KOMPAS.com - Analisis baru menemukan bahwa suhu malam hari yang makin panas akibat perubahan iklim diam-diam mengurangi waktu tidur orang-orang di seluruh dunia.
Melansir Euro News, Rabu (15/7/2026) saat ini, rata-rata orang kehilangan lebih dari 50 jam waktu tidur setiap tahunnya.
Ketika "malam tropis" yang gerah makin sering terjadi di berbagai belahan dunia, kualitas tidur masyarakat yang menjadi korbannya. Malam tropis sendiri mengacu pada suhu di malam hari tidak bisa turun di bawah 20 derajat C.
Studi terbaru dari Climate Central ini mengungkapkan sepanjang periode 2020–2025, rata-rata penduduk bumi kehilangan hampir 56 jam tidur per tahun atau setara dengan hampir tujuh malam tidur gara-gara suhu udara yang terlalu panas.
Baca juga: Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah
Dari total lebih dari 1.300 kota yang diteliti, hampir di setiap kota menunjukkan bahwa jumlah waktu tidur yang hilang akibat suhu panas yang berkaitan dengan perubahan iklim telah melonjak setidaknya dua kali lipat sejak awal tahun 1970-an.
Kehilangan waktu tidur paling parah terjadi di Timur Tengah dan Asia Tenggara, di mana masyarakatnya kehilangan rata-rata antara 55 hingga 91 jam waktu tidur per tahun.
Pada awal tahun 1970-an, penduduk yang tinggal di kota berpenduduk rata-rata 500.000 jiwa kehilangan sekitar 46 jam waktu tidur per tahun akibat panasnya suhu malam hari.
Namun, pada tahun 2020-an, angka itu naik menjadi sekitar 50 jam. Antara tahun 2020 dan 2025, angka tersebut terus melonjak hingga mencapai 56 jam, dan analisis menemukan bahwa perubahan iklim menjadi penyebab terbesar dari semakin beratnya beban masalah ini.
Meskipun malam yang sangat panas terjadi di semua kota di seluruh dunia, dampaknya tidak sama bagi setiap orang. Perbedaan besar bisa terlihat antar-benua maupun di dalam benua itu sendiri.
Di Eropa, kehilangan waktu tidur paling parah terjadi di wilayah bagian selatan. Penduduk di kota Napoli, Italia kehilangan 51 jam waktu tidur setiap tahun akibat panas selama lima tahun terakhir.
Sementara itu, di Athena, Yunani waktu tidur yang hilang mencapai 45 jam per tahun, di Valencia, Spanyol sebanyak 42 jam, serta di Lisabon, Portugal dan kota Marseille, Prancis masing-masing sebanyak 40 jam.
Namun, di negara-negara yang terletak paling utara sekalipun, masyarakatnya juga mulai kurang tidur akibat cuaca panas, meskipun dampaknya tidak separah wilayah lain.
Penduduk di Edinburgh, Skotlandia kehilangan 21 jam waktu tidur, sementara di Stockholm, Swedia dan Helsinki, Finlandia masing-masing kehilangan 20 jam. Dampak paling kecil terjadi di Oslo, Norwegia yaitu berkurang 18 jam.
Tidur memegang peran yang sangat penting agar tubuh kita bisa berfungsi dan bekerja dengan baik di siang hari.
Malam hari adalah waktu bagi tubuh untuk memulihkan diri. Namun, ketika suhu udara tidak bisa mendingin, proses pemulihan ini gagal terjadi dan tubuh tetap dipaksa bekerja keras.
Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Para penulis mencatat bahwa kurang tidur berdampak buruk pada suasana hati, kemampuan berpikir, produktivitas kerja, serta kesehatan jantung dan daya tahan tubuh.
Meskipun ada banyak hal yang memengaruhi tidur, panasnya suhu malam hari kini menjadi ancaman lingkungan yang makin berbahaya. Hal ini terjadi karena suhu bumi yang terus naik dan makin banyak orang pindah ke area perkotaan padat, yang membuat udara malam terasa jauh lebih gerah.
Karena efek kurang tidur bisa terus menumpuk dari malam ke malam, pengurangan waktu tidur yang sedikit pun bisa menjadi sangat berbahaya selama musim kemarau atau musim panas.
Studi terbaru menemukan bahwa malam yang panas mengganggu tidur lansia dua kali lebih parah dibanding orang dewasa setengah baya. Selain itu, dampaknya hampir tiga kali lipat lebih buruk bagi penduduk di negara berkembang dibanding negara kaya.
Kelompok perempuan dan orang-orang yang sudah tinggal di daerah beriklim panas juga menjadi korban yang paling dirugikan. Kesenjangan ini diperkirakan akan makin melebar seiring terus naiknya suhu bumi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya