Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siswa SMAN 9 Manado Olah Limbah Tulang Ayam Jadi Peredam Suara

Kompas.com, 15 Juli 2026, 19:28 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Bagi banyak orang, tulang ayam mungkin tak lebih dari sisa makan siang yang langsung dibuang. Di SMAN 9 Manado, tulang-tulang itu pernah menumpuk, berbau, dan mengganggu.

Namun bagi sekelompok siswa yang tergabung dalam tim To The Bone, limbah tersebut justru menjadi awal dari sebuah perjalanan yang mengubah cara mereka memandang lingkungan, sekolah, dan diri mereka sendiri.

Tim To The Bone yang beranggotakan Keira Regar, Afrilia Tangkau, Brighton Mandagi, Clayra Palandeng, Justin, dan Thimoty, berhasil menjadi pemenang kategori Waste Management pada ASRI Awards 2025 lewat proyek panel peredam suara berbahan limbah tulang ayam.

Baca juga: Guru Gen Z di Malang Manfaatkan Instagram untuk Promosi Sekolah

Inovasi ini mampu menurunkan tingkat kebisingan hingga 6,7 desibel. Bukan hanya soal angka, panel tersebut perlahan menghadirkan suasana belajar yang lebih tenang di sekolah mereka. Sebuah solusi yang lahir dari masalah sehari-hari yang selama ini dibiarkan begitu saja.

Awalnya, tak ada rencana besar. Limbah makanan dari program makan bergizi di sekolah menumpuk hampir setiap hari. Tulang ayam menjadi bagian yang paling banyak tersisa. Pada mulanya, para siswa hanya melihatnya sebagai persoalan kebersihan.

Namun, semakin lama dibiarkan, dampaknya kian terasa. Bau tak sedap, lingkungan yang kurang nyaman, dan suasana belajar yang terganggu mulai menjadi keluhan.

Di saat yang sama, kebisingan antar kelas juga menjadi masalah lain yang akrab bagi mereka. Suara teriakan dari kelas sebelah kerap memecah konsentrasi. Bagi tim To The Bone, dua persoalan ini perlahan saling bertaut.

Limbah yang tak terkelola dan ruang belajar yang kurang kondusif. Dari situ muncul pertanyaan sederhana, sekaligus menentukan: mungkinkah satu masalah membantu menyelesaikan masalah yang lain?

Dari penasaran ke eksperimen

Rasa penasaran itulah yang mendorong mereka melangkah lebih jauh. Mereka mulai bereksperimen, mengolah limbah tulang ayam, dan mencari cara agar material tersebut bisa dimanfaatkan.

Prosesnya tidak instan. Ide ini dikembangkan perlahan, diuji, dan diperbaiki. Hingga akhirnya, lahirlah panel peredam suara yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga fungsional.

Perjalanan bersama ASRI membawa perubahan yang lebih dalam. Kepedulian terhadap lingkungan tumbuh bukan lagi sebagai kewajiban, melainkan kesadaran.

Mereka mulai melihat lingkungan sekitar dengan cara yang berbeda. Setiap masalah terasa seperti peluang untuk berbuat sesuatu.

Di titik ini, para anggota tim To The Bone juga mulai memandang diri mereka sendiri secara baru. Bukan hanya sebagai siswa, tetapi sebagai individu yang punya kemampuan untuk memberi dampak.

Proses menjalankan proyek ini tentu tidak selalu mulus. Tantangan muncul dari berbagai arah, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga proses teknis yang memerlukan ketelitian tinggi.

Namun, berhenti bukan pilihan. Ada kesadaran bahwa terlalu banyak usaha yang sudah dicurahkan untuk dilupakan begitu saja. Lebih dari itu, ada keinginan untuk membuktikan bahwa ide yang lahir dari kepedulian bisa diwujudkan secara nyata.

Baca juga: 7 Cara Membantu Anak Beradaptasi saat Awal Masuk Sekolah Menurut Psikolog

Mereka ingin menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Dari limbah dapur sekolah, dari kebisingan ruang kelas, dari masalah yang sering dianggap sepele.

Jika dikelola dengan kreativitas dan kemauan, hal-hal kecil itu justru bisa membawa dampak yang lebih luas.

Kontribusi nyata

Kesadaran akan arti perjuangan mereka mencapai puncaknya setelah melalui seluruh rangkaian kompetisi ASRI. Kompetisi yang diadakan oleh Kompas Gramedia bersama Unilever Indonesia untuk mendukung pembiasaan hidup berkelanjutan di kalangan siswa.

Pembiasaan ini dimulai dari pembelajaran tentang keberlanjutan yang bisa diakses gratis pada lestariacademy.id, hingga mengajak para siswa untuk ikut berkontribusi nyata dengan memaparkan ide dan proyek inovatif mereka tentang sustainability yang diapresiasi pada kompetisi.

Kemenangan yang mereka raih pada Kompetisi ini bukan sekadar pengakuan, melainkan konfirmasi bahwa apa yang mereka kerjakan memiliki makna. Proyek mereka terbukti mampu mengurangi limbah di lingkungan sekolah.

Ide yang semula hanya ada di kepala kini dikenal dan mendapat dukungan. Di sana, rasa bangga muncul bukan karena gelar juara, melainkan karena melihat usaha mereka berbuah nyata.

Meski demikian, tim To The Bone menyadari bahwa perjalanan ini belum selesai. Agar proyek panel peredam suara dari limbah tulang ayam dapat memberi dampak lebih luas, dukungan masih sangat dibutuhkan. Mulai dari pendanaan dan sponsor untuk keberlanjutan proyek, hingga dukungan pemerintah agar inovasi ini bisa dikenal masyarakat lebih luas.

Baca juga: Resah dengan Sound Horeg, Pemuda Malang Ciptakan Peta Digital untuk Hindari Area Bising

Jika suatu hari proyek ini berkembang ke skala yang lebih besar, kerja sama dengan penyedia bahan baku, seperti program makan bergizi dan rumah makan, menjadi hal yang tak terpisahkan.

Namun, di atas semua itu, dukungan paling dekat tetap menjadi sumber energi utama. Dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, yang menjaga semangat agar tidak padam di tengah jalan.

Harapan tim To The Bone sederhana, tetapi bermakna. Mereka ingin melihat tumbuhnya kesadaran di lingkungan sekolah. Kesadaran untuk menjaga kebersihan, peduli pada lingkungan, dan berani mencari solusi. Mereka berharap perubahan ini tidak berhenti pada satu proyek atau satu generasi, tetapi terus berlanjut dan menginspirasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau