JAKARTA, KOMPAS.com- Di sudut Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Wasriah (55) menenteng satu karung berisi kaleng, botol plastik, dan potongan besi. Waktu yang ia miliki untuk memulung kini tak banyak, yakni hanya sekitar satu jam setiap hari.
Namun, bagi Wasriah, satu jam bisa berarti mampu menghasilkan satu karung sampah. Itu lebih dari sekadar barang bekas, namun juga tabungan sekaligus dana darurat untuk menyambung hidup.
Dari hasil memulung, Wasriah tak lagi menjual semua temuannya kepada pengepul. Ia memilih menyisihkan barang-barang yang nilainya lebih tinggi, seperti besi dan kaleng, untuk ditabung di bank sampah yang dikelola komunitas Swara Hijau Farm.
Baca juga: Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin Sapu Teknologi
“Sekarang enggak semuanya dijual langsung. Yang mahal seperti besi atau kaleng saya kumpulkan dulu. Nanti kalau sudah banyak, dijual untuk kebutuhan bulanan,” ujar Wasriah kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Tabungan sampah itu pernah menjadi penyelamatnya. Suatu ketika, Wasriah mencairkan hasil tabungannya sebesar Rp 150.000 untuk menutup kekurangan biaya kontrakan.
Nominal itu mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Wasriah, uang tersebut sangat berarti.
Ia masih menanggung kebutuhan tiga cucunya, termasuk biaya sekolah, makan, dan uang jajan. Belum lagi popok untuk salah satu cucunya yang masih balita.
“Popok mahal, ukuran XXL sekarang sekitar Rp 100.000. Itu cuma cukup untuk tiga hari,” katanya.
Perjalanan hidup Wasriah tak pernah lepas dari kesulitan.
Bertahun-tahun lalu, ia harus menghadapi kenyataan pahit ketika suaminya pergi meninggalkan dirinya bersama enam anak yang masih kecil. Saat itu, Wasriah terjerat utang hingga Rp 5 juta.
Ia melunasi utang itu perlahan-lahan dengan memulung dan bekerja di Swara Hijau Farm, sebuah kebun hidroponik dan pusat pemberdayaan warga di Klender.
Sebelum mengenal bank sampah, Wasriah beberapa kali meminjam uang dari bank keliling, dengan nilai mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 2 juta. Setiap kali ada kebutuhan mendesak, seperti sakit atau biaya sekolah, pinjaman berbunga tinggi itu menjadi satu-satunya jalan keluar.
Kini, situasinya mulai berubah. Selain bekerja di Swara Hijau Farm, Wasriah juga merawat suaminya yang telah kembali namun terserang stroke. Waktunya untuk memulung memang jauh berkurang dibanding dulu, ketika ia biasa menyusuri jalanan dari sore hingga tengah malam.
Namun, ia tetap bersyukur masih bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah bernilai untuk ditabung.
Baca juga: Jerman Jadi Pengeskpor Sampah Plastik Terbesar di Dunia, Indonesia Tujuan Utamanya
Cerita serupa dialami Halimah. Setiap hari, perempuan itu memulung selama sekitar empat jam dan membawa pulang Rp 30.000 hingga Rp 40.000. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya.
Dari hasil memulung, Halimah juga menyisihkan sebagian kardus dan botol plastik untuk ditabung.
“Lebaran kemarin saya ambil tabungan Rp 150.000. Buat jajan anak-anak dan beli baju,” katanya.
Ia mengaku merasa senang karena tabungan sampah memberinya kesempatan untuk menyimpan uang tanpa terasa.
“Kalau dapat banyak kardus atau botol, saya sisihkan satu karung. Lama-lama jadi tabungan,” ujarnya.
Tempat penampungan tabungan sampah yang disetorkan para ibu pemulung di Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Selasa (12/5/2026).Pendiri Swara Hijau Farm, Endang Mintarja, mengatakan ide bank sampah muncul dari kenyataan yang ia lihat setiap hari. Para ibu pemulung, menurut Endang, nyaris tak pernah memiliki sisa uang.
“Mereka cari uang hari ini untuk makan hari ini. Jadi ketika ada kebutuhan mendadak, mereka larinya ke bank keliling,” kata Endang.
Pinjaman itu kerap memberatkan karena dana yang diterima sudah dipotong biaya administrasi, sementara cicilan harus dibayar keesokan harinya.
Melihat kondisi itu, Swara Hijau Farm mendorong para pemulung untuk menabung dalam bentuk sampah.
Setiap setoran dicatat, lalu nilainya dihitung berdasarkan harga barang saat tabungan dicairkan. Tidak ada biaya administrasi, dan berbagai jenis sampah bernilai diterima, seperti kardus, botol plastik, kaleng, dan besi.
Menurut Endang, cara ini efektif justru karena para pemulung cenderung melupakan sampah yang sudah mereka setor.
Baca juga: Jejak Harapan di Kampung Pemulung Bekasi, Sekolah Gratis di Tengah Sampah
“Karena bentuknya bukan uang tunai, mereka enggak tergoda untuk langsung menggunakannya,” ujarnya.
Di Swara Hijau Farm, tumpukan kardus dan botol plastik tak lagi dipandang sebagai limbah semata.
Bagi Wasriah dan Halimah, sampah adalah bentuk tabungan paling sederhana—tetapi juga paling nyata. Dari sana, mereka bisa membayar kontrakan, membeli popok, menyediakan baju Lebaran untuk anak-anak, hingga menghindari jeratan utang berbunga tinggi.
Setiap karung yang mereka bawa menyimpan harapan kecil: bahwa hidup, seberat apa pun, masih bisa dijalani dengan sedikit demi sedikit yang disisihkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya