Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dino Patti Djalal Minta Aksi Iklim Pemerintah Disetarakan dengan Program MBG

Kompas.com, 23 Juli 2026, 11:09 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Target Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2045 berisiko tidak tercapai apabila dampak perubahan iklim tidak menjadi bagian utama dalam perencanaan pembangunan nasional.

Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terganggu apabila dunia gagal menahan laju pemanasan global.

Untuk itu,‎ ia meminta pemerintah untuk memiliki prioritas mitigasi perubahan iklim, sebagaimana program makan bergizi gratis .

Baca juga: Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim

"Saya jamin, jika suhu bumi naik 2 sampai 3 derajat Celsius, semua kalkulasi kejayaan Indonesia 2045 akan buyar. Infrastruktur yang kita bangun dan pertumbuhan kelas menengah yang kita impikan akan terdampak oleh bencana iklim," ujar Dino dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Ia mengatakan dunia saat ini bergerak menuju kenaikan suhu global sekitar 2,6 hingga 3 derajat Celsius berdasarkan komitmen pengurangan emisi yang telah disampaikan berbagai negara melalui Nationally Determined Contributions (NDC).

Padahal, menurut dia, Perjanjian Paris menargetkan kenaikan suhu global tidak melebihi 1,5 derajat Celsius untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Dino mencontohkan, kenaikan suhu global hingga 2 derajat Celsius diperkirakan menyebabkan sekitar 99 persen terumbu karang dunia mati, sekaligus meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Ia juga mengingatkan bahwa dunia memiliki sisa anggaran karbon (carbon budget) yang semakin terbatas untuk menjaga kenaikan suhu global.

Menurut Dino, sisa anggaran karbon dunia saat ini sekitar 170 gigaton karbon dioksida (CO2), sementara emisi global mencapai sekitar 42 gigaton CO2 setiap tahun.

"Artinya, kita memiliki waktu yang semakin terbatas untuk menurunkan emisi. Namun, emisi global justru masih terus meningkat," katanya.

Karena itu, Dino menilai upaya pengurangan emisi perlu dilakukan secara kolektif oleh seluruh negara.

Masukkan skenario iklim dalam strategi pembangunan

Ia juga mendorong pemerintah memasukkan skenario dampak kenaikan suhu global ke dalam perencanaan pembangunan nasional, termasuk dalam pelaksanaan visi Indonesia Emas 2045.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur, kebijakan ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan perlu dirancang dengan mempertimbangkan risiko perubahan iklim yang semakin besar.

Selain itu, Dino meminta pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih melalui pengembangan energi terbarukan.

Baca juga: Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun

Ia menilai target pembangunan pembangkit energi terbarukan berkapasitas 100 gigawatt (GW) perlu segera direalisasikan agar Indonesia dapat mengurangi emisi sekaligus meningkatkan ketahanan energi.

Dino mengatakan dekade 2020–2030 menjadi periode yang sangat menentukan bagi upaya menekan laju perubahan iklim.

"Kita adalah generasi terakhir yang masih memiliki kesempatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Jika gagal memanfaatkan dekade ini, tantangan yang dihadapi generasi berikutnya akan jauh lebih besar," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau