Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT LINGKUNGAN

Ketika Industri Nikel Tumbuh Melampaui Kesiapan Infrastruktur

Kompas.com, 16 Juli 2026, 09:03 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

MOROWALI, KOMPAS.com – Taslim, Bupati Morowali periode 2018-2023, masih ingat betul wajah Bahodopi sebelum kawasan itu dipenuhi rumah indekos, pertokoan, serta hilir mudik kendaraan berat dari dan ke kawasan industri nikel.

Bahodopi, kenang Taslim, awalnya merupakan kawasan transmigrasi untuk mengembangkan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Berbeda dengan kawasan transmigrasi lain di Morowali, seperti Witaponda dan Bumi Raya, Bahodopi urung berkembang sesuai harapan karena kondisi lahan di sana kurang produktif.

Beberapa penduduk pun memilih meninggalkan Bahodopi. Sementara, mereka yang bertahan, hanya mengandalkan hasil hutan, seperti rotan dan damar, karena pilihan pekerjaan saat itu sangat terbatas.

“Ekonomi di sana (Bahodopi) sangat susah. Mau cari kerja saja susah. Jadi, orang sana (warga Bahodopi) kalau tidak ke hutan ambil rotan dan damar, tidak ada sumber ekonomi. Itulah Bahodopi awalnya,” kata Taslim saat ditemui Kompas.com, Selasa (16/6/2026).

Dimulai dari aktivitas pertambangan nikel pada medio 2000 dan operasional kawasan industri pengolahan nikel pada 2015, wajah Bahodopi pun tak lagi sama.

Nikel membuka “keran” arus migrasi ke Bahodopi, terutama selepas Presiden Indonesia 2014-2024, Joko Widodo, menetapkan Kawasan Industri Morowali PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Obyek Vital Nasional (OVN).

Jumlah penduduk kecamatan hasil pemekaran dari Bungku Selatan tersebut pun sekonyong-konyong meningkat drastis dari 7.754 jiwa pada 2019 menjadi 37.322 jiwa pada 2020 dan sekarang 45.434 jiwa, sebagaimana dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS).

Andi Muhammad Arifin, salah satu warga Bahodopi, bercerita, orangtuanya merantau dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, ke Bahodopi untuk berkebun pada 1998. Kala itu, keluarganya bergantung pada panen kakao.

Ketika perusahaan tambang mulai masuk pada 2007, lahan keluarga mereka ikut terdampak dan dibebaskan pada 2010. Dana hasil penjualan lahan itu kemudian menjadi modal untuk membangun rumah kos yang kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Saat ini, keluarga Arifin memiliki 12 kamar kos yang disewakan dengan tarif Rp 800.000 hingga Rp 1 juta per bulan. Sebagian besar penghuninya merupakan pekerja di kawasan industri nikel.

“Sekarang lima kamar untuk orangtua dan tujuh kamar untuk saya. Dulu, saat kami menjadi petani kakao, suasananya tenang. Sekarang bising, apalagi perusahaan sudah dekat, alat berat keluar masuk tiap malam. Namun, penghasilan dan perputaran uang menjadi lebih cepat,” cerita Arifin kepada Kompas.com, Jumat (19/6/2026).

Ronald juga turut merasakan perubahan tersebut. Pemilik Rumah Makan Goyang Lidah ini bercerita, Bahodopi dulu relatif sepi, tapi kini dipenuhi pendatang yang bekerja di kawasan industri.

Kedatangan para pekerja membuat permintaan terhadap makanan dan kebutuhan sehari-hari meningkat. Usaha-usaha lokal pun ikut berkembang, termasuk miliknya.

"Pelanggan di sini dominan memang karyawan tambang. Warga tetap (asli) desa ini sebenarnya sedikit. Justru yang banyak (adalah) para pendatang yang bekerja di sini, sebagian membawa anak dan istrinya," ujar Ronald.

Baca juga: Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel

Lonjakan jumlah penduduk di wilayah lingkar industri di Bahodopi turut memperbesar timbulan sampah rumah tangga di sekitar kawasan permukiman.KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Lonjakan jumlah penduduk di wilayah lingkar industri di Bahodopi turut memperbesar timbulan sampah rumah tangga di sekitar kawasan permukiman.

Infrastruktur dasar tertinggal

Sayangnya, kesiapan infrastruktur dasar di Bahodopi belum bisa mengimbangi ledakan jumlah penduduk. Hal ini pun memunculkan berbagai persoalan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau