Para peneliti mengatakan bahwa sistem hitung yang mereka gunakan juga bisa diterapkan di kota-kota lain yang rawan terkena dampak perubahan iklim.
Kota-kota seperti Los Angeles, San Diego, San Francisco, Cape Town (Afrika Selatan), dan Melbourne (Australia) memiliki masalah kerentanan yang mirip dengan yang dihadapi oleh Santa Cruz.
Afrika Selatan adalah salah satu negara paling kering di dunia, dengan curah hujan setahun hanya sekitar 464 mm atau kurang dari setengah rata-rata dunia. Pada tahun 2018, kota Cape Town hampir kehabisan air sama sekali, sehingga pemerintah terpaksa membatasi warga hanya boleh menggunakan 50 liter air per orang setiap harinya.
Aturan hemat yang sangat ketat ini akhirnya berhasil menyelamatkan kota dari bencana kehabisan air total (Day Zero).
Baca juga: Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Sementara itu kota Melbourne di Australia juga menghadapi masalah krisis air yang semakin parah. Antara 1 Maret hingga 1 Juni 2026, isi bak penampungan air raksasa di kota tersebut merosot sebanyak 6,1 persen atau hilang 111 miliar liter.
Jumlah air yang tersisa saat ini tercatat 9,5 persen lebih rendah dibanding tahun lalu, dan 24 persen lebih rendah dibanding dua tahun lalu. Hal ini terjadi akibat kemarau yang panjang, air hujan yang masuk ke waduk sangat sedikit, dan kebutuhan air warga yang terus meningkat.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bagaimana perubahan iklim memperparah kelangkaan air, meningkatkan biaya perawatan sistem air perkotaan, dan menegaskan pentingnya investasi jangka panjang untuk membangun fasilitas air yang tahan bencana serta strategi penghematan air.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk mengatasi masalah harga air akibat perubahan iklim, tidak bisa hanya mengandalkan tindakan dari perusahaan air lokal saja. Perlu adanya perubahan aturan hukum, peningkatan investasi uang negara untuk membangun fasilitas air yang tahan perubahan iklim, serta bantuan dana yang tepat sasaran bagi keluarga miskin.
Para peneliti juga menyarankan agar rencana penyelamatan lingkungan di masa depan ikut menghitung keterjangkauan harga air bagi warga, bukan hanya fokus pada kelancaran pasokan air saja, agar biaya penanganan iklim ini tidak malah memberatkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya