Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar

Kompas.com, 20 Juni 2026, 20:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

Hewan menyusui berukuran besar pun tidak luput dari ancaman. Bagi jenis hewan yang biasa hidup di tempat dingin seperti beruang, bison, rusa kutub, dan rusa besar bulu mereka yang tebal justru menjadi beban yang menyiksa saat suhu melonjak.

Sebuah penelitian selama 20 tahun yang terbit di jurnal Biology Letters pada bulan Mei menyimpulkan bahwa jika koala kepanasan di suhu 27 derajat C saja selama seminggu berturut-turut, risiko mereka untuk sakit atau mati akan meningkat drastis.

Hewan lain seperti rubah juga bisa mengalami luka bakar pada telapak kaki mereka saat menginjak permukaan yang sangat panas, seperti jalan aspal atau pasir.

Hewan Invertebrata

Sebagian besar hewan tanpa tulang belakang adalah makhluk berdarah dingin (ektotermik), yang berarti suhu tubuh mereka sangat bergantung pada suhu lingkungan di sekitarnya.

Lois mengatakan bahwa akibatnya bisa sangat parah jika suhu udara atau air di sekitar mereka sudah melewati batas kemampuan tubuh yang bisa mereka tahan.

Kondisi ini menjadi jauh lebih berbahaya karena pergerakan hewan-hewan ini sangat terbatas, dan bahkan beberapa di antaranya tidak bisa berpindah tempat sama sekali.

Pada tahun 2021 lalu, saat gelombang panas besar melanda wilayah Pasifik Utara, lebih dari satu miliar kerang hijau, kerang remis, dan bintang laut mati massal.

Ikan

Pada ikan, suhu yang tinggi mengurangi jumlah oksigen yang tersedia di dalam air, padahal di saat yang sama kebutuhan tubuh mereka akan oksigen justru meningkat. Hal ini bisa menyebabkan ikan mengalami stres akibat panas, terserang penyakit, gangguan berkembang biak, dan dalam beberapa kasus, kematian massal.

Saat gelombang panas melanda Eropa pada Agustus 2018 lalu, satu ton ikan ditemukan tewas di Sungai Rhine yang melintasi tiga wilayah di Swiss.

Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis

Hewan Amfibi dan Reptil

Amfibi sangat bergantung pada kelembapan, itu mengapa hewan seperti katak, kodok, dan salamander sangat tersiksa selama gelombang panas, terutama jika habitat air tempat tinggal mereka kering kerontang akibat kemarau.

Kulit mereka yang tipis dan mudah menyerap air membuat mereka sangat gampang kekurangan cairan. Saat gelombang panas terjadi, air di dalam tubuh mereka menguap dengan lebih mudah, sehingga mereka berisiko mati kekeringan jika kondisi lembap yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup sudah tidak ada lagi.

Proses berkembang biak mereka juga bisa terganggu parah, terutama ketika tempat mereka bertelur mengering terlalu cepat sebelum waktunya.

Hewan reptil seperti kadal dan ular juga tidak kebal terhadap ancaman ini.

Mereka tidak bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri dari dalam, sehingga mereka terpaksa harus benar-benar membatasi kegiatan mereka saat cuaca sedang sangat panas. Hal ini mengancam kemampuan mereka untuk berburu makanan.

"Terkadang, sebagai cara untuk bertahan hidup, mereka akan mengubah kebiasaan menjadi hewan malam. Masalahnya, mangsa atau sumber makanan mereka belum tentu aktif di waktu malam yang sama," kata Lois.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau