Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?

Kompas.com, 8 Mei 2026, 17:58 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru dari University of Bristol di Inggris menemukan berkurangnya serangga penyerbuk secara langsung dapat mengancam kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Melansir Phys, Rabu (6/5/2026) penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature ini menunjukkan keanekaragaman hayati berperan penting dalam menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh kita sehari-hari.

Sudah lama diketahui bahwa serangga penyerbuk sangat penting membantu menghasilkan buah, sayur, dan kacang-kacangan yang menjadi sumber vitamin serta mineral, namun bukti nyata tentang bagaimana berkurangnya serangga ini berdampak langsung pada manusia selama ini masih terbatas.

Dalam studinya peneliti pun melakukan penelitian di sepuluh desa pertanian kecil di Nepal dan lingkungan sekitarnya. Setelah itu para peneliti mengamati hubungan antara serangga penyerbuk liar, jumlah hasil panen, dan nutrisi yang dibutuhkan oleh keluarga di sana.

Baca juga: Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan

Dengan memantau pola makan, kandungan gizi tanaman, dan serangga yang mendatangi tanaman tersebut selama setahun, tim peneliti membuktikan bahwa serangga penyerbuk berperan langsung dalam mendukung pemenuhan gizi dan mata pencaharian warga.

Pentingnya serangga penyerbuk

Penelitian ini menemukan bahwa serangga penyerbuk sangat penting bagi gizi dan penghasilan keluarga petani.

Serangga penyerbuk menyumbang 44 persen dari pendapatan pertanian warga dan memberikan lebih dari 20 persen asupan vitamin A, folat, serta vitamin E mereka.

Ketika jumlah serangga berkurang, keluarga petani berisiko kekurangan gizi, sehingga lebih mudah jatuh sakit dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan serta kesehatan yang buruk. Saat ini, seperempat penduduk dunia menderita "kelaparan tersembunyi" semacam ini.

Penelitian ini menunjukkan adanya peluang besar untuk perubahan positif ketika masyarakat membantu melindungi serangga penyerbuk, asupan gizi dan penghasilan mereka bisa meningkat.

Langkah-langkah sederhana seperti menanam bunga liar, mengurangi penggunaan pestisida, atau memelihara lebah lokal dapat membantu memperbanyak jumlah serangga penyerbuk, yang pada akhirnya memperkuat alam sekaligus kesejahteraan manusia.

Meskipun petani kecil sangat rentan terhadap kehilangan keanekaragaman hayati, tindakan nyata di tingkat lokal ini dapat meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi mereka. Temuan ini juga dapat membantu memperbaiki kesehatan dan mata pencaharian jutaan petani kecil di seluruh dunia.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati bukanlah sebuah kemewahan. Ini adalah hal mendasar bagi kesehatan, gizi, dan mata pencaharian kita," ungkap Dr. Thomas Timberlake, peneliti utama studi ini

Peluang memperbaiki alam

Dengan menunjukkan bagaimana spesies seperti serangga penyerbuk membantu menghasilkan makanan yang kita makan, peneliti tidak hanya memperlihatkan risiko kehilangan alam bagi kesehatan manusia, tetapi juga peluang besar untuk memperbaiki hidup manusia dengan cara bekerja sama dengan alam.

Jane Memmott, Profesor Ekologi dan penulis senior, menambahkan ada situasi yang menguntungkan semua pihak di mana kita bisa memperbaiki kondisi alam sekaligus membantu manusia secara bersamaan.

Ini membutuhkan pemahaman tentang alam, tetapi biayanya sangat murah dan memberikan keuntungan besar bagi kedua belah pihak.

"Lebih dari separuh anak-anak dalam penelitian kami stunting. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pola makan buruk yang sangat bergantung pada sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan yang dihasilkan lewat bantuan serangga penyerbuk," terang Dr. Naomi Saville dari University College London.

Seiring berkurangnya keragaman serangga penyerbuk, upaya untuk memulihkan populasi serangga penyerbuk sangatlah penting.

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa kesehatan manusia sangat terikat dengan kesehatan alam. Dengan mengamati bagaimana serangga penyerbuk mendukung produksi pangan dan pola makan, studi ini mengungkapkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi.

Dengan sekitar 2 miliar orang yang bergantung pada pertanian kecil dan banyak di antaranya kekurangan vitamin, melindungi alam yang menyediakan makanan bergizi sangatlah penting untuk pembangunan masa depan.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Serangga di Daerah Tropis Sulit Beradaptasi

Lebih lanjut, temuan penelitian ini memberikan panduan nyata bagi pemerintah dan petani untuk merancang sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Meskipun penelitian ini dilakukan di Nepal, hubungan yang sama juga terjadi di seluruh dunia. Pola makan di negara-negara maju pun masih sangat bergantung pada serangga penyerbuk dan ekosistem yang menjaga kelangsungan pertanian global.

Peneliti kini mulai bekerja sama dengan petani, organisasi lokal, peneliti, dan pemerintah untuk membantu masyarakat memahami betapa berharganya serangga penyerbuk serta cara mendukung keberadaan serangga dalam pertanian.

Dengan menunjukkan mengapa serangga penyerbuk sangat penting serta membagikan teknik sederhana dan praktis untuk menjaga mereka, para peneliti mulai melihat para petani melakukan perubahan.

Perubahan ini membantu meningkatkan hasil panen, gizi, dan penghasilan mereka. Gabungan upaya ini menunjukkan bagaimana bukti ilmiah dapat membawa perubahan nyata di dunia, yakni meningkatkan kesehatan, mata pencaharian, serta ketahanan masyarakat dengan cara memulihkan kelestarian alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peringati Kemenangan Lawan Nazi, Rusia Tanam Mangrove di Jakarta
Peringati Kemenangan Lawan Nazi, Rusia Tanam Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau