Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Karena itu, penggunaan istilah “Indonesia akan mengalami kekeringan akibat El Nino” perlu dipahami secara lebih hati-hati.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa peluang terjadinya kekeringan meningkat di sejumlah wilayah yang memang sensitif terhadap pengaruh El Nino.
Dalam beberapa pekan terakhir, WMO menyatakan bahwa El Nino diperkirakan akan terus menguat hingga beberapa bulan mendatang.
Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, mulai dari gelombang panas di Eropa, kekeringan di Australia, hingga perubahan pola hujan di Asia Tenggara. Situasi ini tentu perlu menjadi perhatian Indonesia.
Namun, perhatian tersebut seharusnya diwujudkan melalui peningkatan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.
Negara memerlukan sistem pemantauan iklim yang mampu memberikan informasi hingga tingkat daerah sehingga langkah antisipasi dapat disesuaikan dengan kondisi lokal.
Bagi sektor pertanian, informasi mengenai awal musim hujan maupun musim kemarau jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengetahui bahwa El Nino sedang terjadi.
Petani membutuhkan rekomendasi waktu tanam, pilihan varietas, hingga pengelolaan irigasi yang sesuai dengan prakiraan iklim di wilayahnya.
Demikian pula pemerintah daerah memerlukan informasi berbasis data untuk mengantisipasi potensi kekeringan, menjaga ketersediaan air baku, serta mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, fenomena El Nino juga menjadi pengingat bahwa perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem.
Ketika tren pemanasan global bertemu dengan variabilitas iklim alami seperti El Nino, dampak yang muncul dapat menjadi lebih besar dibandingkan beberapa dekade lalu.
Oleh sebab itu, penguatan sistem adaptasi iklim harus menjadi prioritas pembangunan, mulai dari pengelolaan sumber daya air, perencanaan tata ruang, hingga pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Masyarakat pun perlu meningkatkan literasi iklim. Tidak semua hujan berarti ancaman banjir, dan tidak semua El Nino berarti kekeringan.
Memahami bahwa iklim bekerja melalui interaksi berbagai faktor akan membantu kita menyikapi setiap informasi secara lebih kritis dan rasional.
Pada akhirnya, El Nino memang patut diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti secara berlebihan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat mampu memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan.
Sebab yang menentukan besarnya dampak bukan hanya seberapa kuat El Nino terjadi, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya