Temuan dari studi ini menyoroti hubungan penting antara iklim dan konflik, dengan lembaga meteorologi Amerika dan Eropa memprediksi kemunculan El Niño pada akhir tahun ini, dan bahkan beberapa perkiraan mengantisipasi El Niño super.
"Temuan kami sangat tepat waktu," ujar Bagwell.
Tim peneliti mengambil pendekatan yang lebih mendetail dibandingkan studi sebelumnya. Dengan membangun kumpulan data baru beresolusi tinggi berisi lebih dari 500 kejadian konflik pada periode 1950–2023, para peneliti menentukan secara tepat dalam ruang maupun waktu, yang mampu melampaui agregasi tingkat negara dan memeriksa hubungan lokal.
Baca juga: El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
"Tingkat detail spasial yang mendokumentasikan konflik dalam rentang waktu yang begitu panjang belum pernah ada sebelumnya dalam sebuah dataset. Hal ini memungkinkan kami untuk melihat bagaimana variabilitas iklim memengaruhi risiko konflik pada skala yang jauh lebih lokal selama beberapa dekade," tutur Bagwell.
Pembuatan dataset menjadi pekerjaan besar, dengan Anna Stravato dan Divya Saikumar menganalisis sumber-sumber primer secara manual. Itu termasuk laporan berita dalam berbagai bahasa, untuk menentukan lokasi geografis setiap peristiwa konflik, sebuah proses yang dapat memakan waktu hingga satu jam per kasus.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya