Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim, Risiko Banjir Rob Naik 12 Kali Lipat

Kompas.com, 6 Juli 2026, 20:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Banjir ekstrem yang dulunya sangat jarang merendam pemukiman warga di pesisir pantai kini menjadi jauh lebih sering terjadi.

Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim akibat ulah manusia yang mendorong permukaan air laut menjadi lebih tinggi, menurut penelitian baru yang diterbitkan di Nature Climate Change.

Para ahli mengatakan temuan ini sangat penting untuk membuat rencana penanganan banjir dan pembangunan fasilitas di tepi pantai saat bumi makin memanas.

Melansir Phys, Sabtu (4/6/2026) banjir pesisir ini terjadi ketika air laut pasang tinggi dan gelombang badai bertemu dengan air laut yang dasarnya memang sudah meninggi.

Banjir ini mengancam ratusan juta orang setiap tahunnya di daerah pesisir yang rendah di seluruh dunia. Selain itu, banjir tersebut juga menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar dan bisa mematikan.

Baca juga: Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik

Peningkatan banjir pesisir karena manusia

Namun peneliti mengungkapkan banjir yang secara sejarah hanya memiliki peluang 1 persen untuk melanda wilayah pesisir dalam setahun, kini rata-rata menjadi sekitar 12 kali lebih sering terjadi.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bencana-bencana itu menjadi sekitar empat kali lebih sering terjadi akibat perubahan iklim yang dipicu oleh ulah manusia.

Dalam studinya, para peneliti melihat seberapa sering bencana banjir pesisir terjadi dengan cara memeriksa catatan jangka panjang dari alat pengukur pasang surut air laut di lebih dari 100 lokasi, serta menggunakan simulasi komputer.

Studi ini mengamati kenaikan air laut dari tahun 1900 hingga 2005. Penelitian dibatasi hingga tahun 2005 karena setelah tahun itu, belum ada simulasi komputer yang cukup lengkap untuk menunjukkan bukti kuat dampak perubahan iklim akibat ulah manusia.

Para peneliti mengatakan temuan mereka ini kemungkinan besar masih lebih rendah daripada risiko aslinya saat ini, karena dampak buruk manusia terhadap cuaca ekstrem di pesisir terus meningkat sejak tahun tersebut.

Peneliti juga memeriksa perubahan mana saja yang disebabkan oleh aktivitas manusia, kekuatan alam, atau perubahan bentuk daratan. Meskipun perubahan permukaan air laut di awal abad ke-20 sebagian besar disebabkan oleh kekuatan alam, para ilmuwan menemukan bahwa sejak tahun 1960-an, pemanasan global akibat ulah manusialah yang menjadi penyebab utama air laut terus naik.

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances juga mendukung kesimpulan bahwa tingginya air laut yang ekstrem disebabkan oleh perubahan iklim.

Secara khusus, perubahan iklim menjadi penyebab sekitar 58 persen dari hari-hari terjadinya banjir besar selama tahun 2000 hingga 2018. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa sejak tahun 1970-an, perubahan iklim telah membuat jumlah hari terjadinya banjir rob ekstrem meningkat hampir tiga kali lipat.

"Pada dasarnya, setiap banjir pesisir yang terjadi saat ini ada 'jejak tangan' manusia di dalamnya melalui perubahan iklim," kata Ben Strauss, kepala ilmuwan di Climate Central dan salah satu penulis penelitian tersebut.

"Tanpa adanya tambahan kenaikan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global, sebagian besar bencana ini tidak akan sampai menjadi banjir," terangnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau