Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Larangan Pemusnahan Pakaian Tak Terjual Resmi Berlaku di Uni Eropa

Kompas.com, 23 Juli 2026, 13:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber DW

KOMPAS.com - Larangan membuang atau memusnahkan pakaian dan sepatu yang tidak terjual, resmi berlaku di seluruh Uni Eropa pada hari Minggu, (19/7/2026). Ini adalah langkah terbaru Uni Eropa untuk mengurangi limbah.

Setiap tahunnya, ratusan ribu ton pakaian dihancurkan di 27 negara anggota Uni Eropa karena rusak, stok lama, atau hasil pengembalian barang dari belanja daring.

Aturan baru ini diperkirakan akan berdampak besar pada toko eceran fesyen skala besar, pedagang grosir, dan pabrik pakaian, yang mana hanya 20 persen dari total pakaian tersebut dibuat di wilayah Uni Eropa.

Melansir DW, Minggu (19/7/2026) di bawah Aturan Desain Ramah Lingkungan untuk Produk Berkelanjutan Uni Eropa, perusahaan besar dengan lebih dari 250 karyawan dan pendapatan di atas 50 juta Euro dilarang memusnahkan stok pakaian, aksesori, dan sepatu yang tidak terjual.

Perusahaan-perusahaan ini sekarang harus mencari cara untuk tetap menjual produk tersebut misalnya lewat diskon, menjual ke pasar lain, atau mendonasikannya ke lembaga amal.

Baca juga: Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon

Pakaian yang tidak terjual hanya boleh dihancurkan jika barang tersebut terbukti tidak aman, rusak, barang palsu, atau ditolak oleh lembaga amal.

Selain itu, perusahaan kini wajib menerbitkan laporan tahunan tentang barang-barang yang mereka buang dan menyimpan catatannya selama lima tahun.

Aturan yang sudah disetujui di Brussels sejak dua tahun lalu ini nantinya juga akan diberlakukan untuk perusahaan skala menengah mulai tahun 2030.

Kekhawatiran tentang fast fashion

Kekhawatiran tentang fast fashion, yaitu pakaian murah berkualitas rendah yang diproduksi secara massal, meningkat drastis dalam sepuluh tahun terakhir.

Menurut Badan Lingkungan Eropa (EEA), sekitar 4 persen hingga 9 persen produk tekstil yang tidak terjual dihancurkan setiap tahunnya.

Limbah ini makin menumpuk akibat pesatnya pertumbuhan belanja online dan pengembalian barang.

Di seluruh wilayah Uni Eropa, satu dari lima barang fesyen yang dibeli secara online akhirnya dikembalikan ke toko dan tidak dijual kembali.

Jika digabungkan, semua ini menghasilkan ratusan ribu ton pakaian, aksesori, dan sepatu yang terbuang sia-sia.

Aturan baru ini bertujuan untuk membantu mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, karena pembakaran jutaan pakaian merusak upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

Negara-negara Uni Eropa juga didesak untuk memperhatikan limbah bahan baku, air, energi, dan transportasi di sektor pakaian, serta mendorong kegiatan daur ulang dan penggunaan ulang produk.

EEA juga menyatakan bahwa Uni Eropa ingin industri tekstil menjadi lebih ramah lingkungan.

"Ekonomi sirkular di mana produk dirancang agar tahan lama, serta bisa dipakai ulang, diperbaiki, dan didaur ulang bukan lagi sekadar impian, tetapi kini sudah resmi menjadi hukum," tulis EEA.

Baca juga: Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...

Selama ini, industri fesyen kerap membela diri. Mereka beralasan bahwa membuang pakaian sering kali jauh lebih murah daripada menyimpan, memperbaiki, atau menjualnya dengan harga diskon.

Tanggapan terhadap larangan

Federasi Ritel Jerman (HDE) menyatakan bahwa konsumen akan diuntungkan oleh larangan ini, karena akan makin banyak pakaian diskon yang dijual melalui toko outlet, pasar obral, dan saluran barang bekas.

Namun, Direktur Pelaksana HDE, Stefan Genth, mengingatkan bahwa perubahan aturan ini akan menjadi tantangan berat bagi banyak toko.

"Tidak semua barang yang tidak terjual bisa dijual kembali atau didonasikan dengan mudah," ujarnya.

Hal ini disebabkan oleh kemasan yang rusak, biaya pengiriman yang mahal, kurangnya peminat, atau nilai produk yang terlalu murah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau