KOMPAS.com - Kemasan makanan plastik, tutup botol, dan botol plastik adalah jenis sampah yang paling banyak mengotori lautan di bumi. Ini merupakan hasil dari laporan pertama di dunia yang mengelompokkan sampah laut berdasarkan cara pemakaiannya.
Melansir Phys, Rabu (20/5/2026) penelitian baru ini mengumpulkan dan memeriksa lebih dari 5.000 data survei sampah di pantai.
Hasilnya, mereka berhasil mengungkap jenis sampah apa saja yang paling mendominasi di seluruh 7 benua, 9 sistem samudra, 13 wilayah laut, dan 112 negara yang mencakup wilayah yang ditinggali oleh 86 persen total penduduk dunia.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik yang berhubungan dengan makanan dan minuman mendominasi sampah di pinggir pantai seluruh dunia.
Sampah jenis ini masuk dalam tiga besar jenis sampah paling banyak di 93 persen negara, termasuk Inggris dan lima negara dengan penduduk terbanyak di dunia yaitu India, China, Amerika Serikat, Indonesia, dan Pakistan.
Baca juga: PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat
Secara khusus, kemasan makanan plastik, tutup botol, dan botol plastik menjadi barang yang paling banyak ditemukan di lebih dari setengah jumlah negara di dunia, diikuti oleh kantong plastik dan puntung rokok di urutan berikutnya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal One Earth ini dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Plymouth, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Brunel London, dan Laboratorium Laut Plymouth.
Penelitian ini muncul saat perkiraan menunjukkan bahwa ada 20 juta metrik ton sampah plastik yang masuk ke lingkungan setiap tahunnya. Para penulis penelitian menyatakan bahwa sekarang sudah sangat jelas bahwa urusan mengelola sampah saja tidak akan mampu mengatasi masalah polusi plastik.
Oleh karena itu, diperlukan tindakan nyata yang mendesak untuk mengurangi jumlah plastik yang diproduksi sejak awal.
Tindakan nyata tersebut, misalnya, bisa berupa aturan yang memastikan bahwa pabrik-pabrik hanya boleh memproduksi jenis plastik yang benar-benar memberikan manfaat penting bagi masyarakat.
Profesor Richard Thompson, pendiri dan Kepala Unit Penelitian Sampah Laut Internasional di Universitas Plymouth sekaligus penulis utama penelitian ini, mengatakan polusi plastik adalah masalah lingkungan global yang memberikan dampak buruk yang sangat besar bagi lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia.
"Penelitian ini untuk pertama kalinya berhasil memetakan jenis-jenis sampah yang paling banyak ditemukan di tingkat negara, wilayah, hingga seluruh dunia. Hal ini tidak hanya memberi tahu kita daerah mana saja yang harus diutamakan untuk dibersihkan, tetapi juga jenis barang spesifik apa saja yang harus kita kurangi produksinya," katanya.
Penelitian ini juga memberikan bukti penting untuk memandu pihak industri dan pembuat kebijakan tentang hal-hal khusus yang harus menjadi fokus utama dalam mengatasi polusi plastik.
Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa tindakan tegas terhadap plastik yang berhubungan dengan makanan dan minuman adalah prioritas utama di 93 persen negara di dunia.
Dr. Max Kelly, seorang Peneliti Pascadoktoral dan penulis utama penelitian ini, menambahkan mengumpulkan data sampah laut dalam skala sebesar ini adalah pekerjaan yang sangat rumit. Namun, hal ini memungkinkan untuk pertama kalinya memetakan barang apa saja yang paling banyak mengotori garis pantai di seluruh dunia.
Baca juga: Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
"Karya ilmiah ini memberikan bukti yang tidak bisa dibantah bahwa kemasan makanan dan minuman sekali pakai adalah penyebab utama polusi plastik di lautan kita di seluruh dunia. Oleh karena itu, tindakan untuk mengurangi pemakaian barang-barang tersebut akan menjadi langkah kunci untuk mengatasi tantangan lingkungan global ini," terangnya.
Penelitian baru ini merupakan bagian dari proyek Plastics in Indonesian Societies (PISCES), sebuah gerakan internasional yang dipimpin oleh Universitas Brunel.
Proyek ini bertujuan untuk menciptakan titik harapan dalam perjuangan Indonesia melawan sampah plastik.
"Studi ini menunjukkan mengapa masalah polusi plastik tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengelolaan sampah saja. Di berbagai negara yang kondisinya sangat berbeda, termasuk Indonesia, jenis plastik makanan dan minuman sekali pakai yang sama selalu saja mendominasi polusi di pinggir pantai," papar Profesor Susan Jobling, direktur proyek PISCES.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa solusi dari hulu seperti mengurangi pemakaian, menggunakan kembali barang yang ada, mendesain kemasan yang lebih ramah lingkungan, dan membuat aturan pemerintah yang lebih tegas sangatlah penting jika kita ingin menghentikan polusi plastik langsung dari sumbernya," katanya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya