Suhu panas memperburuk kualitas udara, memperparah penyakit pernapasan, dan memicu serangan jantung atau stroke.
Lebih lanjut, polusi partikel kecil, PM2.5, yang dihasilkan oleh kebakaran hutan bisa 10 kali lebih berbahaya bagi kesehatan manusia dibandingkan asap kendaraan bermotor.
Sebuah studi Lancet tahun 2024 menemukan bahwa 1,53 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh polusi udara dari kebakaran hutan. Angka ini empat kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Pada kebakaran di Australia tahun 2019, sebanyak 33 orang meninggal langsung akibat kobaran api, namun asap dari kebakaran hutan tersebut menewaskan 417 orang lainnya.
Dalam kebakaran di Los Angeles pada Januari 2025, para peneliti menemukan jumlah kematian akibat paparan asap hampir 50 persen lebih banyak daripada korban yang meninggal langsung karena api.
Dr. Mahmood mengatakan ia khawatir karena pemerintah di berbagai negara secara diam-diam mulai menarik diri dari janji-janji mereka terkait masalah iklim dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya
"Bahasa yang digunakan mulai melunak, ambisinya mulai berkurang, dan beberapa pihak bersikap seolah-olah krisis iklim adalah bab yang bisa kita tutup begitu saja. Atau setidaknya ditunda sampai periode pemilu berikutnya," katanya.
"Alam, tentu saja, tidak membaca catatan politik. Organisasi Meteorologi Dunia kini memberi tahu kita bahwa planet kita sedang dalam kondisi yang paling tidak seimbang dibandingkan waktu mana pun dalam sejarah," ungkapnya lagi.
Dr. Friederike Otto, salah satu pendiri kelompok World Weather Attribution menambahkan meskipun El Niño bisa menyebabkan kondisi yang sangat ekstrem di akhir tahun ini, itu bukan alasan untuk panik secara berlebihan.
El Niño adalah fenomena alam biasa yang datang dan pergi. Sebaliknya, perubahan iklim justru akan terus memburuk selama kita tidak berhenti membakar bahan bakar fosil."
"Jadi, perubahan iklimlah yang seharusnya membuat kita sangat khawatir. Dan idealnya, kekhawatiran itu diubah menjadi tindakan nyata karena kita sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan. Kita sudah punya pengetahuan dan teknologi untuk beralih sepenuhnya dari penggunaan bahan bakar fosil," tambah Dr. Otto.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya