Bahkan, hanya 25 persen dari populasi dunia yang dapat menggunakan hipotek untuk mendapatkan tempat tinggal. Ini menunjukkan bahwa kapasitas keuangan sebagian besar orang tidak mencukupi.
Para delegasi dan pakar lingkungan dalam Forum Perkotaan Dunia juga menggarisbawahi urgensi memperlakukan air sebagai matriks struktural utama yang menentukan keberlanjutan jangka panjang kota-kota modern.
Manajer Program Negara UN-Habitat untuk Brasil, Rayne Ferretti mengatakan, desain perkotaan yang berpusat pada air telah menjadi standar wajib untuk arsitektur dan teknik sipil kontemporer.
Meski menjadi dasar penunjang kehidupan planet ini, ekosistem perairan juga berada di pusat sebagian besar bencana alam yang disebabkan oleh krisis iklim.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
"Akibatnya, aliran ekologis alami harus secara sistematis diintegrasikan ke dalam proses perencanaan kota," ujar Ferretti, dilansir dari Azertag.
Sementara itu, Direktur Perencanaan Wilayah di Kementerian Perumahan dan Perencanaan Wilayah Uruguay, Paola Florio menyebut, kualitas dan ketersediaan air berfungsi sebagai metrik utama untuk kesejahteraan publik dan pertumbuhan berkelanjutan.
Kata dia, Uruguay telah melembagakan matriks perencanaan nasional yang sangat kuat untuk mengamankan sumber daya ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya