Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan

Kompas.com, 17 Juli 2026, 20:09 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama para peneliti dari Universitas Portsmouth di Inggris merilis panduan praktis bagi pemerintah dunia untuk membangun ekonomi biru yang berkelanjutan.

Langkah ini diambil karena polusi, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati makin mengancam ekosistem laut dan air tawar. Padahal, ekosistem tersebut menjadi sumber kehidupan bagi miliaran orang dan menopang ekonomi laut global senilai 2,2 triliun dolar AS.

Melansir Phys, Kamis (16/7/2026) panduan bernama Sustainable Blue Economy Transition Framework ini akan membantu pemerintah mengubah rencana ekonomi laut menjadi aturan nyata, perencanaan, dan investasi yang melindungi ekosistem air sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pengelolaan laut masih sporadis

Laporan ini memperingatkan bahwa cara kita mengelola laut saat ini masih terpisah-pisah. Sektor-sektor seperti perikanan, pelayaran, dan pariwisata sering kali berjalan sendiri-sendiri, padahal mereka menggunakan sumber daya alam yang sama.

Baca juga: Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun

Ditambah lagi dengan masalah penangkapan ikan berlebih, polusi, dan perubahan iklim, cara kerja yang terpisah-pisah ini mempercepat rusaknya ekosistem laut. Padahal, ekosistem tersebut sangat penting untuk mengatur iklim bumi, menjaga keanekaragaman hayati, menyediakan bahan pangan, dan menopang pekerjaan miliaran orang di dunia.

Bukannya memberikan satu solusi yang sama untuk semua negara, panduan ini justru membantu tiap negara membuat rencana ekonomi laut berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan, sistem pemerintahan, dan tingkat perkembangan mereka sendiri.

Panduan ini membaginya ke dalam tiga langkah utama untuk membantu pemerintah memahami kondisi mereka saat ini, menyatukan tujuan perubahan, dan memasukkan prinsip ramah lingkungan ke dalam perencanaan, keputusan, serta investasi sehari-hari.

Solusi berbasis alam menjadi inti dari panduan ini. Panduan ini menekankan bahwa melindungi dan memulihkan ekosistem seperti hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, dan lahan basah bisa memberikan banyak manfaat.

Manfaat tersebut mulai dari ketahanan menghadapi perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi risiko bencana, menjamin ketersediaan pangan, hingga menjaga sumber penghasilan masyarakat secara berkelanjutan.

Untuk mendukung penerapannya, panduan ini juga dilengkapi dengan alat penilaian cepat bernama Sustainable Blue Economy Rapid Readiness Assessment. Alat praktis ini membantu pemerintah memeriksa aturan, lembaga, keuangan, dan sistem kelola yang sudah ada saat ini, sehingga mereka bisa menentukan langkah apa yang harus diutamakan dan memulai perubahan jangka panjang.

"Panduan ini menjadikan solusi berbasis alam, keterlibatan masyarakat, dan kerja sama seluruh lembaga pemerintah sebagai inti dalam pengambilan keputusan. Panduan ini mendorong negara-negara untuk tidak hanya mencari keuntungan jangka pendek, tetapi juga memikirkan dampak yang lebih luas bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi," ungkap Susan Gardner, direktur Divisi Ekosistem di UNEP.

Panduan ini juga membantu pemerintah menyalurkan anggaran mereka yang terbatas ke sektor yang bisa memberikan manfaat jangka panjang terbesar bagi manusia dan alam.

Tantangan mengubah rencana jadi aksi nyata

Sementara itu, Dr. Antaya March, direktur Pusat Kebijakan Plastik Global di Universitas Portsmouth mengungkapkan banyak negara punya rencana besar untuk ekonomi laut mereka, tetapi mengubah rencana itu menjadi aksi nyata yang kompak masih menjadi tantangan.

Baca juga: Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi

"Panduan ini membantu pemerintah melihat bagian mana yang perlu diubah. Panduan ini juga memberikan cara yang teratur untuk menyatukan aturan hukum, investasi, dan keputusan ekonomi agar perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi bisa saling mendukung," katanya.

Panduan ini juga mengutamakan keadilan dalam pembangunan berkelanjutan. Panduan ini menegaskan bahwa perempuan, masyarakat adat, komunitas lokal, dan kelompok yang selama ini terabaikan harus ikut dilibatkan dalam mengambil keputusan terkait laut dan pantai.

Dengan mendorong kerja sama antar lembaga, aturan yang sejalan, dan investasi pada solusi berbasis alam, panduan ini bertujuan membantu negara-negara mengatasi masalah yang saling berkaitan, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi, dan sampah.

"Untuk mewujudkan ekonomi laut yang berkelanjutan, pemerintah harus bisa menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kesehatan jangka panjang ekosistem air. Panduan ini memberikan dasar praktis untuk mengambil keputusan tersebut berdasarkan bukti nyata, sesuai dengan kondisi negara masing-masing, dan fokus pada tindakan nyata," tambah Profesor Steve Fletcher, direktur Revolution Plastics Institute di Universitas Portsmouth.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Ekonom: Indonesia Punya Sumber Energi yang Beragam untuk Dukung Kemandirian Energi
Ekonom: Indonesia Punya Sumber Energi yang Beragam untuk Dukung Kemandirian Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau