UN Women menyatakan bahwa dampak dari pemotongan dana global baru-baru ini “sudah terlihat nyata.” Mereka mencatat bahwa setengah dari organisasi perempuan kini memberlakukan daftar tunggu atau terpaksa menolak perempuan dan anak perempuan yang membutuhkan pertolongan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa 92 persen organisasi melihat tingkat kemiskinan yang makin parah di antara perempuan yang mereka bantu, sementara 82 persen melaporkan melihat lebih banyak anak perempuan yang putus sekolah.
Selain itu, laporan ini memperingatkan bahwa kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual akibat perang melonjak dua kali lipat pada tahun 2025, justru di saat lembaga-lembaga yang bertugas melindungi para korban sedang hancur karena kehabisan dana.
UN Women pun meminta adanya bantuan dana yang terus-menerus bagi organisasi perempuan. Mereka menegaskan bahwa organisasi-organisasi ini adalah penolong pertama yang sangat penting, pembela hak perempuan, serta dasar untuk menciptakan perdamaian dan pemulihan keadaan.
"Tanpa tindakan cepat, organisasi-organisasi yang selama ini menjaga perempuan dan anak-anak tetap hidup di tengah krisis terburuk di dunia, terancam ikut hancur dan menjadi korban perang selanjutnya," kata Calltorp.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya