KOMPAS.com - Banjir ekstrem yang dulunya sangat jarang merendam pemukiman warga di pesisir pantai kini menjadi jauh lebih sering terjadi.
Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim akibat ulah manusia yang mendorong permukaan air laut menjadi lebih tinggi, menurut penelitian baru yang diterbitkan di Nature Climate Change.
Para ahli mengatakan temuan ini sangat penting untuk membuat rencana penanganan banjir dan pembangunan fasilitas di tepi pantai saat bumi makin memanas.
Melansir Phys, Sabtu (4/6/2026) banjir pesisir ini terjadi ketika air laut pasang tinggi dan gelombang badai bertemu dengan air laut yang dasarnya memang sudah meninggi.
Banjir ini mengancam ratusan juta orang setiap tahunnya di daerah pesisir yang rendah di seluruh dunia. Selain itu, banjir tersebut juga menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar dan bisa mematikan.
Baca juga: Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Namun peneliti mengungkapkan banjir yang secara sejarah hanya memiliki peluang 1 persen untuk melanda wilayah pesisir dalam setahun, kini rata-rata menjadi sekitar 12 kali lebih sering terjadi.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bencana-bencana itu menjadi sekitar empat kali lebih sering terjadi akibat perubahan iklim yang dipicu oleh ulah manusia.
Dalam studinya, para peneliti melihat seberapa sering bencana banjir pesisir terjadi dengan cara memeriksa catatan jangka panjang dari alat pengukur pasang surut air laut di lebih dari 100 lokasi, serta menggunakan simulasi komputer.
Studi ini mengamati kenaikan air laut dari tahun 1900 hingga 2005. Penelitian dibatasi hingga tahun 2005 karena setelah tahun itu, belum ada simulasi komputer yang cukup lengkap untuk menunjukkan bukti kuat dampak perubahan iklim akibat ulah manusia.
Para peneliti mengatakan temuan mereka ini kemungkinan besar masih lebih rendah daripada risiko aslinya saat ini, karena dampak buruk manusia terhadap cuaca ekstrem di pesisir terus meningkat sejak tahun tersebut.
Peneliti juga memeriksa perubahan mana saja yang disebabkan oleh aktivitas manusia, kekuatan alam, atau perubahan bentuk daratan. Meskipun perubahan permukaan air laut di awal abad ke-20 sebagian besar disebabkan oleh kekuatan alam, para ilmuwan menemukan bahwa sejak tahun 1960-an, pemanasan global akibat ulah manusialah yang menjadi penyebab utama air laut terus naik.
Sebuah penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances juga mendukung kesimpulan bahwa tingginya air laut yang ekstrem disebabkan oleh perubahan iklim.
Secara khusus, perubahan iklim menjadi penyebab sekitar 58 persen dari hari-hari terjadinya banjir besar selama tahun 2000 hingga 2018. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa sejak tahun 1970-an, perubahan iklim telah membuat jumlah hari terjadinya banjir rob ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat.
"Pada dasarnya, setiap banjir pesisir yang terjadi saat ini ada 'jejak tangan' manusia di dalamnya melalui perubahan iklim," kata Ben Strauss, kepala ilmuwan di Climate Central dan salah satu penulis penelitian tersebut.
"Tanpa adanya tambahan kenaikan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global, sebagian besar bencana ini tidak akan sampai menjadi banjir," terangnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya