Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara

Kompas.com, 27 Juli 2026, 20:43 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Keberadaan pusat data yang dapat beroperasi dengan stabil kini menjadi hal yang sangat penting bagi hampir semua bidang kehidupan modern, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, jaringan listrik, perbankan, pertahanan, hingga penanganan bencana.

Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports oleh tim ilmuwan atmosfer dari Universitas Hawai'i (UH) di M?noa mengungkapkan bahwa perubahan iklim di masa depan dapat menyulitkan penggunaan salah satu metode pendinginan pusat data yang paling murah dan paling hemat energi.

Melansir Phys, Jumat (26/6/2026) tim peneliti yang dipimpin oleh Christina Karamperidou, profesor ilmu atmosfer di UH M?noa, menganalisis data suhu dan tingkat kelembapan udara di seluruh dunia baik masa lalu maupun perkiraan masa depan.

Mereka kemudian membandingkan data tersebut dengan syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem "direct air free cooling" yaitu metode pendinginan gedung atau peralatan yang memanfaatkan udara dingin alami dari luar secara langsung.

Baca juga: Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan

"Kami menemukan bahwa masa-masa di mana suhu dan kelembapan udara melewati batas aman pendinginan alami kini terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama di banyak wilayah," kata Karamperidou.

"Hal ini akan mengurangi kesempatan penggunaan pendinginan alami bagi makin banyaknya data center di seluruh dunia," paparnya lagi.

Dalam studinya, Karamperidou dan timnya menggabungkan data cuaca per jam yang sangat rinci, simulasi model iklim, serta peta lokasi pusat data di seluruh dunia. Langkah ini memungkinkan mereka untuk mengukur seberapa sering kondisi udara luar melewati batas aman pendinginan alami, baik dari data sejarah masa lalu maupun perkiraan iklim di masa depan.

Dengan menganalisis kumpulan data dari seluruh dunia, para peneliti berhasil menemukan pola dan tren besar yang tidak akan terlihat jika penelitian hanya berfokus pada satu atau dua lokasi saja.

Udara lembab meningkat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 45 tahun terakhir, jumlah jam dengan kondisi udara yang terlalu panas dan lembap telah meningkat secara signifikan sehingga tidak bisa menggunakan pendingin udara alami. Itu terutama terjadi di daerah tropis dan wilayah tenggara Amerika Serikat.

Analisis di tingkat lokasi dan pasar juga memperlihatkan bahwa makin banyak data center yang menghadapi udara panas dan lembap selama setidaknya tiga bulan dalam setahun. Perkiraan hingga pertengahan abad ini menunjukkan bahwa keterbatasan ini akan terus meluas seiring meningkatnya suhu dan kelembapan Bumi.

Salah satu temuan utama mereka adalah bahwa perubahan terbesar tidak selalu terlihat pada kondisi cuaca rata-rata harian. Di beberapa wilayah, kondisi pada hari-hari dengan cuaca terburuk justru memburuk jauh lebih cepat daripada cuaca rata-rata. Ini menunjukkan bahwa tekanan lingkungan makin menumpuk pada peristiwa-peristiwa langka namun berdampak besar.

"Dari sudut pandang operasional, hari-hari dengan cuaca terburuk itulah yang biasanya menjadi penentu dalam perencanaan darurat, pengalihan sistem, penyediaan sistem cadangan, dan keputusan keandalan," jelas Karamperidou.

Baca juga: Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim

"Ini berarti perencanaan infrastruktur tidak boleh hanya melihat cuaca rata-rata, tetapi juga harus memperhitungkan bagaimana hari-hari yang paling ekstrem tersebut berubah dari waktu ke waktu," terangnya

Lebih lanjut, gabungan dari berbagai faktor tersebut pun kini menciptakan tantangan besar bagi masyarakat. Di tengah melonjaknya penggunaan kecerdasan buatan (AI), kebutuhan akan data center terus meningkat, justru di saat perubahan iklim makin membatasi cara pendinginan yang hemat energi. Memahami perubahan ini sangat penting demi keberlangsungan dan ketahanan jangka panjang.

"Penelitian kami membahas masalah yang berada di titik pertemuan antara iklim, teknologi komputer, energi, serta sumber daya air," kata Karamperidou.

"Kami berharap studi ini dapat membantu menentukan di mana teknologi baru dan metode pendinginan mutakhir bisa menjadi solusi atas pilihan sulit antara keandalan sistem, penggunaan energi, dan pemakaian air," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau