KOMPAS.com-Data terbaru dari GlobeScan menunjukkan bahwa tim corporate affairs perusahaan merasa kurang percaya diri dalam menghadapi ancaman deepfake dan misinformasi yang dibuat oleh AI.
Padahal, risiko penggunaan AI kini semakin naik ke peringkat atas dalam daftar ancaman bisnis global.
Melansir Trellis, Kamis (14/5/2026) riset corporate affairs dari GlobeScan tahun 2026 ini memperlihatkan adanya kesenjangan yang melebar antara meningkatnya risiko terkait AI dan kesiapan perusahaan untuk mengatasinya.
Saat ini, sebanyak 44 persen praktisi di seluruh dunia menyebut dampak AI dan teknologi sebagai salah satu risiko terbesar yang dihadapi bisnis global dalam dua tahun ke depan, melonjak tajam dibanding tahun 2025 yang hanya 17 persen.
Meski begitu, tingkat kepercayaan diri mereka dalam menangani deepfake yang merupakan salah satu ancaman AI paling nyata saat ini serta misinformasi buatan AI masih sangat rendah.
Baca juga: Anak Perempuan Kurang Percaya Diri Hadapi Teknologi AI Dibandingkan Laki-Laki
Secara global, hanya 18 persen praktisi yang menyatakan bahwa tim corporate affairs mereka siap menghadapi insiden deepfake atau hoaks berbasis AI, sementara 43 persen menyatakan tidak terlalu siap.
Sebanyak 30 persen lainnya menyatakan agak siap, yang menunjukkan bahwa banyak perusahaan baru memiliki rencana sebagian atau kemampuan tahap awal, bukan sistem penanganan yang benar-benar matang dan teruji.
Karena AI membuat konten palsu menjadi semakin terlihat meyakinkan, menyebar lebih cepat, dan jangkauannya lebih luas, celah ketidaksiapan ini menjadi risiko reputasi yang semakin besar bagi perusahaan.
Sementara itu pola kesiapan menghadapi tantangan deep fake dan AI di setiap wilayah menunjukkan perbedaan yang cukup penting.
Eropa menjadi wilayah dengan tingkat kepercayaan diri yang paling rendah, di mana 46 persen responden menyatakan tim mereka tidak siap dan 11 persen lainnya tidak bisa memberikan jawaban.
Di Afrika, lebih dari separuh responden juga masuk dalam dua kategori tersebut yakni masing-masing 42 persen tidak siap dan 15 persen tidak bisa menjawab.
Di Amerika Utara, hanya 11 persen praktisi yang mengaku benar-benar siap, sementara 42 persen merasa agak siap.
Hal ini mencerminkan penilaian yang berhati-hati terhadap rumitnya mengelola hoaks berbasis AI. Di sisi lain, para responden di Amerika Latin melaporkan kepercayaan diri tertinggi dalam hal kesiapan, yang menurut sebagian orang mungkin mencerminkan rasa optimis yang terlalu meremehkan ancaman di masa depan.
Hasil per sektor mempertegas bahwa tingkat bahaya yang dihadapi dan kesiapan perusahaan tidak selalu sejalan.
Praktisi hubungan korporat di sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta media hiburan relatif lebih percaya diri, di mana sekitar sepertiganya menyatakan sudah siap. Hal ini wajar karena pekerjaan mereka memang lebih dekat dengan platform digital dan risiko terkait AI.
Sebaliknya, sektor produk konsumen dan ritel menunjukkan tingkat kesiapan yang paling lemah, dengan 62 persen responden mengaku tidak terlalu siap dan hanya 8 persen yang menyatakan siap.
Baca juga: Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya