KOMPAS.com - Taiwan berjanji untuk memperkuat kerja sama dalam menangani polusi mikroplastik melalui strategi "darat-laut" yang fokus pada pengurangan limbah dari sumbernya, pemantauan ilmiah, dan daur ulang sampah laut.
Hal ini dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak partikel plastik bagi lingkungan dan kesehatan.
Melansir Eco Business, Rabu (13/5/2026) Dewan Urusan Kelautan dan Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan menyatakan akan memperkuat pengelolaan mikroplastik melalui lima bidang utama yakni pengurangan polusi di sumbernya, pemantauan ilmiah, daur ulang, pembersihan sampah laut, serta kerja sama internasional.
Menteri Dewan Urusan Kelautan Kuan Bi-ling mengatakan bahwa lautan adalah aset alam Taiwan yang paling berharga dan fondasi penting bagi mata pencaharian dan industri.
Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
Kuan mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan survei pengambilan sampel mikroplastik di perairan dekat muara sungai besar di sekitar Taiwan sejak tahun 2020. Hal ini dilakukan untuk membuat basis data dasar selama enam tahun mengenai konsentrasi mikroplastik di laut.
Menurut data pemerintah, konsentrasi mikroplastik di permukaan air sekitar Taiwan berkisar dari tingkat yang tidak terdeteksi hingga 2,28 partikel per meter kubik. Angka ini secara garis besar masih dalam rentang yang dicatat oleh studi domestik maupun internasional.
Bahan yang paling umum ditemukan adalah polietilena (PE), polipropilena (PP), dan polistirena (PS). Sementara itu, jika dilihat dari jenisnya, fragmen atau pecahan plastik merupakan bagian yang paling banyak ditemukan.
Jenis-jenis plastik tersebut banyak digunakan dalam kemasan, wadah sekali pakai, alat pancing, dan produk rumah tangga, sehingga menjadi salah satu bentuk polusi plastik laut yang paling umum di seluruh dunia.
Pihak berwenang mengatakan bahwa data jangka panjang ini akan membantu menemukan lokasi pusat polusi dan pola musiman, serta memberikan dasar ilmiah untuk pembuatan kebijakan dan pencegahan polusi di masa depan.
Kuan mengatakan bahwa sebagian besar mikroplastik di laut berasal dari sampah plastik besar yang hancur seiring berjalannya waktu karena terkena sinar matahari, cuaca, dan pecah menjadi fragmen kecil.
Hal ini menegaskan pentingnya fokus pada pengelolaan sampah laut serta pemantauan.
Dari tahun 2020 hingga 2025, Taiwan telah mengajak 6.665 kapal penangkap ikan masuk dalam program "Armada Lingkungan" dan 6.089 penyelam sukarelawan dalam inisiatif pembersihan laut.
Bekerja sama dengan 19 pemerintah daerah pesisir, mereka berhasil mengangkut lebih dari 19.000 ton sampah dari lautan dan garis pantai.
Kuan memperingatkan bahwa polusi mikroplastik telah menjadi masalah di seluruh dunia, bukan lagi masalah di satu tempat saja.
Mikroplastik dapat berpindah melewati batas negara melalui udara dan juga bisa berasal dari sumber sehari-hari, seperti air limbah cucian baju. Berbagai studi juga telah menemukan mikroplastik di dalam air hujan, salju di Kutub Utara, endapan laut dalam, hingga di dalam darah dan plasenta manusia.
Baca juga: Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Hal ini meningkatkan kekhawatiran para ilmuwan dan pemerintah mengenai dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan dan kesehatan.
“Untuk mengelola lautan, kita tidak bisa hanya fokus pada laut saja. Kita juga harus bekerja keras membenahi sistem yang ada di daratan,” ujar Kuan.
Lebih lanjut meskipun Taiwan bukan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kuan mengatakan bahwa Taiwan akan tetap menyelaraskan kebijakannya dengan prinsip-prinsip Perjanjian Plastik Global.
Caranya adalah dengan menerapkan pendekatan pengelolaan plastik dari awal pembuatan hingga akhir dan membagikan data pemantauan mereka ke tingkat internasional.
Kementerian Lingkungan Hidup sendiri akan fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya dan pencegahan polusi.
Sementara itu, Dewan Urusan Kelautan akan mengawasi pemantauan lingkungan laut dan penilaian dampaknya. Hal ini merupakan bagian dari rantai pengelolaan menyeluruh untuk mengurangi aliran mikroplastik ke lautan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya