Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Akademisi ekonomi dan keuangan syariah Dr Hayu Prabowo mengatakan inovasi energi berbasis kerakyatan dapat mendorong kemandirian energi dan menekan penggunaan bahan bakar fosil yang merugikan kelestarian lingkungan.
Hayu Prabowo mengatakan, penggunaan energi fosil dari batu bara yang terpusat tidak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau, sehingga pendekatan inovasi energi kerakyatan dinilai lebih relevan karena bisa mengeksplorasi potensi energi daerah yang sesuai dengan kondisi alam.
“Intinya, masyarakat perlu diberdayakan agar mampu menghasilkan energi secara mandiri sesuai dengan potensi lokal,” katanya dalam diskusi investasi keuangan syariah dalam kemaslahatan bumi dan masyarakat, di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Baca juga: IESR: Kepastian Kebijakan Jadi Penentu Investasi Energi Surya
Ia mengatakan Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, setiap wilayah memiliki potensi energi yang berbeda-beda dan perlu dikembangkan sesuai karakteristik lokal, bukan hanya bergantung pada batu bara.
Menurutnya, pengembangan sumber energi yang dapat diproduksi sendiri oleh masyarakat dapat melalui pengolahan sampah organik yang menghasilkan biogas, pembangkit listrik tenaga air berskala sangat kecil yang memanfaatkan aliran sungai atau nanohidro, atau pemanfaatan energi matahari dengan teknologi sederhana bukan dengan panel surya konvensional.
Ia mengatakan saat ini, sumber batu bara banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Sementara itu, banyak wilayah di Indonesia bagian timur masih bergantung pada diesel atau bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik.
Ia mendorong transisi energi dari batu bara menuju sumber energi yang lebih bersih, karena dampak batu bara terhadap lingkungan dan kualitas hidup sudah semakin nyata.
Namun, transisi ini juga membutuhkan inovasi dalam model pembiayaan, yaitu menggabungkan pembiayaan komersial dengan pembiayaan sosial agar proyek-proyek energi bersih dapat berkembang secara berkelanjutan melalui pembiayaan yang jangka panjang serta membantu pemberdayaan masyarakat sejak awal.
Baca juga: BRIN: Limbah Industri Minyak Atsiri Berpotensi Diolah jadi Biobriket Energi Biomassa
“Di sisi pembiayaan, kami juga mengembangkan konsep blended finance. Konsep ini diperlukan karena proyek-proyek transisi energi umumnya memiliki karakteristik high risk dan low profit, sehingga belum menarik bagi pembiayaan komersial. Oleh karena itu, diperlukan dana filantropi sebagai modal awal, seperti zakat dan wakaf,” katanya pula.
Melalui mekanisme ini diharapkan akan menarik investor, sehingga mampu menarik masuknya dana komersial pada investasi energi terbarukan selain dari batu bara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya