Hewan menyusui berukuran besar pun tidak luput dari ancaman. Bagi jenis hewan yang biasa hidup di tempat dingin seperti beruang, bison, rusa kutub, dan rusa besar bulu mereka yang tebal justru menjadi beban yang menyiksa saat suhu melonjak.
Sebuah penelitian selama 20 tahun yang terbit di jurnal Biology Letters pada bulan Mei menyimpulkan bahwa jika koala kepanasan di suhu 27 derajat C saja selama seminggu berturut-turut, risiko mereka untuk sakit atau mati akan meningkat drastis.
Hewan lain seperti rubah juga bisa mengalami luka bakar pada telapak kaki mereka saat menginjak permukaan yang sangat panas, seperti jalan aspal atau pasir.
Sebagian besar hewan tanpa tulang belakang adalah makhluk berdarah dingin (ektotermik), yang berarti suhu tubuh mereka sangat bergantung pada suhu lingkungan di sekitarnya.
Lois mengatakan bahwa akibatnya bisa sangat parah jika suhu udara atau air di sekitar mereka sudah melewati batas kemampuan tubuh yang bisa mereka tahan.
Kondisi ini menjadi jauh lebih berbahaya karena pergerakan hewan-hewan ini sangat terbatas, dan bahkan beberapa di antaranya tidak bisa berpindah tempat sama sekali.
Pada tahun 2021 lalu, saat gelombang panas besar melanda wilayah Pasifik Utara, lebih dari satu miliar kerang hijau, kerang remis, dan bintang laut mati massal.
Pada ikan, suhu yang tinggi mengurangi jumlah oksigen yang tersedia di dalam air, padahal di saat yang sama kebutuhan tubuh mereka akan oksigen justru meningkat. Hal ini bisa menyebabkan ikan mengalami stres akibat panas, terserang penyakit, gangguan berkembang biak, dan dalam beberapa kasus, kematian massal.
Saat gelombang panas melanda Eropa pada Agustus 2018 lalu, satu ton ikan ditemukan tewas di Sungai Rhine yang melintasi tiga wilayah di Swiss.
Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Amfibi sangat bergantung pada kelembapan, itu mengapa hewan seperti katak, kodok, dan salamander sangat tersiksa selama gelombang panas, terutama jika habitat air tempat tinggal mereka kering kerontang akibat kemarau.
Kulit mereka yang tipis dan mudah menyerap air membuat mereka sangat gampang kekurangan cairan. Saat gelombang panas terjadi, air di dalam tubuh mereka menguap dengan lebih mudah, sehingga mereka berisiko mati kekeringan jika kondisi lembap yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup sudah tidak ada lagi.
Proses berkembang biak mereka juga bisa terganggu parah, terutama ketika tempat mereka bertelur mengering terlalu cepat sebelum waktunya.
Hewan reptil seperti kadal dan ular juga tidak kebal terhadap ancaman ini.
Mereka tidak bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri dari dalam, sehingga mereka terpaksa harus benar-benar membatasi kegiatan mereka saat cuaca sedang sangat panas. Hal ini mengancam kemampuan mereka untuk berburu makanan.
"Terkadang, sebagai cara untuk bertahan hidup, mereka akan mengubah kebiasaan menjadi hewan malam. Masalahnya, mangsa atau sumber makanan mereka belum tentu aktif di waktu malam yang sama," kata Lois.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya