Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
BERITA tentang bencana alam di Indonesia seperti tidak ada habisnya. Tanpa perlu menyebut satu persatu, bencana terjadi hampir di semua wilayah di Indonesia, termasuk dampak pemanasan global yang merata.
Bulan April 2026 ini pun, bukan sekedar kabar April mop, diawali dengan banjir yang kembali menerjang kawasan Aceh dan Sumatra Utara.
Kenyataan yang sangat pahit bagi warga. Sebab utamanya bukan alam yang mengamuk, tetapi tata kelola.
Ini berujung pada pertanyaan tentang sikap dan pandangan para pengambil kebijakan. Karena itu, pada Hari Bumi, semua perlu merenungkan kembali sikapnya pada bumi.
Hari Bumi, yang 'dirayakan' setiap tanggal 22 April sejak tahun 1970 sekarang ini sudah menjadi acara peringatan wajib untuk warga bumi.
Peringatan yang yang mendorong banyak aksi peduli bumi ini digagas oleh banyak akademisi, aktivis, yang didukung oleh tak sedikit pengusaha di Amerika Serikat.
Pemicunya adalah 'kemuakan' mereka atas makin hancurnya bumi.
Baca juga: Paus Leo XIV: Dekonstruksi Era Pos-kebenaran
Tumpahnya minyak yang mengotori dan membunuh ribuan biota laut di Santa Barbara, California serta polusi serta kebakaran di Sungai Cuyayoga, Cleveland pada tahun 1969, tanpa mengurangi dampak buruknya, hanyalah pemantik.
Kemuakan itu tidak muncul begitu saja. Selain adanya begitu banyak fenomena kehancuran lingkungan di Amerika Serikat dan belahan bumi lain, ada kesadaran pemikiran yang berubah.
Memang ada banyak buku terkait dengan lingkungan hidup yang, seperti misalnya buku Silent Spring oleh Rachel Carson (1962).
Memang, Hari Bumi bisa dibaca sebagai sebuah kesadaran akan lingkungan, atau tepatnya tentang bumi yang dihuni manusia beserta lingkungan biotik dan abiotiknya.
Hanya, jika ditelusuri lebih jauh, gerakan kesadaran lingkungan ini, beserta kesadaran-kesadaran alternatif lainnya yang mendobrak kemapanan, muncul di akhir tahun 1960-an.
Ada gerakan feminisme dan anti-kapitalisme. Ada gerakan kebebasan anak muda. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari pemikiran para filsuf dari Sekolah Frankfurt (Frankfurt School), khususnya Herbert Marcuse.
Karya ikonik atau magnum opus dari Marcuse adalah bukunya yang berjudul One Dimensional Man (1964).
Karya yang bersifat filosofis ini mengritik kehidupan dunia modern dengan segala ideologinya atau cara pandang hidupnya.
Modernitas membuat manusia tidak bisa berpikir alternatif dan kreatif, dan di lain sisi juga menggendong banyak ketidak-adilan.
Dalam konteks kesadaran tentang bumi, muncul pula pemikiran-pemikiran alternatif dari para pemikir di luar Amerika Serikat.
Di Norwegia, Arne Naess menulis buku terkenal berjudul The Shallow and The Deep, Long-Range Ecology Movement (1973). Di Jerman ada Hans Jonas dengan The Imperative of Responsibiltiy 1979.
Baca juga: Mencari Jalan Tengah di Habitat Naga
Di Polandia ada juga Henryk Skolimowski dengan Eco-philosophy: Designing New Tactic for Living (1981).
Di India, dikenal pemikiran dan aktivitas antara lain dari Mahatma Gandhi, dan Vandana Shiva, termasuk Sundelal Bahuguna dengan gerakan Chipko-nya, yang mengajak orang memeluk pohon.
Jika diringkas, para pemikir itu menggaris-bawahi tiga hal yang penting untuk bisa hidup damai bersama -bukan hanya di atas- bumi.
Yang pertama adalah bahwa semua yang di atas bumi, biotik maupun abiotik, bukan hanya saling terhubung, melainkan saling tergantung.
Ekosistem bumi dengan simbiosis mutualisme yang dikenali dalam biologi adalah indikas terbesarnya. Yang kedua adalah bahwa setiap makhluk dan juga 'benda mati' pada dasarnya mempunyai nilai pada dirinya.
Dalam bahasa kebanyakan masyarakat adat di Indonesia, masing-masing mempunyai 'roh'-nya sendiri.
Inilah yang sulit dipahami dan dilihat oleh orang yang terbiasa dengan cara berpikir tunggal seperti dikatakan Marcuse.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya