Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana

Kompas.com, 28 Mei 2026, 18:32 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Penelitian baru memperingatkan bahwa masih banyak perusahaan di industri kopi dan olahan kopi yang belum menetapkan target penurunan emisi metana yang ambisius.

Temuan tersebut merupakan laporan dari Changing Markets Foundation yang telah menilai kinerja emisi metana dari 23 perusahaan susu dan kopi di seluruh Eropa dan Amerika Utara.

Melansir Edie, Rabu (27/5/2026) penelitian tersebut menemukan bahwa meskipun 91 persen dari perusahaan yang dinilai telah mengakui adanya hubungan antara peternakan dan iklim dalam laporan resmi mereka, hanya ada tiga perusahaan yang sudah menetapkan target penurunan emisi yang jelas untuk tahun 2030.

Target perusahaan masih minim

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan susu dan kopi yang terdepan sudah mulai blak-blakan membuka data emisi metana mereka dan melaporkan rencana penurunannya. Namun, sebagian besar perusahaan lain di sektor ini ternyata masih tertinggal jauh.

Baca juga: Mitigasi Metana Perlu Dipikul Bersama

Danone menjadi satu-satunya perusahaan yang targetnya sejalan dengan Global Methane Pledge (Janji Metana Global), yaitu memotong emisi metana minimal 30 persen di bawah tingkat emisi tahun 2020 pada tahun 2030 nanti.

Perusahaan lain yang juga sudah punya target untuk tahun 2030 tetapi belum sejalan dengan janji global tersebut adalah General Mills dan FrieslandCampina.

Sementara itu hanya ada tiga perusahaan saja yaitu Danone, Le Groupe Bel, dan Nestlé yang melaporkan adanya penurunan emisi metana mereka untuk tahun 2024 atau 2025.

Dari segi cara dan pendekatan keseluruhan dalam mengurangi metana, Danone menduduki peringkat terbaik pertama, disusul oleh General Mills dan Starbucks.

"Peringkat yang kami buat menunjukkan bahwa menetapkan target emisi metana yang berdasarkan data ilmiah adalah salah satu cara paling ampuh untuk mendorong pengurangan polusi," papar Nusa Urbancic, Direktur Utama Changing Markets Foundation.

Kemajuan yang diraih Danone membuktikan bahwa sebuah target bisa membuat perusahaan menjadi sangat fokus, asalkan didukung dengan laporan yang rutin dan tanggung jawab yang jelas.

Gas metana adalah 'rem darurat' yang sangat penting untuk mengatasi krisis iklim, dan kita butuh perusahaan makanan lainnya untuk segera meningkatkan keseriusan mereka.

Metana adalah salah satu penyebab utama krisis iklim dalam jangka waktu 20 tahun, gas rumah kaca ini bisa memerangkap panas 80 kali lebih banyak daripada karbon dioksida (CO2).

Penelitian tersebut menemukan bahwa 15 dari 23 perusahaan gagal membuka data emisi metana mereka untuk tahun 2024 atau 2025.

Perusahaan susu dan kopi sebenarnya jauh lebih maju daripada perusahaan supermarket. Penelitian dari Changing Markets Foundation menunjukkan bahwa tidak ada satu pun supermarket besar di dunia yang secara terbuka mengumumkan emisi metana mereka, menetapkan target pengurangan metana, atau menerbitkan rencana aksi nyata pada tahun 2026 ini.

Penurunan metana

Target pemotongan emisi metana sebesar 30 persen dalam kesepakatan Global Methane Pledge (GMP) sekarang waktunya tinggal kurang dari lima tahun lagi, namun komitmen yang ada saat ini baru bisa memenuhi kurang dari sepertiga dari target tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau