KOMPAS.com - Enam perusahaan bahan bakar fosil terbesar di dunia diperkirakan akan mencetak lonjakan keuntungan bersih dua kali lipat, dari 23 miliar dolar AS pada kuartal lalu menjadi 45 miliar dolar AS, menurut laporan Oxfam.
Laporan keuntungan setahun penuh dari BP, Chevron, Eni, ExxonMobil, Shell, dan TotalEnergies diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang.
Melansir Edie, Selasa (28/7/2026) riset Oxfam, yang mengacu pada data dan perkiraan S&P Capital IQ kemudian menyebutkan bahwa total keuntungan mereka akan mencapai 147 miliar dolar AS, lebih besar dibanding gabungan keuntungan mereka selama 21 bulan sebelumnya.
Oxfam juga menyatakan bahwa lonjakan keuntungan ini berjalan seiring dengan meningkatnya emisi karbon.
Analisis Oxfam terhadap data akademis yang terbit di jurnal Nature menemukan bahwa emisi dari keenam perusahaan ini cukup untuk memicu sekitar seperempat dari gelombang panas yang terjadi di seluruh dunia antara tahun 2000 dan 2023.
Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
"Perusahaan bahan bakar fosil mengeruk keuntungan besar di atas penderitaan banyak orang. Saat gelombang panas ekstrem, banjir, dan badai menghancurkan pemukiman warga di seluruh dunia, industri ini malah bersiap menikmati panen keuntungan," kata Mariana Paoli, Pemimpin Kebijakan Iklim Oxfam.
"Masyarakat harus menanggung kerugian hingga tiga kali lipat yakni akibat rumah dan hasil panen yang hancur, harga energi yang melonjak, serta krisis biaya hidup yang makin parah karena ketergantungan pada bahan bakar fosil. Keserakahan perusahaan minyak raksasa ini merusak masa depan bumi, dan jika pemerintah tidak segera membatasinya, target iklim dunia hanya akan jadi omong kosong belaka," paparnya lagi.
Menurut laporan The Guardian, 100 perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia mengantongi keuntungan sebesar 30 juta dolar AS per jam pada bulan pertama perang di Iran.
Selain itu, Oxfam menilai juga bahwa pajak atas keuntungan perusahaan bahan bakar fosil bisa mengumpulkan dana hingga 400 miliar dolar AS di tahun pertama. Jumlah ini dinilai cukup untuk membiayai seluruh adaptasi iklim tahunan di negara-negara berkembang.
Nilai tersebut bahkan bisa mencapai 680 miliar dolar AS secara global jika pajak atas keuntungan berlebih ini diterapkan ke seluruh perusahaan raksasa.
Skenario Announced Pledge Scenario (APS) dari Badan Energi Internasional (IEA) yang mengasumsikan negara dan industri menepati janji iklim mereka mencatat bahwa permintaan minyak dan gas seharusnya turun rata-rata 2 persen setiap tahun hingga 2050.
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Sementara itu, untuk mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2050, penurunan permintaan minyak dan gas harus lebih drastis, yaitu rata-rata di atas 5 persen per tahun hingga pertengahan abad ini.
Namun, riset terbaru dari London School of Economics and Political Science (LSE) justru mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil terkemuka malah berencana meningkatkan jumlah produksinya.
Para peneliti memperkirakan bahwa total produksi dari 11 perusahaan yang terbuka menyampaikan datanya akan mencapai 26,16 juta barel setara minyak per hari pada tahun 2030.
Ini menunjukkan kenaikan sebesar 14 persen dibandingkan tingkat produksi tahun 2024 yang tercatat sebesar 22,90 juta barel per hari.
Proyeksi kenaikan produksi yang dipetakan oleh tim TPI Centre ini bahkan melebihi perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dan gas dunia sebesar 5,9 persen untuk periode 2024–2030 dalam skenario IEA Current Policies Scenario (CPS).
Itu merupakan sebuah skenario yang dampaknya saja sudah diperkirakan bakal menaikkan suhu rata-rata bumi sebesar 2,9 derajat C pada tahun 2100.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya