Sektor pertanian dan peternakan bertanggung jawab atas sepertiga total emisi dunia dan menyumbang 42 persen dari gas metana.
Jika target penurunan 30 persen dalam kesepakatan GMP ini berhasil dicapai, dunia akan mendapatkan keuntungan tahunan sebesar 330 miliar dolar AS (sekitar Rp5.870 triliun ), mencegah 180.000 kematian dini, dan berhasil menahan kenaikan suhu bumi sebesar 0,2 derajat Celsius.
Baca juga: Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
Menurut penelitian baru yang diterbitkan pada bulan April oleh lembaga analisis keuangan Planet Tracker, pihak bank masih terus mengabaikan gas metana yang dihasilkan oleh beberapa penyumbang polusi terbesar di dunia, yaitu perusahaan-perusahaan pertanian dan pangan (agri-food).
Laporan juga memeriksa 25 lembaga keuangan yang bersama-sama memberikan modal kepada 15 perusahaan pertanian dan pangan penghasil emisi metana terbesar di dunia.
Modal ini diberikan baik dalam bentuk pinjaman langsung maupun lewat pengurusan surat utang agar perusahaan-perusahaan tersebut bisa mendapatkan uang dari pasar modal.
Menurut Planet Tracker, lembaga-lembaga keuangan ini secara total telah memberikan modal pinjaman dan jaminan dana sebesar 159 miliar dolar AS (sekitar Rp2.837,9 triliun) kepada perusahaan-perusahaan polutan tersebut.
Menurut laporan tersebut, secara keseluruhan bank-bank ini ikut mendukung terciptanya 1,3 juta ton emisi metana melalui pendanaan yang mereka berikan.
Changing Markets Foundation juga memperkirakan akan ada lebih banyak perusahaan yang mau jujur mengumumkan emisi metana beserta dampaknya, mengingat saat ini aturan tentang wajib lapor semakin ketat. Sebagai contoh, aturan Pelaporan Keberlanjutan Perusahaan (CSRD) di Eropa nantinya akan memaksa perusahaan-perusahaan untuk memperbaiki dan memperjelas laporan iklim mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya