Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lonjakan Gas Metana Global Paling Banyak Terjadi di Asia dan Afrika

Kompas.com, 15 Mei 2026, 08:33 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kadar gas metana di atmosfer telah melonjak ke angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan diperkirakan akan naik hingga 13 persen pada tahun 2030, menurut laporan dari Climate & Clean Air Coalition.

Melansir Phys, Rabu (13/5/2026) para ilmuwan pun kini berusaha memahami penyebab kenaikan tersebut.

Mereka menggunakan metode pelacakan molekul khusus yang disebut isotopolog metana untuk mencari tahu dari mana emisi tersebut berasal dan bagaimana perubahannya di seluruh dunia.

Hasil studi itu kemudian dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Baca juga: Sektor Perbankan Dinilai Lalai Tangani Polusi Metana

"Isotopolog metana bekerja seperti sidik jari alami. Hal ini memungkinkan kita untuk membedakan berbagai sumber metana dan lebih memahami bagaimana emisi tersebut berkembang," kata Xueying Yu, pengajar penelitian di Pusat Penelitian Ilmu Atmosfer Universitas Albany sekaligus penulis utama studi.

Untuk melakukan penelitian ini, Yu dan tim peneliti internasional menggabungkan pengamatan satelit dengan pengukuran langsung dari darat untuk memperbaiki perkiraan emisi metana dunia dari tahun 2019 hingga 2021.

Dengan memasukkan informasi tersebut, model penelitian ini memperkirakan bahwa emisi metana global ternyata sedikit lebih tinggi dibandingkan hasil yang hanya menggunakan pengamatan biasa.

Penelitian ini juga menunjukkan perbedaan penting di berbagai wilayah. Emisi metana ternyata lebih tinggi di Asia Timur terutama Cina, Asia Selatan terutama India, dan Afrika Tengah.

Sebaliknya, emisi di wilayah Hutan Amazon justru lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

"Metana adalah gas rumah kaca berbahaya yang berasal dari alam maupun kegiatan manusia," kata Yu.

"Temuan kami menunjukkan bahwa kegiatan manusia punya peran lebih besar dalam kenaikan gas metana akhir-akhir ini daripada yang kita kira sebelumnya khususnya dari bahan bakar fosil di wilayah seperti Cina dan India. Sementara emisi alami dari lahan basah di Amazon ternyata lebih rendah dari yang diperkirakan," terangnya lagi.

Bersamaan dengan temuan tersebut, penelitian ini memperkenalkan cara baru untuk melacak emisi metana dengan mensimulasikan isotop dalam sistem atmosfer tiga dimensi (3D) yang lengkap.

Baca juga: Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia

Penelitian isotop metana sebelumnya lebih banyak mengandalkan "model kotak" yang sederhana, yang tidak bisa sepenuhnya menggambarkan bagaimana gas tersebut berpindah di udara, bercampur, atau berbeda-beda di setiap wilayah.

Sistem baru ini justru memasukkan data isotop secara langsung ke dalam model sistem Bumi tiga dimensi.

"Metode ini memungkinkan kami untuk menggabungkan data metana dari satelit dan pengukuran langsung dari darat secara konsisten, baik dari segi lokasi maupun waktu," kata Yu.

"Cara ini memberikan gambaran yang lebih nyata dan lebih akurat mengenai asal-usul serta proses gas metana dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lonjakan Gas Metana Global Paling Banyak Terjadi di Asia dan Afrika
Lonjakan Gas Metana Global Paling Banyak Terjadi di Asia dan Afrika
LSM/Figur
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau