Teknologi ini mampu mendeteksi partikel plastik yang ukurannya sangat kecil, jenis plastik yang pasti akan lolos dan tidak terdeteksi oleh alat penguji versi lama.
Lebih lanjut, belum ada yang tahu pasti bagaimana plastik-plastik ini bisa sampai di sana. Namun, para peneliti menduga pencemaran ini kemungkinan berasal dari gabungan beberapa sumber.
Sebagian pencemaran mungkin berasal dari stasiun-stasiun penelitian yang ada di Antartika sendiri. Sementara itu, partikel lainnya kemungkinan telah terbawa angin melintasi jarak yang sangat jauh melalui atmosfer sebelum akhirnya mengendap di dalam tanah.
Untuk mengetahui secara pasti berapa banyak kontribusi dari masing-masing sumber tersebut, serta apa dampaknya bagi ekosistem yang sebelumnya hampir tidak pernah tersentuh plastik, masih diperlukan lebih banyak penelitian lanjutan.
"Bukti ini menunjukkan bahwa tanah di salah satu lingkungan paling murni di Bumi pun tidak bebas dari pencemaran plastik," ujar Nhu Phan, penulis utama studi.
"Temuan ini menegaskan perlunya penelitian mendesak mengenai ke mana arah pergerakan plastik, bagaimana cara berpindahnya, serta apa dampaknya bagi ekosistem di wilayah kutub," paparnya.
Para peneliti benar-benar khawatir tentang apa arti temuan ini bagi ekosistem Antartika.
Lingkungan kutub sebenarnya bisa jadi jauh lebih rentan terhadap pencemaran plastik dibandingkan wilayah yang lebih hangat. Hewan tak bertulang belakang seperti serangga kecil atau cacing yang hidup di sana memiliki metabolisme dan pertumbuhan yang cenderung lebih lambat.
Ciri-ciri tersebut membuat hewan-hewan di Antartika lebih sulit beradaptasi dan lebih mudah terkena dampak zat kimia berbahaya yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.
"Temuan kami meningkatkan kekhawatiran mengenai sejauh mana jangkauan pencemaran plastik di seluruh dunia," kata salah satu penulis penelitian, Crispin Halsall dari Lancaster University.
"Masih belum jelas apakah partikel nanoplastik yang sangat halus ini terbawa oleh angin dari tempat yang sangat jauh, atau berasal dari sampah plastik besar di pantai Antartika yang hancur terkikis cuaca," katanya lagi.
Jika sebagian besar plastiknya berasal dari lokal, membersihkan stasiun penelitian dan memperketat aturan sampah di Antartika tentu bisa sangat membantu.
Namun, jika plastik tersebut terbawa angin dari berbagai belahan dunia, pembersihan di tingkat lokal saja tidak akan pernah cukup.
Solusinya harus dilakukan dalam skala yang jauh lebih besar, yaitu dari tempat mana pun plastik itu berasal sejak awal.
Baca juga: Kerugian akibat Polusi Plastik Diperkirakan Capai Rp 44.340 Triliun Per Tahun
Para peneliti menegaskan bahwa hasil temuan mereka menunjukkan perlunya kerja sama internasional yang mendesak untuk mengurangi sampah plastik di seluruh dunia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya