Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim

Kompas.com, 21 Juli 2026, 09:03 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Stadion perlu direnovasi agar mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang memicu gelombang panas semakin sering dan intens.

Dibandingkan membongkar bangunan lama lalu membangun stadion baru, renovasi dinilai lebih hemat biaya sekaligus lebih ramah lingkungan.

CEO perusahaan konsultan lingkungan SaveMoneyCutCarbon, Mark Sait, mengatakan peningkatan performa bangunan seharusnya menjadi langkah pertama sebelum menambah penggunaan pendingin udara.

"Intinya, renovasi harus membuat stadion berkinerja lebih baik sebelum menambahkan lebih banyak pendingin udara. Jika dilakukan dengan benar, hal itu dapat mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu, menekan biaya operasional, serta menciptakan ruang yang lebih sejuk dan aman bagi penggemar, staf, dan pemain," ujar Sait, dikutip dari Euronews, Senin (20/7/2026).

Baca juga: Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim

Menurut dia, sejumlah teknologi bangunan dapat diterapkan untuk menurunkan suhu stadion. Salah satunya adalah penggunaan cool roof atau atap dingin, yaitu pelapisan atap menggunakan cat berwarna putih atau material reflektif yang mampu memantulkan panas matahari sehingga mengurangi penyerapan panas.

Teknologi lain yang dapat diterapkan ialah kaca pengontrol surya (solar control glass), yang memantulkan radiasi inframerah penyebab panas tetapi tetap memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam stadion.

Selain membantu menurunkan suhu, material tersebut juga dapat mengurangi silau tanpa menggelapkan lapangan.

Efektivitas teknologi atap reflektif sebelumnya juga ditunjukkan dalam studi University College London (UCL) dan Universitas Exeter pada 2024.

Penelitian itu menemukan bahwa penerapan cool roof secara luas berpotensi menurunkan suhu Kota London hingga sekitar 0,8 derajat Celsius selama gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi pada musim panas 2018.

Dampak ke stadion

Urgensi adaptasi stadion terhadap perubahan iklim semakin mengemuka setelah penyelenggaraan Piala Dunia 2026 bertepatan dengan gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah di Amerika Utara.

Amerika Serikat, salah satu tuan rumah turnamen tersebut, mengalami suhu udara yang dalam beberapa pekan mencapai hampir 40 derajat Celsius.

Menurut Sait, jika sebuah stadion tidak mampu memberikan kondisi yang aman bagi pemain maupun penonton pada jam tertentu, penyelenggara memang dapat memindahkan pertandingan ke malam hari. Namun, penyesuaian jadwal hanya menjadi solusi sementara.

"Jika sebuah stadion tidak dapat beroperasi dengan aman pada waktu tertentu dalam sehari, maka jadwal pertandingan memang perlu diubah. Namun, penjadwalan ulang hanyalah sebagian dari solusi," ujarnya.

Dampak suhu tinggi terlihat saat pertandingan Prancis melawan Paraguay di Stadion Philadelphia pada 5 Juli 2026. Saat itu suhu udara mencapai sekitar 38 derajat Celsius, sementara suhu di permukaan lapangan diperkirakan melebihi 43 derajat Celsius.

Ahli meteorologi Climate Central, Shel Winkley, mengatakan desain stadion terbuka justru dapat memperburuk paparan panas karena aliran udara terbatas, sementara permukaan beton dan baja menyerap panas dalam jumlah besar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau