Editor
KOMPAS.com - Bagi banyak orang, tulang ayam mungkin tak lebih dari sisa makan siang yang langsung dibuang. Di SMAN 9 Manado, tulang-tulang itu pernah menumpuk, berbau, dan mengganggu.
Namun bagi sekelompok siswa yang tergabung dalam tim To The Bone, limbah tersebut justru menjadi awal dari sebuah perjalanan yang mengubah cara mereka memandang lingkungan, sekolah, dan diri mereka sendiri.
Tim To The Bone yang beranggotakan Keira Regar, Afrilia Tangkau, Brighton Mandagi, Clayra Palandeng, Justin, dan Thimoty, berhasil menjadi pemenang kategori Waste Management pada ASRI Awards 2025 lewat proyek panel peredam suara berbahan limbah tulang ayam.
Baca juga: Guru Gen Z di Malang Manfaatkan Instagram untuk Promosi Sekolah
Inovasi ini mampu menurunkan tingkat kebisingan hingga 6,7 desibel. Bukan hanya soal angka, panel tersebut perlahan menghadirkan suasana belajar yang lebih tenang di sekolah mereka. Sebuah solusi yang lahir dari masalah sehari-hari yang selama ini dibiarkan begitu saja.
Awalnya, tak ada rencana besar. Limbah makanan dari program makan bergizi di sekolah menumpuk hampir setiap hari. Tulang ayam menjadi bagian yang paling banyak tersisa. Pada mulanya, para siswa hanya melihatnya sebagai persoalan kebersihan.
Namun, semakin lama dibiarkan, dampaknya kian terasa. Bau tak sedap, lingkungan yang kurang nyaman, dan suasana belajar yang terganggu mulai menjadi keluhan.
Di saat yang sama, kebisingan antar kelas juga menjadi masalah lain yang akrab bagi mereka. Suara teriakan dari kelas sebelah kerap memecah konsentrasi. Bagi tim To The Bone, dua persoalan ini perlahan saling bertaut.
Limbah yang tak terkelola dan ruang belajar yang kurang kondusif. Dari situ muncul pertanyaan sederhana, sekaligus menentukan: mungkinkah satu masalah membantu menyelesaikan masalah yang lain?
Rasa penasaran itulah yang mendorong mereka melangkah lebih jauh. Mereka mulai bereksperimen, mengolah limbah tulang ayam, dan mencari cara agar material tersebut bisa dimanfaatkan.
Prosesnya tidak instan. Ide ini dikembangkan perlahan, diuji, dan diperbaiki. Hingga akhirnya, lahirlah panel peredam suara yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga fungsional.
Perjalanan bersama ASRI membawa perubahan yang lebih dalam. Kepedulian terhadap lingkungan tumbuh bukan lagi sebagai kewajiban, melainkan kesadaran.
Mereka mulai melihat lingkungan sekitar dengan cara yang berbeda. Setiap masalah terasa seperti peluang untuk berbuat sesuatu.
Di titik ini, para anggota tim To The Bone juga mulai memandang diri mereka sendiri secara baru. Bukan hanya sebagai siswa, tetapi sebagai individu yang punya kemampuan untuk memberi dampak.
Proses menjalankan proyek ini tentu tidak selalu mulus. Tantangan muncul dari berbagai arah, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga proses teknis yang memerlukan ketelitian tinggi.
Namun, berhenti bukan pilihan. Ada kesadaran bahwa terlalu banyak usaha yang sudah dicurahkan untuk dilupakan begitu saja. Lebih dari itu, ada keinginan untuk membuktikan bahwa ide yang lahir dari kepedulian bisa diwujudkan secara nyata.
Baca juga: 7 Cara Membantu Anak Beradaptasi saat Awal Masuk Sekolah Menurut Psikolog
Mereka ingin menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Dari limbah dapur sekolah, dari kebisingan ruang kelas, dari masalah yang sering dianggap sepele.
Jika dikelola dengan kreativitas dan kemauan, hal-hal kecil itu justru bisa membawa dampak yang lebih luas.
Kesadaran akan arti perjuangan mereka mencapai puncaknya setelah melalui seluruh rangkaian kompetisi ASRI. Kompetisi yang diadakan oleh Kompas Gramedia bersama Unilever Indonesia untuk mendukung pembiasaan hidup berkelanjutan di kalangan siswa.
Pembiasaan ini dimulai dari pembelajaran tentang keberlanjutan yang bisa diakses gratis pada lestariacademy.id, hingga mengajak para siswa untuk ikut berkontribusi nyata dengan memaparkan ide dan proyek inovatif mereka tentang sustainability yang diapresiasi pada kompetisi.
Kemenangan yang mereka raih pada Kompetisi ini bukan sekadar pengakuan, melainkan konfirmasi bahwa apa yang mereka kerjakan memiliki makna. Proyek mereka terbukti mampu mengurangi limbah di lingkungan sekolah.
Ide yang semula hanya ada di kepala kini dikenal dan mendapat dukungan. Di sana, rasa bangga muncul bukan karena gelar juara, melainkan karena melihat usaha mereka berbuah nyata.
Meski demikian, tim To The Bone menyadari bahwa perjalanan ini belum selesai. Agar proyek panel peredam suara dari limbah tulang ayam dapat memberi dampak lebih luas, dukungan masih sangat dibutuhkan. Mulai dari pendanaan dan sponsor untuk keberlanjutan proyek, hingga dukungan pemerintah agar inovasi ini bisa dikenal masyarakat lebih luas.
Baca juga: Resah dengan Sound Horeg, Pemuda Malang Ciptakan Peta Digital untuk Hindari Area Bising
Jika suatu hari proyek ini berkembang ke skala yang lebih besar, kerja sama dengan penyedia bahan baku, seperti program makan bergizi dan rumah makan, menjadi hal yang tak terpisahkan.
Namun, di atas semua itu, dukungan paling dekat tetap menjadi sumber energi utama. Dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, yang menjaga semangat agar tidak padam di tengah jalan.
Harapan tim To The Bone sederhana, tetapi bermakna. Mereka ingin melihat tumbuhnya kesadaran di lingkungan sekolah. Kesadaran untuk menjaga kebersihan, peduli pada lingkungan, dan berani mencari solusi. Mereka berharap perubahan ini tidak berhenti pada satu proyek atau satu generasi, tetapi terus berlanjut dan menginspirasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya