Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun

Kompas.com, 25 Mei 2026, 15:03 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber France24

KOMPAS.com - Dunia terpantau membangun dan mengoperasikan lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun 2025.

Namun, di sisi lain penggunaan bahan bakar tersebut justru berkurang. Hanya Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara ekonomi besar yang secara nyata meningkatkan produksi listriknya dari batu bara.

Melansir France24, Kamis (21/5/2026) batu bara adalah penyebab utama emisi gas rumah kaca yang memanaskan planet bumi, dan menghentikan penggunaannya secara bertahap sangatlah penting untuk mengendalikan perubahan iklim.

Harga energi terbarukan sendiri yang semakin murah dan jumlahnya yang semakin melimpah membuat energi surya dan angin kini bisa memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat di sebagian besar wilayah dunia.

Hal tersebut membantu menurunkan produksi listrik dari batu bara secara global sebesar 0,6 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan terbaru dari Global Energy Monitor (GEM), lembaga yang sudah mengawasi perkembangan pembangkit batu bara selama lebih dari sepuluh tahun.

Baca juga: Polusi Batu Bara Hambat Produktivitas Panel Surya

Namun, meskipun produksi listriknya turun, kapasitas pembangkit batu bara yaitu pabrik-pabrik baru yang mulai aktif atau resmi dioperasikan justru melonjak 3,5 persen tahun lalu.

Berada di India dan China

GEM mengatakan bahwa sebagian besar dari lonjakan tersebut yaitu sebanyak 95 persen terjadi di China dan India.

Kapasitas pembangkit batu bara di China tumbuh enam persen tahun lalu, tetapi produksi listrik yang dihasilkan dari batu bara justru turun 1,2 persen. Hal ini sebagian disebabkan oleh melonjaknya kapasitas energi terbarukan di sana.

Hal yang sama juga terjadi di India, di mana kapasitas pembangkit mereka tumbuh hampir empat persen, padahal produksi listriknya turun hampir tiga persen.

"Di kedua negara tersebut, banyak provinsi dan negara bagian yang memimpin pembangunan pembangkit batu bara merupakan wilayah penghasil batu bara utama," kata Christine Shearer, manajer proyek Global Coal Plant Tracker dari GEM sekaligus penulis laporan ini.

"Mereka memiliki insentif industri yang kuat untuk terus membangun pembangkit batubara", katanya lagi.

Penundaan penutupan PLTU batu bara

China merupakan penghasil emisi terbesar di dunia, sementara India berada di peringkat ketiga setelah Amerika Serikat.

Batu bara masih digunakan di China karena mereka melihat batu bara sebagai jaring pengaman yang andal ketika pasokan energi terbarukan sedang tidak stabil misalnya saat tidak ada angin atau matahari, terutama setelah mereka sempat mengalami krisis kekurangan listrik beberapa tahun lalu.

Sementara itu India, negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, sangat mengandalkan batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka yang melonjak drastis.

Namun, bertahannya penggunaan batu bara ini juga disebabkan oleh masalah infrastruktur.

Energi non-fosil sebenarnya sudah menyumbang 50 persen dari total kapasitas pembangkit yang terpasang di India, tetapi masalah infrastruktur dan kendala lainnya membuat negara tersebut masih menghasilkan sekitar tiga perempat kebutuhan listriknya dari batu bara.

Secara global, penutupan pembangkit listrik batu bara juga melambat tahun lalu, di mana hampir 70 persen pabrik yang seharusnya berhenti beroperasi justru tetap terus dinyalakan.

Baca juga: El Nino 2026 Berisiko Ganggu Rantai Pasok Batu Bara, Ini Bahayanya bagi RI dan Negara Importir

Di Eropa, batalnya target penutupan tersebut terutama disebabkan oleh keputusan-keputusan yang diambil selama krisis energi tahun 2022-2023, yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina.

Namun di Amerika Serikat, penundaan pensiunnya pembangkit batu bara terjadi karena adanya dorongan dari pemerintah untuk mendukung batu bara.

"Produksi listrik dari batu bara di AS melonjak lebih dari 80 TWh (terawatt-jam) dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah angka yang sangat besar sehingga tidak ada negara lain yang mendekatinya," kata Shearer.

"Lonjakan tersebut bukan sekadar akibat dari permintaan listrik, melainkan mencerminkan kebijakan pemerintah yang secara aktif mendukungnya," tambah dia.

Secara global, produksi listrik dari batu bara naik 0,3 persen sepanjang tahun ini, kata Shearer, sementara produksi listrik dari energi angin dan surya melonjak 10 persen.

"Energi bersih menyerap sebagian besar kebutuhan listrik baru di dunia, sementara batu bara hampir tidak tumbuh sama sekali," kata Shearer.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau