KOMPAS.com - Microsoft melaporkan bahwa total emisi gas rumah kaca mereka melonjak sebesar 25 persen tahun lalu.
Kenaikan ini utamanya dipicu oleh perluasan pusat data dan pembangunan fasilitas baru yang dibutuhkan untuk mendukung layanan kecerdasan buatan (AI).
Informasi ini berasal dari Laporan Keberlanjutan Lingkungan terbaru yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut.
Melansir Edie, Senin (13/7/2026) kenaikan emisi ini menunjukkan kelanjutan tren yang sudah dimulai sejak Microsoft memperbesar skala bisnis layanan awan (cloud) dan teknologi AI mereka.
Pada tahun fiskal 2024, Microsoft melaporkan kenaikan total emisi sebesar 23 persen jika dibandingkan dengan data tahun 2020. Kenaikan terbesar terjadi pada emisi Scope 3 yaitu polusi yang berasal dari pembelian barang, jasa, serta alat-alat berat untuk pembangunan gedung pusat data dan pembuatan perangkat keras.
Baca juga: Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Akan tetapi tagihan polusi Microsoft pada tahun fiskal 2025 mencapai 20,29 juta metrik ton karbon, melonjak dari 16,22 juta metrik ton pada tahun fiskal 2024.
Laporan terbaru ini juga menunjukkan perubahan besar pada emisi Scope 2 yaitu polusi yang dihasilkan dari listrik yang dibeli dan digunakan oleh perusahaan.
Emisi Scope 2 menyumbang 13 persen dari total emisi Microsoft pada tahun fiskal 2025, melonjak drastis dibanding tahun sebelumnya yang hanya hampir 2 persen.
Microsoft menjelaskan bahwa kenaikan ini terjadi karena mereka berhenti menggunakan sertifikat energi terbarukan murah. Sekarang, mereka lebih memilih mendanai proyek yang benar-benar membangun pembangkit listrik bersih baru.
Perusahaan mengakui bahwa cara baru ini membuat angka polusi mereka terlihat naik dalam jangka pendek. Namun, langkah ini sengaja diambil demi mendukung pembangunan proyek energi bersih yang nyata, bukan sekadar membeli sertifikat di atas kertas.
Pada tahun fiskal 2025, Microsoft berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan listrik global tahunan mereka dari sumber energi terbarukan. Mereka juga telah menandatangani kontrak kerja sama untuk membangun pembangkit energi bersih baru hingga 40 gigawatt (GW) di 26 negara, di mana 19 GW di antaranya sudah mulai beroperasi.
Microsoft selama ini menjadi salah satu pembeli terbesar di pasar penyerapan karbon, tetapi aktivitas belanja mereka melambat dalam beberapa bulan terakhir.
Data dari perusahaan penilai karbon, Sylvera, menunjukkan bahwa jumlah kontrak pembelian penyerapan karbon di masa depan turun sebesar 65 persen dibanding tahun lalu. Pada paruh pertama tahun 2026, jumlahnya turun menjadi 21,52 juta ton, dari yang sebelumnya mencapai 61 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara total nilai uang dari kontrak yang diumumkan juga merosot 70 persen, dari 7,46 miliar dolar AS menjadi 2,25 miliar dolar AS.
Pengurangan belanja oleh Microsoft menjadi penyebab utama penurunan drastis di pasar ini. Sebagai perbandingan, pada paruh pertama tahun 2025, Microsoft menguasai 54,08 juta ton pembelian penyerapan karbon, yang setara dengan 88,7 persen dari total seluruh pasar dunia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya