Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung

Kompas.com, 10 Juni 2026, 10:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia harus mempertimbangan berbagai risiko yang berpotensi mengganggu kehidupan satwa laut.

Dosen Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Mukhlis Firdaus pemanfaatan energi yang dihasilkan dari pergerakan air laut akibat pasang surut atau arus pasang surut (tidal stream) perlu mempertimbangkan indeks kematian ikan  atau fish mortalitas indeks).

"Karena beberapa tipe turbin bergerak lebih cepat, maka orang akan menghitung berapa indeks kematian ikan yang terjadi di sana," ujar dosen teknik kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Mukhlis Firdaus dalam acara Memperingati Hari Laut 2026; Sumber Daya Laut Berkelanjutan untuk Planet Biru Kita di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional

Turbin bawah laut dalam pemanfatan energi tidal stream memang berputar tidak cepat turbin angin untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Dengan kecepatan turbin yang lebih lamban, kata dia, pemanfaatan energi melalui tidak stream memang menyebabkan kematian ikan, meski dalam jumlah tidak banyak.

PLTB lepas pantai

Sementara itu pemanfaatan PLTB di lepas pantai atau wilayah laut yang jauh dari daratan untuk menghasilkan listrik perlu memperhatikan indeks mortalitas penerbangan atau tingkat kematian burung akibat tabrakan selama terbang melintasi turbin angin.

Namun, dalam kasus di Indonesia, pemanfaatan PLTB juga perlu mempertimbangkan indeks kematian mamalia atau tingkat kematian mamalia akibat tabrakan selama terbang melintasi turbin angin.

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur PLTB di Indonesia harus mempertimbangkan jalur migrasi hewan. Sebagai perbandingan, Eropa sudah memberlakukan aturan yang agak ketat, yang mana dilarang membangun infrastruktur PLTB di jalur migrasi hewan, seperti burung.

"Di Indonesia ada beberapa jalur migrasi untuk paus kerdil (paus kerdil), terus balaenoptera, begitu banyak spesies-spesies yang endemik Indonesia, tapi bermigrasi begitu," tutur Ahmad.

Menurut Ahmad, survei seismik menjadi yang paling mengganggu satwa laut. Bahkan, survei seismik yang menggunakan gelombang suara atau akustik untuk memetakan struktur geologi di bawah dasar laut itu harus dihentikan jika ada lumba-lumba.

"Berarti Survei Sub-Bottom Profiling (SBP)-nya sudah pakai yang kencang tadi, begitu kita melihat ada lumba-lumba, mamalia laut, pasti harus berhenti," ucapnya.

Selain itu, proses pilling atau pemancangan yang Merujuk pada instalasi tiang pancang untuk fondasi turbin angin pada infrastruktur PLTB lepas pantai juga mengganggu kehidupan satwa laut.

Proses pemancangan menggunakan hydrohammer, dimana alat penumbuk hidrolik bertenaga tinggi akan menimbulkan dentuman keras yang perlu diukur tingkat gangguannya.

Baca juga: Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu

"Nah, itu dihitung dengan kemampuan karena kan yang paling krusial bagi mamalia laut ini tadi untuk bermigrasi mereka adalah akustik. Dia cuman tahu sinyal gitu tuh dari akustik. Ada beberapa perilaku yang berubah ketika dia terganggu itu. Nah, itu kita coba petakan begitu," ujar Ahmad.

Dalam pemetaan lokasi-lokasi di Indonesia yang potensial untuk pengembangan energi terbarukan, risiko potensi gangguan ke hewan laut sampai biaya pembangkit energi rata-rata (levelized cost of energi / LCOE) harus diperhitungkan sebagai pertimbangan.

Lokasi-lokasi dengan potensi risiko mengganggu kehidupan satwa liar perlu dilarang dibangun PLTB lepas pantai di sana.

Dalam membangun PLTB lepas pantai, katanya, peluang terjadinya sesuatu (probabilitas terjadinya) perlu dibandingkan dengan konsekuensinya.

"Yang kita khawatirkan adalah ketika dua-duanya begitu, probabilitas terjadinya-nya tinggi begitu dan risiko-nya apa konsekuensinya juga tinggi begitu. Nah, itu bisa kita harus hindari. Nah, jadi dia dua-duanya memenuhi kita harusnya tidak atau di-exclude dari lokasi yang potensial begitu," tutur Ahmad.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
LSM/Figur
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
LSM/Figur
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Pemerintah
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
BUMN
Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai
Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai
Pemerintah
Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Pemerintah
BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
Pemerintah
IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
Pemerintah
Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia
Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia
Pemerintah
BMKG: 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau
BMKG: 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau
Pemerintah
Studi Ungkap WFH Bikin Pekerja Jadi Anti Sosial dan Depresi
Studi Ungkap WFH Bikin Pekerja Jadi Anti Sosial dan Depresi
LSM/Figur
Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
LSM/Figur
Pembiayaan Berkelanjutan DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun di 2025
Pembiayaan Berkelanjutan DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun di 2025
Swasta
Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis
Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau