Namun, setelah mengetahui besarnya kebutuhan kompetensi tambahan di dunia kerja serta mahalnya biaya pelatihan bahasa Jepang, ia akhirnya memutuskan mengikuti program tersebut.
"Saya menyadari, persaingan kerja sekarang tidak hanya membutuhkan IPK tinggi, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, pengalaman, dan penguasaan bahasa asing. Program ini menjadi kesempatan yang sangat berharga," katanya.
Baca juga: 17 Tahun Siapkan Kopi untuk Dosen, Kini Pramu Bakti Unsika Jadi ASN
Nawang menuturkan, saat pertama kali mengikuti kelas, ia bahkan belum mampu membaca huruf Hiragana.
Melalui proses belajar selama satu tahun bersama para pengajar dan dukungan sesama peserta, kini ia telah mampu membaca, menulis, serta berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang.
"Bagi sebagian orang (pencapaian tersebut) mungkin hal itu biasa, tetapi bagi saya itu adalah bukti bahwa usaha yang dilakukan secara konsisten pasti membuahkan hasil," ujarnya.
Tidak hanya kemampuan bahasa, ia juga memperoleh pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), filosofi Kaizen, konsep 5S Jepang, serta cara berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah.
Menurutnya, seluruh materi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan dunia industri dan menjadi bekal penting bagi mahasiswa teknik.
"Perubahan terbesar yang saya rasakan bukan hanya pada kemampuan bahasa, melainkan pada cara berpikir. Saya belajar bahwa dunia kerja membutuhkan orang yang terus mau belajar, mampu beradaptasi, berani keluar dari zona nyaman, dan tidak takut mengambil kesempatan," katanya.
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan
Kepada peserta Batch 2, Nawang berpesan agar tidak takut memulai meskipun merasa belum memiliki kemampuan yang cukup.
"Keberanian adalah tetap melangkah meskipun kita belum tahu bagaimana hasilnya. Setiap proses yang dijalani mulai hari ini akan menjadi bekal yang sangat berharga untuk masa depan," ujarnya.
Melalui Daito Class Batch 2, kolaborasi antara PT Satria Jaya Internasional, Unsika, dan Daito Trust Construction menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri mampu menghadirkan pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan global.
Program tersebut diharapkan tidak hanya membuka peluang karier bagi mahasiswa Indonesia di Jepang, tetapi juga memperkuat kualitas SDM nasional sebagai modal pembangunan menghadapi tantangan dunia kerja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya