persen.
“Sekitar 95 persen dari total produksi sampah dapat diproses dan dimanfaatkan kembali, hanya sekitar 3,8 persen berupa residu yang kami bawa ke tempat pengolahan akhir (TPA),” ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya