Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri

Kompas.com, 15 Mei 2026, 17:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Penelitian baru dari Universitas Teknologi Chalmers di Swedia menyebut peraturan Uni Eropa (UE) yang dibuat untuk mempercepat penggunaan bahan bakar pesawat ramah lingkungan (SAF) justru bisa secara tidak sengaja membuat bahan bakar tersebut menjadi lebih mahal dan boros energi.

Studi tersebut menemukan bahwa peraturan yang ada saat ini lebih mendukung cara produksi yang menghabiskan lebih banyak listrik dan sumber daya, padahal sebenarnya sudah ada cara lain yang lebih efisien secara teknis.

Temuan diterbitkan saat ketegangan politik dunia termasuk perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta kekhawatiran atas tidak stabilnya harga minyak.

Ini membuat Eropa semakin fokus untuk meningkatkan produksi bahan bakar pesawat bebas fosil di dalam negeri.

Baca juga: Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi

Melansir Down to Earth, Kamis (14/5/2026) berdasarkan aturan UE yang diperkenalkan tahun lalu, pemasok bahan bakar pesawat wajib memastikan bahwa setidaknya 2 persen bahan bakar di bandara UE adalah bahan bakar ramah lingkungan.

Angka ini akan terus naik hingga mencapai 70 persen pada tahun 2050. Setengah dari jumlah tersebut harus berasal dari bahan bakar terbarukan non-biologis (RFNBO), yaitu kategori bahan bakar buatan yang dibuat dari hidrogen terbarukan dan karbon dioksida.

Namun para peneliti di Chalmers mengatakan bahwa peraturan saat ini justru lebih mendukung sistem produksi bahan bakar yang tidak langsung dan kurang efisien.

“Peraturan tidak hanya memengaruhi investasi industri pada teknologi, tetapi juga menentukan hal apa yang diprioritaskan dalam penelitian dan pengembangan,” kata Henrik Thunman, profesor teknologi energi di Chalmers.

“Alih-alih mendorong inovasi menuju solusi yang paling efisien, kita berisiko terjebak dalam metode produksi yang kurang hemat sumber daya,” terangnya.

Membuat SAF yang efisien

Para peneliti pun kemudian menganalisis tiga cara berbeda untuk membuat metanol sintetis, yaitu bahan yang nantinya diubah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

Dua cara pertama menggunakan pembakaran biomassa, di mana gas sisa pembakaran ditangkap lalu dicampur dengan hidrogen yang dibuat menggunakan listrik. Cara ketiga menggunakan gasifikasi biomassa, yaitu memanaskan biomassa secara langsung untuk diubah menjadi gas yang sudah mengandung karbon dan hidrogen.

Menurut studi tersebut, cara gasifikasi hasilnya jauh lebih baik.

“Cara gasifikasi terbukti paling hemat sumber daya dalam analisis kami, dengan biaya produksi hingga 46 persen lebih murah dan butuh listrik 30 persen lebih sedikit dibandingkan dua cara lainnya,” kata Johanna Beiron, peneliti utama laporan tersebut.

Namun, para peneliti mengatakan bahwa peraturan UE tidak mengakui sebagian besar mengeluarkan bahan bakar berbasis gasifikasi dari kategori RFNBO karena proses tersebut di anggap terlalu banyak menggunakan karbon dan energi langsung dari biomassa.

Sebaliknya, bahan bakar yang dibuat melalui cara pembakaran dianggap memenuhi syarat sebagai bahan bakar ramah lingkungan  jika karbon dioksidanya ditangkap setelah biomassa dibakar untuk tujuan lain, seperti di pembangkit listrik dan pemanas.

Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan

Studi pun memperingatkan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan tekanan pada sumber daya biomassa yang terbatas sekaligus meningkatkan kebutuhan energi secara keseluruhan.

Salah satu tujuan pengelompokan RFNBO sendiri adalah untuk mendorong peningkatan produksi listrik terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada biomassa.

Namun, kerangka aturan saat ini justru berisiko membuat penggunaan biomassa menjadi kurang hemat energi.

Thunman menambahkan bahwa sebagian dari kerangka aturan tersebut mungkin perlu diperbaiki jika Uni Eropa ingin mencapai target iklim dan industri jangka panjang mereka.

“Perlu koordinasi yang lebih baik antara target iklim, penghematan sumber daya, dan kemungkinan penerapan di industri,” katanya.

“Ketidakpastian saat ini mempersulit pengambilan keputusan investasi yang masuk akal untuk memperluas produksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan secara besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan,” paparnya lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau