KOMPAS.com - Sama seperti manusia, hewan liar kini semakin rentan karena krisis iklim memicu gelombang panas yang lebih lama dan lebih menyengat. Hal ini mengganggu cara mereka mencari makan dan berkembang biak, bahkan dalam kondisi yang parah, bisa menyebabkan kematian.
Dampak buruk gelombang panas terhadap manusia sudah banyak dicatat, namun efeknya terhadap alam dan lingkungan masih kurang mendapat perhatian.
Melansir Phys, Jumat (19/6/2026) sebuah penelitian yang terbit pada bulan Maret di jurnal Nature Ecology and Evolution menemukan bahwa tiga perempat spesies hewan di darat dan laut mengalami dampak buruk saat gelombang panas besar melanda wilayah barat Amerika Utara pada tahun 2021 lalu.
"Gelombang panas bisa menjadi sangat kejam bagi satwa liar," kata Gregoire Lois, ahli burung di Museum Nasional Sejarah Alam di Paris.
Ia menjelaskan bahwa hewan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk menyelamatkan diri atau beradaptasi saat gelombang panas datang mendadak, dibandingkan jika suhu bumi naik secara perlahan.
Lantas seperti apa ancaman gelombang panas bagi satwa liar ini?
Baca juga: Begini Nasib Hewan dan Tumbuhan Pasca Ledakan Nuklir Chernobyl
Burung adalah hewan yang sangat lemah terhadap suhu panas. Suhu tubuh normal mereka sudah cukup tinggi, yaitu antara 39 derajat C hingga 42 derajat C, dan angka ini akan melonjak lebih tinggi lagi saat mereka terbang atau mencari makan.
Burung juga tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga tubuh mereka kesulitan untuk membuang rasa panas saat suhu udara sekitar melonjak drastis.
Sebagai gantinya, burung mendinginkan tubuh dengan cara menguapkan air melalui saluran pernapasan mereka. Cara ini membutuhkan sangat banyak air, sehingga membuat burung rawan terkena stres akibat panas dan dehidrasi.
Anak-anak burung yang masih berada di dalam sarang dan belum bisa terbang saat musim panas menjadi korban yang paling rentan.
"Anak burung yang kepanasan terkadang jatuh dari sarangnya saat mereka berusaha mencari udara segar," kata perwakilan dari Liga Perlindungan Burung, sebuah LSM lingkungan di Prancis.
Burung-burung yang membuat sarang di bawah atap rumah seperti burung walet dan burung layang-layang adalah kelompok yang menghadapi risiko paling besar.
Hewan bertulang belakang mengatur suhu tubuh mereka dengan cara terengah-engah atau berkeringat. Namun, Lois menjelaskan bahwa proses tersebut membuat tubuh kehilangan lebih banyak air jika ukuran hewan tersebut semakin kecil.
Anne-Laure Dugue, dari program penyelamatan satwa, mengatakan bahwa risiko mati kepanasan dehidrasi sangat besar terjadi pada landak susu dan beberapa jenis tikus kecil.
Kematian massal pada kelelawar juga sering tercatat saat gelombang panas karena hewan-hewan ini menjadi linglung dan kehabisan cairan tubuh. Baru saja pada Januari 2026 kemarin, ribuan kalong mati akibat gelombang panas di bagian tenggara Australia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya