KOMPAS.com - Studi baru yang dipimpin oleh para peneliti Jepang dari Tohoku University dan National Institute for Environmental Studies (NIES) mengungkapkan bahwa beberapa jenis mineral penting untuk teknologi ramah lingkungan justru dapat merusak keanekaragaman hayati secara signifikan.
Dengan menganalisis sekitar 70.000 lokasi tambang dari 20 jenis komoditas, studi ini menemukan bahwa aktivitas penambangan telah melenyapkan 16.268 km² hutan antara tahun 2001 hingga 2022.
Sebagian besar kerusakan tersebut terjadi di hutan hujan tropis kawasan Amazon, Asia Tenggara, dan Cekungan Kongo.
Kini, dengan menggunakan citra satelit dan kecerdasan buatan, para ilmuwan berhasil membuat peta global tambang komoditas pertama yang paling lengkap.
Baca juga: Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Melansir Phys, Kamis (23/7/2026) berdasarkan gabungan peta ini dan data publik tentang kerusakan hutan serta risiko kepunahan spesies, mereka mengukur sejauh mana penambangan bahan-bahan tersebut mengubah wajah hutan dan merusak keanekaragaman hayati di seluruh dunia.
Rincian hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.
"Kemajuan teknologi satelit dan kecerdasan buatan memberi kita cara baru untuk menganalisis dampak tambang secara otomatis di tingkat dunia. Peralihan ke teknologi ramah lingkungan memang meningkatkan permintaan akan jenis mineral baru, tetapi data yang kita miliki saat ini masih belum cukup untuk memahami dampak lingkungannya secara utuh," jelas Keiichiro Kanemoto, profesor madya di Tohoku University sekaligus penulis studi tersebut.
Meskipun studi ini menunjukkan bahwa bahan tambang seperti emas dan batu bara masih menjadi penyebab utama penggundulan hutan, gambaran berbeda muncul ketika kita melihat dampaknya pada keanekaragaman hayati.
Mineral energi hijau seperti litium ternyata membawa risiko kerusakan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, meskipun tidak banyak merusak atau menebang pohon di hutan.
Perbedaan ini menunjukkan perubahan yang penting yakni jika tambang tradisional merusak alam lewat penggundulan hutan skala besar, penambangan mineral untuk transisi energi justru merusak lingkungan dengan cara yang lebih halus namun dampaknya sama seramnya bagi ekosistem yang rentan.
Sebagai contoh, penambangan litium di area danau garam dan lahan basah dapat mengganggu ekosistem yang rapuh dan mengancam kepunahan spesies, meskipun secara kasat mata tidak ada hutan yang ditebang.
Mineral seperti litium, kobalt, dan nikel sangat dibutuhkan untuk baterai mobil listrik serta penyimpan energi terbarukan.
Namun, penambangannya dapat merusak lingkungan secara serius. Temuan ini menegaskan pentingnya menyeimbangkan target penurunan emisi dengan perlindungan keanekaragaman hayati, terutama karena permintaan bahan-bahan ini diprediksi akan terus melonjak dalam beberapa dekade ke depan.
Baca juga: Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
Data yang dihasilkan dari penelitian ini pun memberi masukan berharga bagi pembuat kebijakan dan pemimpin industri. Pemerintah bisa menggunakan data ini untuk merancang aturan lingkungan yang lebih tepat sasaran sesuai jenis bahan tambang, sementara perusahaan bisa mengantisipasi perubahan aturan dan menilai risiko dalam rantai pasok mereka.
Dengan mengetahui bahan tambang dan wilayah mana yang paling merusak lingkungan, riset ini membantu pengambilan keputusan yang lebih bijak demi penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.
"Penelitian ini merupakan langkah maju yang penting untuk memahami dampak nyata penambangan di tingkat global. Riset ini membuktikan bahwa jalan menuju masa depan yang lebih hijau juga harus memperhitungkan risiko lingkungan tersembunyi dari bahan-bahan yang kita gunakan," tambah Kanemoto.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya