Di sisi lain, Renewable Energy Manager Trend Asia, Beyrra Triasdian, menilai ketergantungan terhadap batu bara tidak hanya menciptakan kerentanan sistem energi, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan lingkungan di sepanjang rantai pasoknya.
"Persoalan batu bara tidak hanya terjadi di cerobong pembangkit. Masalah juga muncul di sekitar tambang, dalam proses pengangkutan, hingga pengelolaan limbah yang turut mengubah ruang hidup masyarakat," ujarnya.
Baca juga: Pemadaman Listrik Bergilir Sebabkan Traffic Light di Salatiga Tak Berfungsi, Lalu Lintas Crowded
Beyrra menambahkan, pernyataan pemerintah mengenai kelebihan pasokan batu bara justru menunjukkan belum optimalnya perencanaan sektor ketenagalistrikan.
"Masyarakat tidak pernah meminta pemerintah membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara," katanya.
Menurut Beyrra, pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan nasional. Ia mencontohkan inisiatif masyarakat di Subang, Jawa Barat, yang sempat membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik desa.
Namun, pembangkit tersebut berhenti beroperasi setelah jaringan PLN masuk ke wilayah tersebut. Ia berharap pemerintah mendukung inisiatif serupa sebagai pelengkap sistem kelistrikan nasional.
"Energi terbarukan berbasis komunitas dapat mengurangi risiko blackout. Sistemnya lebih mudah diperbaiki dan dipulihkan ketika terjadi gangguan," ujar Beyrra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya